Apel

Perjalanan udara dari Jakarta – Halim Perdanakusuma menuju Malang disuguhi dengan pemandangan  puluhan gunung. Agak deg-degan sebetulnya, karena keberangkatan sempat  tertunda beberapa belas menit akibat cuaca buruk di Malang. Walau sempat ada  sedikit goncangan tetapi perjalanan ini mengasyikkan. Biasanya kalau terbang kan cuma lihat awan dan laut, ini beda. Mendekati bandara Abdul Rahman Saleh Malang mulai terlihat gunung-gunung yang tampak gagah menjulang, sayangnya aku nggak tahu yang mana Bromo, hanya bisa menduga gunung Semeru yang tampak paling tinggi.

Lalu  pandang mata menyapu  hamparan hijau tanaman tinggi langsing mirip ilalang dengan bunga putih yang bergoyang perlahan ditiup angin. Dalam hati bertanya-tanya apa ya tanaman cantik itu. Setelah mendarat baru tahu itu hamparan kebun tebu. Daerah Jawa Timur ini rupanya banyak perkebunan tebu, di sepanjang jalan beberapa kali bertemu dengn truk pengangkut tebu.

Mendarat di Bandara Abdul Rahman Saleh di kota  Malang kami sudah ditunggu oleh mobil sewaan. Kami langsung menuju Batu, kota kecil yang terkenal dengan banyak obyek wisata menarik. Tak lupa   sarapan dulu dengan bakso Malang, meskipun rumah makannya kecil dan  nggak terkenal tapi baksonya enak banget.

Tujuan utama kami ke Batu  mau  menuju ke kebun apel. Kami sekeluarga suka dengan wisata petik buah-buahan seperti ini. Kami pernah wisata petik strawberry di Ciwidey, mampir ke kebun jeruk di Kintamani. Di Malang kan banyak ya perkebunan, kalau ada wisata petik kol atau ketela, mau banget mampir juga (belakangan aku tahu ada wisata petik bunga, dan sayur …, waah nyesal…hik..hik…). Kami minta dibawa ke agrowisata yang terkenal itu, tapi pak Adi, supir mobil sewaan yang direkomendasi  bunda Lily mengajak ke perkebunan rakyat. Alasannya karena pohon apel di agrowisata ngetop itu sedang nggak berbuah.

wisata petik apel

 

Menuju ke kebun, jalan macet sekali, ternyata ada desa yang sedang hajatan ulang tahun dan buat arak-arakan di jalan utama. Untung saja pak Adi tahu jalan tikus lewat kebun dan perkampungan sampai akhirnya kami berhenti de depan kantor KUD.  Rasanya nggak sabar untuk segera sampai di kebun karena melihat di pekarangan rumah warga juga ada yang bertanam apel, ada yang pohonnya memutih  karena lebatnya  bunga, ada yang sudah berbuah pula. Salah seorang pegawai KUD  kemudian memandu kami ke kebun yang sedang banyak pohon apel lebat berbuah. Di sini kami beli tiket masuk seharga Rp 20.000,- per orang   dan mendapatkan welcome drink jus apel kemasa.. Kami dipersilahkan masuk ke kebun yang tak seberapa luas, boleh petik dan makan apel sepuasnya, tapi bilang ingin bawa pulang harus bayar lagi  Rp 15.000,- per kilogram. KTMA (Kelompok Tani Makmur Abadi) ini rupanya sebuah kelompok tani yang punya anggota beberapa pekebun, yang digilir waktu panennya, jadi bisa setiap saat  ada buah apel yang layak petik.

20141017-093925.jpg

Pemandangan kebun apelnya sendiri cantik sekali dengan berlatar belakang gunung-gunung. Di kebun ini ada dua macam apel, kalau suka apel yang agak masam bisa petik yang berkulit kemerahan, sedangkan buah yang hijau itu lebih manis. Pohon-pohon apelnya berbuah lebat tetapi ukuran buahnya kecil, lsedikit lebih besar daripada kepalan  tangan, Biasanya  kan petani menjarangkan  jumlah buah agar didapat buah berukuran maksimal. Mungkin karena memang ditujukan untuk wisata petik buah, makanya tak ada penjarangan yang penting buahnya banyak supaya seru memetik apel langsung dari pohonnya.

Pohon apel tak terlalu tinggi, jadi gampang saja menjangkaunya, lap buahnya pakai tissu, lalu gigit, krenyes. Rasanya beda deh,  makan apel yang segar, daging buahnya terasa gurih. Biasa kita kalau makan apel kan sampai bersih betul, hanya menyisakan bonggol uratnya, ini nggak lho  jadi kemaruk ingin petik lagi walau di tangan masih ada. Tapi biarpun boleh makan sekenyangnya aku hanya sanggup makan 2 apel saja.

Di pintu keluar sudah disediakan buah apel matang dalam keranjang. Boleh ambil dari situ untuk bawa pulang. Ada lho  wisatawan negeri jiran yang beli sekarung, kami cukup beli  sekilo saja, mikir di hotel nanti simpannya di mana. Selain apel segar KUD juga sudah buat keripik apel yang rasanya gurih segar. Menyenangkan dan mengesankan sekali wisata agro ini, kami cukup puas biarpun suasana kebunnya ya suasana kebun rakyat sekali. Untung saja pak Adi tahu tempat ini, kalau nggak pasti menyesal nggak bisa petik apel, Kami mampir sebentar di wisata agro besar yang terkenal itu, di situ memang apel sedang tak berbuah, hanya bisa memetik jambu saja.