Tour de Ranah Minang II plus baralek masih berlanjut. Tiga hari setelah pesta pernikahan tamu-tamu blogger diantarkan oleh pasangan pengantin baru. Hari ini kami berencana ke Istana Baso Pagaruyuang, dan Padang.

Di perjalanan yang melewati kota Batusangkar kami sempat mampir di bekas Benteng van der Cappelen yang kini difungsikan sebagai salah satu kantor instansi pemerintahan. Iya, sang tuan rumah yang sudah paham minat wisata teman-temannya sengaja mengajak singgah ke benteng  yang terlewat di saat perjalanan sebelumnya.

Kami juga mampir di kompleks pemakaman Raja-raja Pagaruyung, namanya Ustano Raja Alam.  Kompleks ini kurang lebih terletak 4 km dari pusat kota Batusangkar. Di pemakaman ini ada poho-pohon beringin besar yang terihat sudah sangat tua. Makam hanya ditandai dengan batu nisan biasa.

ustano Raja Alam Batusangkar

 

IMG_6466

 

IMG_6471

Keterangan di plang penanda : Luas komplek 163,9 m.Di kawasan ini bermakan Raja-raja Pagaruyung. Terletak 100 meter dari sebelah selatan komplek prasasti Adityawarman. Terdiri dari 13 makam yang ukuran bervariasi. Panjang antara 210-400 cm dan lebar antara 115 – 280 cm dengan tinggi antara 35-45 cm. Makam memanjang dari utara selatan yang merupakan ciri khas pemakaman Islam. Jirat terbuat dari batu kali yang disusun dan direkat dengan semen. Nisan berbentuk menhir, beberapa di antaranya berhias motif geometris, garis dan saluran-saluran. Ada juga yang polos tanpa hiasan. Luas kawasan ini adalah 1196 m2.

Foto berikut ini adalah Batu Kasu, terletak di bagian depan ustano. Menurut cerita batu ini adalah tempat ujian calon raja. Calon raja harus bermalam di atas batu yang beralas daun jelatang (daun yang bermiang dan menimbulkan rasa gatal)

IMG_6468

Ustano Raja Alam

 

Uniknya di sini selain ada plang informasi dan plang cagar budaya, ada juga plang peringatan agar ziarah makam ini  tak dijadikan  ajang untuk berbuat syirik , yaitu  memohon sesuatu pada kuburan.