IMG_6283

Hari ketiga di Ranah Minang, rombongan kami menuju Tarusan Kamang, atas saran uda Hendra, saudaranya mak LJ yang mengantar kami berkeliling. Obyek ini ada di kampung halamannya. Rombongan blogger ini sudah berkurang, karena bunda Lily sudah kembali ke Jakarta pagi harinya. Mengenai Tarusan Kamang  mak LJ sudah pernah bahas di blognya makanya jadi makin penasaran. Ketika kami bilang rencana mau ke sana katanya sih biasa saja, kenyataannya luar biasa.

Danau Tarusan Kamang ini belum dikelola untuk pariwisata. Danau ini hanya seperti sebuah tempat di pojok desa berupa telaga kecil yang dikelilingi lapangan rumput tempat menggembalakan ternak. Banyak kerbau di sini, dan sudah pasti ada setumpukan kotorannya di sana sini, harus lihat dengan teliti supaya tak terjadi tragedi. Tapi, pemandangannya indah nian lho. Di sisi telaga ada lapangan rumput luas menghijau.

Tarusan Kamang ini unik karena air danau bisa datang dan pergi tak kenal waktu. Bila tak ada air, yang tinggal berupa padang rumput hijau. Danau Tarusan Kamang terletak di Jorong Halalang, Nagari Kamang Mudiak, Kecamatan Kamang Magek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Danau ini berada di Bukit Barisan, kira-kira 14 kilometer dari Bukittinggi. Kala kering, ikan-ikan yang menghiasi danau banyak terperangkap dalam tambak-tambak yang dipasang warga. Ada beragam jenis ikan di sana seperti pantau yang jadi ciri khas danau ini. Selain telaga di daerah ini juga banyak gua.

Menurut Wikipedia :

“Banyak danau karst di daerah lain, tetapi hanya Danau Tarusan Kamang yang punya hubungan langsung dengan sungai di bawah tanah sehingga muncul fenomena unik,” kata Andang Bachtiar, ahli geologi di Indonesia yang pernah meneliti Danau Tarusan Kamang pada 23 Februari lalu. Di sisi lain, Prof. Handang, yang pernah melakukan penelitian yang sama, menemukan bahwa Danau Tarusan Kamang terdapat di zona patahan Sumatera bagian timur, sehingga itu menjadi salah satu alasan air datang dan mengering. Menurutnya, terdapat fenomena alam yang harus digali di Danau Tarusan Kamang, seperti terdapatnya bongkahan batuan kapur (gamping) di tepi-tepi danau yang berusia sekitar ratusan abad. “Baru pertama kali saya menemukan batu kapur di danau, karena biasanya batu kapur terdapat di daerah pantai. Ini menunjukkan, bahwa ratusan abad yang lalu danau Tarusan Kamang ini dahulunya merupakan lautan,” tukasnya.

Semoga foto-foto di sini bisa mewakili keindahan Tarusan Kamang. 3 foto terakhir ini dari Iphone punya Titik.

IMG_6287

 

photo

Tarusan Kamang

3 blogger yang terkagum-kagum pada kerbau (Inon, Titik, Fariz)

 

IMG_7647

 

IMG_7652

Di desa sini masih banyak rumah bagonjong sederhana, yang polos tanpa ukiran. Kami berhenti di depan salah satunya, ternyata ada pemiliknya di depan rumah, seorang ibu tua. Ketika minta ijin foto rumahnya, beliau mempersilahkan masuk.  Di sebelah kanan pintu masuk ada tangga ke bawah menuju dapur dan sumur. Kami diajak ke ruang tengah  yang terletak di sebelah kiri. Kai bercerita di sana, tentu Inon yang lebih banyak angkat bicara dalam bahasa Minang. Sang Ibu menunjukkan kamar-kamarnya yang hanya kecil, hanya berisi satu buah tempat tidur besar. Lemari lainnya diletakkan di ruang tengah.  Interior  rumah ini bisa dilihat di blognya Fariz ya.

 

IMG_7656

Si ibu yang sangat ramah ini bercerita mengenai rumahnya yang dibangun tahun 1959. Ibu ini rupanya mengingatkan Inon pada almarhumah neneknya. Si ibu terkaget-kaget dan kami juga, ketika Inon minta ijin menciumnya bertubi-tubi.