‘A city without a heritage is like a man without memory.”  Adolf Heuken SJ.

Sekian lama tak ke Kota Tua, kangen juga mendatangi satu persatu  museum-museum di sini, sekalian ingin lihat bangunan lama yang mana yang sedang direnovasi (btw Rumah Akar masih tetap seperti sedia kala).  Di  Kota Tua Jakarta ini ada 6 museum ( kasih info buat yang kemarin nanya ), 5 museum berkumpul di sekitar Lapangan Fatahillah, yaitu Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, Museum Sejarah Jakarta  (Museum Fatahillah), Museum Wayang dan Museum Seni Rupa dan Keramik. Satu museum lagi yaitu Museum Bahari terletak terpisah  agak jauh, di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa,  menuju ke museum ini lebih baik naik ojek ontel atau mikrolet kalau tak sanggup lagi jalan kaki he..he..

renovasi Kota Tua

Ada lainnya juga yang baru bagiku yang tak kalah  mengasyikkan untuk menghabiskan waktu  di Kota Tua, yaitu ada perpustakaan tenda   dii dekat Museum Wayang.  Nggak terbayangkan sebelumnya ada tenda berisi rak-rak buku kecil yang dipenuhi buku. Buku-buku yang ada di situ keren semuanya di mataku. Tema buku-buku itu  beragam, novel sastra juga ada, tetapi yang sangat mencuri perhatianku adalah buku-buku tebal tentang sejarah kota Jakarta. Buku-buku ini sangat berharga dan bahkan jadi rujukan banyak buku dan artikel tentang sejarah Jakarta. Contohnya buku karya A. Heuken SJ ini, seorang rohaniawan asal Jerman yang telah menjadi warga negara Indonesia.

 

Lihat buku-buku bagus sebanyak  itu jadi nggak fokus ingin baca buku  yang mana. Ambil  buku yang satu baca satu dua lembar, kemudian diletakkan lagi, lalu ambil buku lainnya lagi, hadeeh kayak orang kalap deh.  Buku-buku koleksi perpustakaan  ini hanya boleh dibaca di sini saja, tak boleh dipinjam bawa pulang.  Di bawah tenda ini juga disediakan meja dan beberapa kursi lipat agar pengunjung nyaman membaca, boleh  mencatat kalau diperlukan. Waktu membaca pun tak dibatasi,pokoknya sepuasnya deh.  Asyik sekali rasanya buka-buka dan baca buku-buku berharga ini, tentu cuma sekilas saja sih, karena masih merasa kurang santai. Rasanya pengen deh ada sofa L empuk lalu selonjoran baca he..he..

Akhirnya kuletakkan semua buku itu, fokus dulu mengirmkan kartu pos untuk rekan-rekan blogger. Kartu pos tersebut sebelumnya telah  dibeli  di Museum Bank Indonesia dan Museum Wayang. Belakangan ini susah sekali cari kartu pos. Di obyek-obyek wisata kartu pos itu sudah langka. Di Kota Tua ini ada kantor pos  yang dibangun tahun 1928, letaknya  di bagian utara lapangan Fatahillah.  (Kartu pos itu dikirim September dan   sampai di tangan rekan blogger di Madagascar  awal Desember…. lama sekali perjalanannya).

Kartu pos sudah terkirim lalu kembali  ke  depan Museum Wayang, mataku tertumbuk pada banner tour ke Kampung Arab. Ya, apa salahnya sekali lagi tour keliling Kota Tua membonceng sepeda ontel. Kali ini  kupilih rute keliling ke Kampung Arab Pekojan yang belum pernah kudatangi, , biayanya Rp 75.000,-. Tentang kunjungan ini akan dituliskan tersendiri saja.  Sepulangnya  dari Kampung Arab barulah aku betah duduk membaca cukup lama. Kali ini buku yang kubuka adalah buku karya Scott Merrilees, tentang kartu pos tua Jakarta. Eh di  halaman depan bukunya ada tanda tangan langsung oleh pak Scott, buku  disumbangkan oleh beliau buat perpustakaan ini.  Perpustakaan Kota Tua  memang menerima sumbangan buku untuk menambah koleksi.

Jika berminat membaca koleksi perpustakaan, silahkan datang ke sini pada  hari Sabtu dan Minggu.