Wayang golek, kesenian boneka dari tanah Pasundan. Wajah wayang ini terbuat dari kayu yang diukir dan diwarnai. Normalnya ukuran wayang yang dimainkan oleh dalang itu setinggi kurang dari setengah meter atau ketika dimainkan akan menutupi siku sang dalang. Wayang seperti yang dijajakan pedagang di lokasi wisata ini adalah ukuran normal.

wayang golek Sunda

 

Wayang golek bermuka merah ini bernama Cepot, salah satu tokoh punakawan, yang berwajah putih ini siapa namanya. Si Bagong bukan ya ? Ada yang bisa bantu ?

wayang golek Sunda

 

Di Kampung Strawberry dipajang kedua wayang tadi di pintu masuk ruang makan. Tokoh wayang ini berukuran besar, sedikit lebih tinggi dariku. Kehadiran mereka membuat para ibu berebut ingin diabadikan bersama.Saking bersemangatnya menggandeng si Cepot, tangan kirinya sempat terlepas, untung saja tak dimarahi petugas, dan masih bisa dipasangkan kembali.

wayang golek Sunda

 

Wayang golek ini bisa dimainkan siang hari, karena berukuran tiga dimensi, tak seperti wayang kulit, yang dilihat adalah bayangan yang timbul di layar. Pertunjukan wayang golek hanya pernah kusaksikan di layar televisi. Dulu, ada pertunjukan wayang golek modern oleh dalang terkenal Asep Sunandar Sunarya. Wayang golek bisa bersin, bisa merokok. Ceritanya lucu, meskipun tak paham bahasa Sunda, tapi bisa kunikmati dari gerakan dan intonasi sang dalang.

Foto di bawah ini adalah pertunjukan wayang kulit Betawi di Museum Wayang Jakarta. Wayang Betawi ini mirip dengan wayang di Jawa Tengah dan Jawa Timur, hanya bahasa pengantarnya yang berbeda.Wayang yang pernah kutonton hanya wayang Betawi dan Jawa saja, wayang Batak yang bernama Si Gale-gale malah belum pernah.

Teman,mau cerita pengalaman nonton wayang?

nonton wayang