Tulisan ini terpicu dari kondangan terakhir minggu lalu. Kami menghadiri akad nikah di rumah sepupuku yang bersuamikan orang Palembang. Menantunya berasal dari Sumatera Barat. Tiga suku dari tiga propinsi yang berbeda di perhelatan besar seperti ini dengan bangganya memakai kain tradisional cantik  dari daerahnya masing-masing. Sungguh memanjakan mata melihat keindahan kain-kain yang dipakai para ibu. Keindahan motif Songket Palembang, songket Padang bertemu dengan songket dari Sumatera Utara, yaitu songket Batubara. Saat itu aku pakai songket Batubara lho. 

 Songket Batu Bara Sumatera Utara

Songket Batubara, songket berwarna merah hitam itu kupakai pada acara Srikandi Blogger 2014. Songket sebelah kiri hadiah perkawinan dari tanteku,  pernah kutampilkan saat WPC dengan tema Texture, dan  baru sadar foto itu dijiplak semena-mena oleh blog lain. Jadi maafkan bila watermark di tengah agak mengganggu.

Bener lho, nikmat betul menebak asal kain ketika si ibu lewat di depanku, nah ibu ini pakai songket Palembang, ibu yang kebaya ungu pakai songket Padang. Bukti tebakan itu betul terlihat kala sang ibu sudah berbicara dan bergabung di keluarganya. Cara membedakan   asal songket yaitu dengan melihat motifnya, yang khas dari tiap daerah.

Songket, alhamdulillah masih mempunyai arti penting di kehidupan masa kini. Songket di keluargaku dulu itu terutama dipakai saat menikah. Iya pakaian pengantinku itu berupa setelan baju kurung, kain songket Palembang (nggak pakai ulos) dan aksesoris berupa perhiasan kepala dari Tapanuli Selatan bernama bulang, gelang lengan, ikat pinggang dan dua buah pisau kecil terbuat dari logam sepuhan, tak lagi dari emas seperti jaman dahulu.

Dulu sempat sedikit protes melihat mamaku rela menabung lalu membeli satu demi satu kain songket dari pengrajinnya di Palembang saat kami masih tinggal di kota itu, lha anak gadisnya ada empat orang, beli sekaligus empat ya nggak ada duitnya. Aku bilang mau pakai songket ke mana ? Eh, sekarang dengan bertambahnya umur dan menikah pula dengan orang Sumatera, kain-kain itu jadi terpakai. Kini aku lebih suka pakai kain tradisional ke acara-acara pernikahan, terasa lebih elegan. Jadi bersyukur sudah dibekali mamaku beberapa kain tradisional. Selain songket Palembang yang kupakai saat akad nikah, mamaku juga menabung untuk beli tapis Lampung, songket Batubara, dan batik.

Jadi wastra atau kain tradisional yang berasal dari Propinsi Sumatera Utara tak hanya Ulos Batak dan Uis Karo tapi  juga  Songket Batubara. Songket Batubara sama dengan jenis songket lainnya yaitu dibuat dengan teknik sungkit, dengan mencungkil atau mengait. Kabupaten Batubara adalah salah satu kabupaten di bagian timur Provinsi Sumatera Utara, pemekaran dari kabupaten Asahan. Kabupaten ini diresmikan pada 2007, terletak di tepi pantai Selat Malaka, sekitar 175 km selatan ibu kota Medan. Penduduknya didominasi oleh etnis Melayu, kemudian diikuti oleh orang-orang Jawa, dan Suku Batak.

Songket Batubara  memiliki berbagai kombinasi warna  cerah yang menarik, seperti biru, merah, hijau, orany, ungu dll, lebih ringan dibandingkan ulos. Kini para pengrajin songket Batubara banyak menerima pesanan dari mancanegara, terutama Malaysia, Brunei dan Singapura. Daya tarik kain songkei ini dari uniknya corak, warna dan bahan kainnya. Kerajinan ini sudah diwarisi turun temurun dari orang tua mereka.

Songket Batubara  mempunyai kualitas kain yang bagus karena menggunakan benang-benang pilihan seperti  sutera, polyester, emas dan perak.   Kain songket Batubara  memiliki variasi motif  seperti Pucuk Rebung, Bunga Manggis, Bunga Cempaka, Pucuk Caul, Tolak Betikam, hingga Naga Berjuang. Keunggulan dari songket ini ringan dan tidak luntur sehingga lebih nyaman untuk dipakai.