Buku

Masa kecilku banyak dihabiskan dengan membaca buku. Fasilitas untuk itu mendukung sih. Selalu ada perpustakaan anak di semua kompleks perumahan tempat tinggalku. Apalagi organisasi ibu-ibu  menugaskan ibuku melayani perpustakaan dua kali seminggu. Aku bisa sekalian ikut ibuku  bertugas. Aku sudah jadi anggota perpustakaan sejak kelas 2 SD.

Perpustakaan dibuka sore hari. Anak-anak sudah menunggu di depan pintu perpustakaan walau belum jam buka. Begitu pintu dibuka brrrr… semua langsung menyerbu masuk. Nggak sabar semuanya ingin dapat buku cerita terbaru. Koleksi buku di perpustakaan ini cukup banyak. Tiap judul ada 2 atau 3 buah. Rasanya bangga betul kalau bisa jadi peminjam pertama dan menceritakan isi bukunya. Ha..ha.. teman yang belum baca jadi sirik deh . Buku-buku yang ada di perpustakaan serial komik karya HC Andersen, Grimm bersaudara ada juga kisah si Teddy beruang.

Kelas 4 SD orang tuaku dipindahkan ke Sorong, Papua. Lagi-lagi di sinipun ada  perpustakaan anak. Buku-buku yang bisa dipinjam komik Tintin, buku-buku terbitan Pustaka Jaya, Album Cerita Ternama dll. Bahkan buku-buku karya Pujangga Lama dan Pujangga Baru. Buku Siti Nurbaya, Katak Hendak Menjadi Lembu sudah kubaca di usia SD.

Tinggal di kota kecil yang belum ada hiburan televisi maka buku dan permainan luar ruang adalah aktivitas setelah pulang sekolah.  2 buku yang dipinjam cepat sekali ditamatkan. Jadi tak sabar menunggu hari buka perpustakaan berikutnya. Makanya orang tua lalu menambah bacaan dengan  langganan majalah untuk kami  seperti Bobo, Tom Tam dan  Si Kuncung. Lalu juga langganan komik Album Cerita Ternama, dan komik wayang. Aduuh .. jadi kangen cerita Deni Manusia Ikan di majalah Bobo.

Si Dul Anak Jakarta

Nah majalah-majalah ini diantar sama loper ke kantor papa. Papa pulang kantor  4 orang anak sudah menunggu. Kami berempat bikin giliran pembaca pertama.  Hi..hi.. yang  lainnya  nggak sabar  menunggu, malah diikuti ke manapun majalah itu dibawa.

Menginjak usia remaja aku dan adik-aik keranjingan serial Lima Sekawan dan  serial lain karya Enid Blyton, Trio Detektif dan buku petualangan karya Karl May. Ada juga serial Lupus di majalah Hai yang jadi favorit.

Salah satu buku favoritku yaitu Si Dul Anak Jakarta karya Aman Datuk Majoindo . Meski berasal dari Sumatera Barat tetapi beliau ini sangat fasih menggunakan dialog dengan logat Betawi. Dari cerita buku inilah tercipta tokoh Si Dul Anak Sekolahan,  dan film Si Dul Anak Betawi. Buku ini masih ada  lho. Buku yang kupunya  ini cetakan ke 12, terbit 1985.  Buku yang sarat dengan humor ini sungguh menyegarkan, masih tetap terbahak-bahak membacanya. Cocok banget deh untuk menghilangkan stres.

Buku-buku di masa remaja ini sebagian besar dibeli dari uang hasil kerja kami membantu usaha orang tua. Yaitu usaha ayam potong. Walau ada karyawan yang membului ayam, kami mengajukan diri ikut membantu dengan upah yang sama. Upah ini ditabung dan akan dibelikan buku cerita saat beliau  bertugas ke Jakarta.

Bercerita tentang buku di masa kecil selalu menyenangkan dan bisa mengembangkan senyum di wajah.  Membaca itu sambil membayangkan adegan demi adegan cerita. Juga menggambarkan sosok tokoh utama cerita itu dalam pikiran.  Dihadiahi buku dan majalah itu sudah sangat bahagia, nggak pernah terpikir minta mainan.

Masa begitu terpikat pada buku itulah yang sangat kurindukan. Masa itu tak mau sedikitpun melepaskan buku sebelum tamat, bahkan rela begadang dan mata sembab akibat sangat te.rbawa oleh kisah kasih di masa Angkatan Balai Pustaka

Di usia sekarang ini kenapa ya membaca buku itu tak semenarik dulu lagi. Makanya untuk mengembalikan rasa itu sengaja kucari buku-buku karya sastrawan jaman dahulu. Ketika mengunjungi Istana Baso Pagaruyung ada pedagang kaki lima yang menjual buku-buku karya Buya Hamka. Aku membeli beberapa buku. Di antaranya ada buku Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Sudah agak lupa ceritanya.

Memang buku ini mampu membawaku kembali larut dalam keasyikan membaca. Sanggup membuatku mengarang adegan demi adegan dan sosok- sosok Zainudin dan Hayati. Menyimak dengan hati-hati kata demi kata dalam buku ini menyadarkanku sudah banyak yang berubah dalam bahasa Indonesia. Banyak kata di buku ini yang tak lazim lagi dipakai di masa sekarang. Tetapi kata-kata lama itu masih terasa indah untukku, dan berniat ingin memakainya lagi sesekali.