Cerita jalan-jalannya TDJT didahulukan kisah di Pekalongan dulu deh, biar nyambung dengan   Kopdar Jlamprang dan cerita mbak Mechta tentang motif Jlamprang .

Sudah  pasti kalau di Pekalongan itu tujuan utamaku ke Museum Batik Pekalongan dan apalagi kalau bukan belanja batik,  perlu banget beli batik untuk pakaian kerja, karena setiap minggunya kan ada hari batik.  Kalau ada yang cocok  juga sekalian cari baju batik untuk santai jalan-jalan sore atau juga untuk kondangan. Pokoknya kalau bisa berbatik sepanjang hari, kenapa nggak ya kan?


Museum Batik Pekalongan ini menempati sebuah gedung tua yang jaman dulu  pernah menjadi Kantor Keuangan Pabrik Gula Wilayah Pekalongan dan sekitarnya. Gedung dari awal abad 20 ini masih dipertahankan seperti aslinya, perubahan yang dilakukan katanya hanya dicat saja.  Nah, salah satu fokus penglihatan kalau di gedung tua itu adalah lantainya, aku suka banget dengan lantainya itu, walau tegel lantai  sudah terlihat ada yang sompel tetapi itulah daya tariknya. Masih cantik kan? Di bagian tengah Museum ada taman hijau. Ini juga salah satu sisi menarik dari gedung tua yang memperhatikan sirkulasi udara di wilayah tropis.  Taman ini bisa berfungsi sebagai penyejuk bagi ruangan-ruangan di dalam yang masing-masing mempunyai pintu ke arah taman.

 

Loket ada di sisi kiri pintu  masuk Museum Batik  , tiket seharga  Rp 5000 untuk dewasa dan Rp 1000 untuk anak-anak terasa sangat murah untuk fasilitas yang sangat menarik ini.  Di sisi kanan ada ruang Audiovisual, aku cuma  lihat sebentar saja. Di bagian tengah ada Ruang Pamer I, kami dibukakan pintu oleh petugas cantik dan ramah mbak Vanda. Mbak Vanda yang memandu dan menjelaskan koleksi yang ada di Ruang Pamer I. Di sini ada beraneka  stempel dengan berbagai motif untuk membuat batik cap, juga ada contoh berbagai  bahan pewarna alami, yang menurut mbak Vanda itu semua berasal dari pengrajin sendiri. Katanya pewarna alami itu ditanam sendiri di halaman rumah pengusaha batik. Iya bukti informasi  itu bisa kulihat di Kampung Batik Kauman, ada pohon  penghasil buah piksa yang memberikan warna merah.

Di ruang ini dipamerkan batik yang berasal dari daerah pesisir,  seperti Pekalongan, Lasem dan Cirebon. Batik daerah  pesisir ini ditandai dengan warna yang cerah. Aku lihat ada motif Cinderella yang berwarna merah cerah yang tentu saja menceritakan dongeng itu, kurasa ini langka lho.

 

Batik Cinderella

Batik Cinderella – Museum Batik Pekalongan

 

Di Museum Batik Pekalongan ini  juga baru tahu ada motif Rifaiyah, motif yang tak menggambarkan mahluk hidup secara utuh, seperti kebiasaan Islam. Dinamakan Rifaiyah sesuai dengan nama tarekat  yang didirikan oleh KH Ahmad Rifa’i. Komunitas Rifa’iyah muncul di Kalisalak, kabupaten Batang, Jawa Tengah pada kisaran tahun 1850.

 Batik Pekalongan
Ruang Pamer II menampilkan batik Nusantara. Daerah yang semula tak punya kebiasaan membatik kini dengan semakin naiknya pamor batik juga ikut menciptakan motif sendiri. Kulihat ada batik Lampung dengan motif kain kapal, batik Bogor dengan motif Hujan Gerimis, dari Kalimantan dengan ornamen dari suku Dayak, Betawi dengan motif ondel-ondel, Bengkulu dengan motif basurek,  batik Majalengka dll. Aku tak melihat batik Jambi di display, dulu pernah punya baju batik Jambi  sih he..he.., jadinya sadar nggak ada wakil dari Jambi, kata mbak Vanda belum ada yang menyerahkan koleksi batik Jambi. Menurutnya semua batik di sini adalah persembahan kolektor perorangan atau pengusaha batik, banyak lho orang terkenal yang ikut menyerahkan koleksinya untuk Museum Batik Pekalongan.

 Batik Majalengka

Di ruang Pamer I juga ada display yang menunjukkan cara membedakan batik tulis dan batik cap. Batik tulis itu kedua sisinya relatif sama, karena dilapisi malam dan melalui proses pewarnaan yang sama dengan bagian depan, sedangkan batik cap biasanya tidak. Itulah terkadang batik tulis itu terasa lebih berat.

Di ruang pamer III khusus menampilkan motif khas Pekalongan, yaitu buketan, berasal dari kata bouquet, motif buket bunga, yang merupakan motif pengaruh Belanda. Kabarnya motif buketan ini pertama kali dikembangkan oleh pengusaha batik asal Belanda. Motif  lainnya yaitu  motif Jlamprang, motif geometris yang juga khas Pekalongan.  Ini sebagian contoh variasi motif Jlamprang. Ada juga selembar kain yang memadukan motif buketan dan jlamprang, namanya motif jlamprang buketan. Cantik semuanya kan, makanya langsung suka dan cari motif ini di  Kampung Kauman.

 motif Jlamprang - Pekalongan

Jlamprang Kotak Andang

Jlamprang Kotak Andang

 

 

Jlamprang Lereng

Jlamprang Lereng

 

motif batik Jlamprang Buketan

motif Jlamprang Buketan

 

Untunglah aku   ditemani pemandu yang tak bosan dan antusias menjelaskan koleksi museum. Koleksi museum ini boleh difoto, makanya leluasa banget memperhatikan detail kain, buat foto kain dan keterangannya. Sayangnya belum ada katalog atau brosur mengenai koleksi yang dipamerkan, biar bisa dipandang dan dipelajari di rumah. Suka sekali kalau bisa sekaligus tahu arti dan kisah tentang motif itu. Setelah keluar dari ruang pamer III kami diantar ke tempat untuk belajar membatik. Pengunjung bisa belajar menuliskan canting di atas kain putih kecil. Jika ingin serius belajar bisa juga mendaftar di sini.

 12 proses membatik

Proses membatik manual atau batik tulis itu cukup panjang. Aku pernah mencoba belajar membatik sehelai saputangan di Museum Tekstil Jakarta, diajarkan harus memberi malam pada kedua sisi kain, nah bayangkan saja jika sehelai kain panjang dengan motif rumit perlu waktu berapa lama untuk mengisi malam di kedua sisi, apalagi kalau batik warna warni mesti dilapisi malam lagi. Secara singkat proses membatik ada 12 tahap  (motif pada banner dan proses metamorfosenya) yaitu :

  1.  Nyungging , membuat pola atau gambar di atas kertas
  2. Njaplak, memindahkan pola dari kertas ke kain
  3. Nglowong, mengisi malam memakai canting sesuai pola
  4. Ngiseni, pemberian motif isen pada ornamen utama,
  5. Nyolet, pewarnaan dengan kuas,
  6.  Mopok, menutupi bagian yang diwarnai dengan malam,
  7. Ngelir, pewarnaan kain secara menyeluruh
  8. Nglorod, penghilangan malam pada kain dengan cara merendam kain pada air mendidih,
  9.  Ngrentesi, menambahkan elemen dekoratif,
  10.  Nyumi’i, menutupi bagian tertentu dengan malam,
  11. Nyogan, pencelupan dengan warna coklat/sogan,
  12. Nglorod, penghilangan malam dengan cara merendam kain pada air mendidih.

 

Oh ya, ketika tahu aku akan menukiskan kunjungan ini di blog, mbak Vanda langsung memberikan peta wisata kota Pekalongan dan buku Visit Guide Jawa Tengah, senangnya aku jadi punya dua versi bahasa buku panduan wisata yang apik ini. Promosi pariwisata Pekalongan dan Jawa Tengah ini juga dilakukan oleh hotel-hotel. Di hotel Namira Pekalongan bisa ambil brosur wisata plus peta, demikian pula di hotel Cityhub Magelang yang langsung kasih peta wisata itu dan kasih info soal hotel lainnya, karena mereka fully booked. Salut deh dengan sikap sadar wisata seperti ini.