Jadi dalam rangkaian Tour de Jawa Tengah ke beberapa kota, kucoba menghubungi teman-teman blogger, sayangnya tak berjodoh bertemu dengan Idah blogger Banjarnegara, karena  sudah terlalu malam. Di Magelang sempat bertukar pesan dengan mbak Prih Rynari yang ada di kota tetangga  begitu juga di Semarang  pun menghubungi  mbak Esti dan mbak Uniek, sayangnya juga belum berjodoh kopdar blogger.

Akhirnya di hari terakhir ada juga kopdar dalam perjalanan ini. Subuh hari di Pekalongan kuhubungi mbak Mechta Deera lewat Messenger,   …, hadeeh, belum punya nomor teleponnya sih. Untunglah mbak Mechta ini melihat pesanku beberapa saat kemudian dan janjian deh. Lega banget  cuma kasih kabar tiba-tiba dan beliau mau bertemu denganku. Aku  kasih rencana perjalanan hari  itu yaitu ke Museum Batik dan Kampung Batik Kauman, meeting point disesuaikan  saja dengan kesenggangan beliau.

Mbak Mechta Deera kukenal di blog sudah cukup lama, kalau nggak salah masih di tahun-tahun pertama aku ngeblog. Aku duluan yang nyamper ke blognya yang pertama (kini jumlahnya sudah ditambahi blog Lalang Ungu),  kurang lebih  sudah 4 tahun berteman di dunia maya. Blog mbak Mechta ini isinya banyak tentang tumbuhan, fiksi dan puisi . 3 buku telah  hadir dari tangannya. Yang sudah kumiliki buku pertamanya, tentang perjalanan ke Tanah Suci,  Notes from Mecca.

Setelah check out dari Hotel Namira Pekalongan, dilanjutkan sarapan di sekitar alun-alun kota Pekalongan, Garang Asem H. Masduki yang populer.  Kemudian kami segera ke Museum Batik Pekalongan yang letaknya tak jauh dari situ. Di Museum Batik Pekalongan ini dapat info soal motif asli batik Pekalongan yaitu buketan dan jlamprang. Motif buketan sudah sering kulihat. Sedangkan motif jlamprang baru kukenal.  Aku baru  paham tentang motif jlamprang dengan berbagai variasinya yang sangat menarik, langsung timbul keinginan untuk punya juga sehelai  kain batik motif jlamprang. Makanya kopdar dengan mbak Mechta ini kusebut kopdar jlamprang, sebab kopdarnya sambil belanja batik sih.

Pekalongan dikenal sebagai Kota Batik, banyak tempat yang jadi sentra di sana.  Ada 3 desa wisata yang resmi dan mendapatkan kategori desa wisata nasional. Ketiga desa itu adalah Kauman, Pesindon, Kemplong. Adapun penilaian terkait pemililah Desa Wisata Nasional ini ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (sumber : kotapekalongan.net)

Karena  sudah lihat plang nama Kampung Kauman malam sebelumnya saat cari hotel, ke sanalah tujuanku. Inginnya sih jalan kaki di kampung tua ini, ingin lihat kehidupan sehari-hari, masuk ke satu persatu rumah pengrajin dan menikmati wangi malam yang dilukiskan ke atas kain. Tapi apa daya, waktu sempit karena ini hari terakhir perjalanan TDJT terpaksa niat itu disimpan untuk suatu hari nanti.

Aku menunggu mbak Mechta di salah  satu toko di gang Kauman. Tak lama ada sebuah motor berhenti depan toko, pengemudinya wanita berhelm, sehingga wajahnya tak terlihat.Tapi tak lama motor itu pergi lagi, wah bukan mbak Mechta  sepertinya. Eh, tak taunya memang itu dia, rupanya tadi cari tempat parkir.

Alhamdulillah, mbak Mechta segera mengenaliku, aku yang agak ragu tadinya, soalnya beliau ini jarang banget pajang foto, nggak sepertiku. Langsung deh ngobrol sebentar, dan aku bisik-bisik minta diantarkan ke toko batik yang lebih bagus. Dengan beriringan kami dibawa masuk ke gang kecil lain, ke toko yang lebih besar dengan motif batik yang cantik. Namanya Griya Batik  Mas (bukan promosi, tapi supaya nanti ingat kalau ke sini lagi). Meski di toko ini ada larangan memotret, tapi saat kami pilih spot foto di dalam yang agak gelap, mbaknya malahan menghidupkan lampu. Cukup sulit pilih batik, yang sudah jadi busana atau pun masih kain bahan, semuanya dengan warna cerah dan motif bunga yang menawan.  Untungnya kutemukan satu motif jlamprang yang kuinginkan, pertanda sudah sampai ke  Pekalongan. Pilih kain batik tentu saja sambil ngobrol ke sana kemari, merasa sudah kenal lama aku jadi banyak bicara, he..he.. padahal biasanya irit, pasti ini pengaruh dari  pribadi lawan bicara yang sangat ramah.

Pertemuan tak hanya di situ saja tapi kemudian dilanjutkan ke lokasi pembuatan batik cap. Asyik sekali melihat pekerjaan membatik, walau pun sudah pernah lihat saat di Tasikmalaya, tetap saja suasananya beda. Nantilah akan kuceritakan di posting tersendiri. Sampai di sini kami berpisah, tak terasa pertemuan saknyukan  kata mbak Mechta ini harus diakhiri, kami akan melanjutkan perjalanan pulang. Terima kasih mbak atas pertemuan hangat ini, berikut souvenir  dan buku Tentang Mimpi dan Kaca yang Telah Pecah.