Kampung di tepi Danau Maninjau

Desa Sungai Batang di tepian Danau Maninjau

Foto Masjid Tuo Kayu Jao dipilih oleh Sikiky menjadi pemenang Turnamen bertema Rumah Ibadah, terima kasih ya. Senang sekali pejalan random sepertiku bisa menjadi host putaran berikutnya, walau jadi galau memilih tema, he..he…. Akhirnya setelah bolak-balik melihat foto-foto lama kuambil tema “KAMPUNG”. Alasannya karena suasana kampung itu selalu bisa menentramkan.

Ok…tak sabar menunggu kiriman foto-foto cantik dari kalian semuanya.

  TATA CARA MENGIKUTI TURNAMEN FOTO PERJALANAN

  1. Turnamen Foto Perjalanan ini berlangsung dari tanggal 21 Januari 2014 s/d 28 Januari 2014 hingga pukul 23.59 WIB
  2. Foto HARUS merupakan hasil jepretan alias karya kamu sendiri
  3. Upload foto Anda di media apa saja. Boleh web, blog, Flickr, Picasa, Photobucket, dll.
  4. Submit foto pada kolom comment artikel ini dengan format berikut :
  • Nama/nama blog (akun Twitter bila ada)
  • Link blog
  • Judul/keterangan foto (maksimal 1 paragraf)
  • Link foto (ukuran foto maksimal 600 pixel pada sisi terpanjang)
  1. Ada kemungkinan foto yang kamu kirim akan di-rehost di web tuan rumah. Terutama kalau terlalu besar atau bermasalah.
  2. Submisi lebih cepat lebih baik, sehingga fotomu bisa tertampil seatas mungkin. :)
  3. Foto yang tidak patut, tidak akan di-upload disini, sesuai kebijaksanaan tuan rumah (misal : mengandung kebencian, menyinggung SARA, nyeleneh, menghina pihak lain)
  4. Foto tidak diperkenankan dalam bentuk kolase
  5. Pengumuman pemenang : 2-3 hari setelah batas masa submisi
  6. Foto akan dipampang di dalam post setiap harinya berdasarkan antrian submit di jurnal ini.

TURNAMEN FOTO PERJALANAN UNTUK TRAVELLER INDONESIA

Mengapa mengikuti Turnamen Foto Perjalanan?

  • Ajang sharing foto. Bersama, para travel blogger Indonesia membuat album-album perjalanan yang indah. Yang tersebar dalam ronde-ronde turnamen ini. Untuk dinikmati para pencinta perjalanan lainnya.
  • Kesempatan jadi pemenang. Pemenang tiap ronde menjadi tuan rumah ronde berikutnya. Plus, blog dan temamu (dengan link ybs) akan tercantum dalam daftar turnamen yang dimuat di setiap ronde yang mendatang. Not a bad publication.

Siapa yang bisa ikut?

  • (Travel) blogger – Tak terbatas pada travel blogger profesional, blogger random yang suka perjalanan juga boleh ikut.
  • Setiap blog hanya boleh mengirimkan 1 foto. Misal DuaRansel yang terdiri dari Ryan dan Dina (2 orang) hanya boleh mengirim 1 foto total.
  • Pemenang berkewajiban menyelenggarakan ronde berikutnya di (travel) blog pribadinya, dalam kurun 1 minggu. Dengan demikian, roda turnamen tetap berputar.
  • Panduan bagi tuan rumah baru akan diinformasikan pada pengumuman pemenang. Jika pemenang tidak sanggup menjadi tuan rumah baru, pemenang lain akan ditunjuk.

Nggak punya blog tapi ingin ikutan?

  • Oke deh, ga apa-apa, kirim sini fotomu. Tapi partisipasimu hanya sebatas penyumbang foto saja. Kamu nggak bisa menang karena kamu nggak bisa jadi tuan rumah ronde berikutnya.
  • Eh tapi, kenapa nggak bikin travel blog baru aja sekalian? WordPress, Tumblr, dan Blogspot gampang kok, pakainya.

Hak dan kewajiban tuan rumah:

  • Menyelenggarakan ronde Turnamen Foto Perjalanan di blog-nya
  • Memilih tema
  • Melalui social media, mengajak para blogger lain untuk berpartisipasi
  • Meng-upload foto-foto yang masuk
  • Memilih pemenang (boleh dengan alasan apapun)
  • Menginformasikan pemenang baru apa yang perlu mereka lakukan

Ronde Turnamen Foto Perjalanan:

  1. Laut – DuaRansel
  2. Kuliner – A Border that breaks!
  3. Potret – Wira Nurmansyah
  4. Senja – Giri Prasetyo
  5. Pasar – Dwi Putri Ratnasari
  6. Kota – Mainmakan
  7. Hello, Human! (Manusia) – Windy Ariestanty
  8. Colour Up Your Life – Jalan2liburan
  9. Anak-Anak – Farli Sukanto
  10. Dia dan Binatang – Made Tozan Mimba
  11. Culture & Heritage – Noni Khairani
  12. Fotografer – Danan Wahyu Sumirat
  13. Malam – Noerazhka
  14. Transportasi – Titik
  15. Pasangan – Dansapar
  16. Pelarian/Escapism – Febry Fawzi
  17. Ocean Creatures – Danar Tri Atmojo
  18. Hutan – Regy Kurniawan
  19. Moment – Bem
  20. Festival/Tarian – Yoesrianto Tahir
  21. Jalanan – PergiDulu
  22. Matahari – Niken Andriani
  23. Burung – The Traveling Precils
  24. Sepeda – Mindoel
  25. Freedom – Pratiwi Hamdhana AM
  26. Skyfall – Muhammad Julindra
  27. Jembatan – Backpackology
  28. Tuhan – Efenerr
  29. Gunung – Elisabeth Murni
  30. Batas – Ayu Welirang
  31. Jejak- Daru Aji
  32. Sungai – Omnduut
  33. Rumah Ibadah – Sikiky
  34. Kampung – Monda
  35. Bisa jadi kamu…iya kamu ;)

Ok, ditunggu partisipasi-nya

DAFTAR PESERTA

1. Kaka Akin / @kakaakin

 

Ikan yang dijemur, memberi kontribusi terhadap aroma kampung nelayan

2. Dee An/@dieend18

 

 

Tinggal di daerah kepulauan, membuat aku tak asing dengan pemandangan ini. Rumah apung khas kampung nelayan. Aku selalu antusias dengan sapaan khas dari kampung nelayan seperti ini. Rumah-rumah panggung yang berdinding bilah papan berjajar manis di tepi pantai. Lengkap dengan suara debur ombak yang menghantam kayu-kayu penopang rumahnya. Apabila ditambah dengan hembusan angin yang semilir dan kicau burung, maka sempurnalah sambutan dari kampung nelayan ini.

3. Nurul NOE / @NurullNoe

 

Jalan setapak itu terbuat dari batu, berundak-undak, meliuk, menghubungkan satu kampung dengan kampung lainnya di Tanah Adat Baduy. Dijalari semak, dipagari tanaman dan pohon-pohon yang menghijau. Dan sepasang kaki yang telanjang itu tak kenal lelah menyusurinya. Memanduku, membawakan ransel dan memanggul anakku. Kami, yang ingin menikmati harmoni di Kampung Baduy, pada 28 September 2013.

4. Orin / @rindrianie

 

 

Tungku batu bata ini terletak di halaman belakang rumah orang tua saya di Majalengka sana

5. @efenerr

 

 

 

 

Kampung ini adalah kampung adat di Tasikmalaya, sejarahnya gelap karena ikut tenggelam karena dijarah gerombolan DI/TII.

6. Agung Rangga (@GungRangga)

 

 

 

Pemandangan asri siang hari dari desa yang terletak di kaki Gunung Agung, Bali.

7.. noerazhka / @noerazhka

IMG_2415

 

Dulu, saya pikir, saya hanya akan melihat satu dua rumah adat Toraja berbentuk tanduk kerbau ini saja. Ternyata tidak, hampir semua daerah yang saya lewati memiliki Tongkonan, di pusat kota sekalipun. Ini contohnya, saat melakukan perjalanan dari Rantepao, ibukota Kabupaten Toraja Utara, menuju Batutomonga, salah satu titik tertinggi di Bumi Lakipadada, saya menjumpai sebuah kampung dengan Tongkonan yang menghampar, tampak dari kejauhan

8. Rotua Damanik / @rotyyu

 

. Kampung Manggar merupakan salah satu desa nelayan di Balikpapan yang menjadi pemasok ikan untuk kota minyak itu

 

9. Sari Widiarti / @Mention Sari

 

 

karena sudah enggak punya kampung, karena itulah enggak mau absen kalau ada event Malang tempo doeloe

10. Philardi Ogi / @philardi

 

Arsitektur rumah di desa Panglipuran,Bali hampir seluruhnya seragam. Pintu masuk rumah dari batu beratapkan bambu yang disebut angkul-angkul. Keseragaman itu merupakan cerminan dari rasa kebersamaan yang kuat antar penduduk. Menganut konsep Tri Hita Karana, Desa ini merupakan suatu cerminan dari harmonisasi yang erat antara hubungan manusia dengan sesama manusia, alam dan Tuhan.

11. Dey / @dyahdey

 

roda copy

Senyum bahagia anak kampung, tidak melulu dengan permainan modern. Cukup dengan alat yang disini biasa di sebut roda, mereka bergantian saling mendorong dengan salah satu dari mereka naik di atasnya. Alat ini sebenarnya untuk mengangkut rumput atau barang-barang yang berat. Tapi bagi anak-anak, alat ini bisa beralih fungsi

12. Nanik / @nara_mlg

Rowo Jombor di klaten, jika musim kemarau airnya menyusut, bahkan di beberapa bagian mengering. Maka warung apung tutup, petak-petak yang biasanya dipakai untuk memelihara ikan pun beralih fungsi menjadi tempat bercocok tanam. Padi jika masih ada air menggenang dan jagung jika permukaan tanah sudah mengering.

13. Lieshadi

 

Jalan kampung wisata Tembi, Kabupaten Bantul Yogyakarta, yang menghubungkan ke kampung berikutnya. Tertata rapi dan artistik membuat nyaman pejalan kaki yang sedang berwisata di kampung ini.

14. Adel

nagari-Koto-Tuo

suasana perkampungan tempat Umak tinggal
rumah bersusun naik dari mulai jalan masuk. Rumah berjejer di sebelah kiri dan kanan jalan kecil yang menanjak, aku melihat beberapa keran air tersedia di sepanjang jalan tersebut, digunakan sekedar untuk mencuci kaki bagi yang baru pulang dari ladang, airnya jernih dan dingiiin sekali

15. Putri Amirilis

 

Di kampung leluhur suami saya kaum adam memasak cancang di kuali ketika baralek
Aroma gulai cancang menyebar ke sekeliling kampung
Kaum hawa meracik-racik bumbu
Hmm…Sabana Lamak

16. Ari


Waktu kecil, saya sering menggambar pemandangan kampung seperti ini. Persawahan hijau berlatar belakang gunung. Dulu kampung saya pun sempat seperti ini, persawahan berlatar Gunung Muria. Tapi ini bukan di kampung saya. Ini adalah suasana perkampungan di Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, Aceh.

17. Ira / @iirraa

 

Inilah kampung ibuku, terletak di kaki gunung merapi. Nama kampungnya Supayang, Solok, Sumatera Barat. Daerahnya cukup dingin. Inilah kali pertama saya menjejakkan kaki di kampung pihak ibuku.

18.  Ino / @Lailatul_Qadr

 

Desa Kalikajang terletak di Utara Kabupaten Sidoarjo. Penduduk desa ini sebagian besar adalah buruh tambak. Rumah-rumah yang mereka diami, umumnya terbuat dari gedhek. Letak beberapa rumah berdekatan, namun banyak diantaranya justru berjauhan. Seperti rumah yang saya ambil gambarnya diatas. Rumah tersebut ‘mencelat’ dari rumah-rumah lain. Di kampung itu… Tak ada listrik. Kehidupan mereka hanya ramai pada pagi hingga sore hari. Rata-rata pendidikan mereka hanya sampai SD saja. Umumnya, mereka enggan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena terkendala biaya dan jarak yang sulit ditempuh

 

19. @ isna_saragih

 

Langkah kaki menuntun saya menuju Lingga, desa tradisional tidak jauh dari Kabanjahe, Sumatera Utara. Saya seolah kembali ke masa ratusan tahun silam dimana kekerabatan masyarakat Karo tercermin dari rumah-rumah adatnya. Sayangnya pemerintah seolah tak peduli akan aset budaya ini. Satu persatu jabu / rumah di Lingga hancur dilebur zaman.

20. Budi Arnaya

 

Desa Perancak adalah salah satu desa yang berada di bagian selatan Kabupaten Jembrana, Bali. Desa Perancak juga disebut sebagai “Kampung Nelayan.” Hal ini berkaitan karena letaknya yang berada di pesisir pantai dengan mayoritas penduduknya sebagai nelayan.

21. Lyliana Thia

 

 

Foto ini saya ambil saat saya berkesempatan mengunjungi kampungnya Mbak Atun di Klaten, Jawa Tengah. Keramahan masyarakat desa sungguh luar biasa. Sepanjang jalan kami menerima begitu banyak oleh-oleh hasil kebun dari ladang para tetangga. Alhamdulillah…

22. Vizon

 

Bila sahabat sampai di Ranah Minang (Sumatera Barat), suasana khas kampung akan sangat terasa oleh perpaduan alam indah elok rupawan dengan rumah-rumah beratap runcing tinggi menjulang yang disebut dengan gonjong. Ada semacam rasa yang sulit diungkapkan bila melihat perpaduan indah tersebut. Kampung dengan rumah bagonjong itu, selalu memanggil-manggil untuk kembali pulang. Salah satunya adalah kampung di Lembah Harau, Kab. Limapuluh Kota ini..

23. Pakies / @djangkies1

 

Setiap pulang kampung, saya selalu menyempatkan diri menuju pos pengamatan semeru yang berada puncak gunung sawur. Puncak, dimana saya menemukan kibaran bendera merah putih yang sudah tidak utuh lagi. Bendera yang setia menemani birunya panorama gunung semeru.

24. Nunuz / @qwnuz

 

Kampung cipaler memiliki ciri khas di banding kampung Baduy Luar lainnya. Rumah-rumah yang di bangun di kontur tanah pebukitan membuatnya menjadi susunan yang ciamik. Saya terpukau dengan rumah yang tersusun rapih ini. Mereka membangunnya mengikuti kontur tanah, sesuai dengan ketentuan adat mereka yang tak boleh melebur gunung, menutup lembah.. Green living bukan?..

25. Evi / @eviindrawanto

 

 

Pada sejumput tanah yang terbuka, dengan pemandangan lepas ke lembah, di seberangnya terlihat samar bangunan seperti sawung. Pikiran itu muncul sebab umumnya sawung pembuat gula aren di dirikan jauh dari perkampungan.

26. Cumi Mz Toro

 

Kami datang kesana menjelang sore dan melihat kerukunan nya warga disana bergotong royong membersihkan selokan. Mereka saling bercengkrama dan bercanda, mencerminkan keakraban dan kedamaian :-) sedangkan anak2 kecil bersenda gurau main layangan

27. Prih

 

 

Para sedulur tani akrab mengolah lahan, tak selalu landai kadang harus merayap di lereng terjal. Merambah makin ke atas, membuka simpul yang bisa diurai, mengais rezeki menggadai erosi. Lereng bukit, tolong jagai dulur-dulur kami, jadilah punggung nan kuat tempat mereka menyandarkan harapan dan melepas penat. Para dulur…tolong buka mata hati, berikan rasa tuk tak mengabaikan aba-aba alam anugerahNya….

28. Ina Rakhmawati / @LOVELY_iena

 

Siang itu, dengan sepeda motor saya melintasi Kampung Adat Wologai Tengah, Kecamatan Wologai, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Nampak kehidupan penduduk sekitar yang masih alami. Keramahan penduduk pun bisa saya rasakan saat berinteraksi dengan mereka.

29. Wiwit Wijiastuti

 

Pagi pukul 6 lewat 19 menit saat kabut masih membatasi pandangan, seorang pribumi telah menapaki jalanan untuk bertani. Begitulah fragmen Desa Purwodadi, Gombong, Jawa Tengah.

30. Icho Ahmad / @Ichoahmad

 

ni foto yang bikin saya jatuh cinta, dan ingat cita-cita lama, pengen pensiun dan tinggal di Desa mengisi masa tua.
Lokasi : Grabag – Magelang Jawa-Tengah

31. Susi Ernawati Susindra / @susindra

 

 Desa Panggung kecamatan Kedung kabupaten Jepara. Desa penghasil garam di Jepara. Masyarakatnya masih hidup sederhana. Seperti inilah jika musim hujan tiba. Bisa jadi usaha mereka mandeg atau waktu panen garam lebih lama. Musim rendeng adalah waktunya panen uang. Waktunya garam yang disimpan di rumah garam dibuka. Seperti celengan, rupiah pun keluar dan membuat hati berbunga

32. Pak de Cholik / @ Abdul Cholik

Jaman saya masih kecil, kerbau di kampung saya jumlahnya banyak. Kala itu kerbau bimanfaatkan untuk membajak sawah. Selain itu,jika penduduk mempunyai hajat ada juga yang menyembelih kerbau. Misalnya ketika saya dikhitankan. Kini di kampung saya hanya tinggal satu ekor saja. Gambar kerbau sedang garuk-garuk kepala penuh gaya saya ambil di rumah seorang penduduk kampung, tak jauh dari rumah saya. Dengan digantikannya kerbau oleh traktor dan penduduk lebih senang membeli daging sapi maka kerbau langka, terutama jika kerbau di atas tidak beranak-pinak.

33. Muhammad Akbar / @indonesianholic

 

 

Aka-Akae adalah sebuah kampung terpencil yang dikenal sebagai lumbung padi di sulawesi selatan, masyarakatnya mayoritas sebagai petani dan masih memegang prinsip gotong royong.

34. Titik Sutanti / @yusthatitik

 

Pagi-pagi, di desa Purbosari, kecamatan Ngadirejo, Temanggung, penduduk sudah menggelar tembakau yang sudah dirajang dan ditata di rigen-rigen. Memang harus dijemur sejak pagi dan diangkat siang nanti supaya kualitas tembakau tetap terjaga.

35. Endah Kurnia Wirawati / @endahkwira

 

Suasana mendung dan gerimis di kampung adat Waitabar, kota Waikabubak, Sumba Barat, NTT

36. Wong Cilik / @wongcilik_1

 

 

Pak tani sedang memanggul pakan ternak, sebuah pemandangan yang lazim di desa