Pasukan raun pergi ke Bandung  tapi bukan buat jalan-jalan. Long week-end  Desember lalu itu   ada kondangan anggota keluarga besar, ngerti bakal susah kabur dari acara, tak kuhubungi rekan-rekan blogger. Rada khawatir sih dengar berita  kemacetan parah keluar dari Jakarta.  Kami  berangkat hari Jumat, rombongan dengan kakak ipar 2, 3 dan 4, makanya kudu rembugan. Sempat kepikiran lewat   jalan alternatif melalui Jonggol, toh akhirnya pilihan tetap lewat tol. Syukur  kepadatan jalan tol sudah berkurang, walau  sempat tersendat di sekitar Cikarang.

Check in di   de Palma Hotel   di jalan Gatot Subroto, lalu sebroyotan langsung  keluar lagi. Tujuannya sih pada mau nostalgia di Yoghurt Cisangkuy, apa daya tempat itu penuh sesak. Alhasil pilihan kembali jatuh pada restoran Sindang Reret di dekat alun-alun. Restoran yang menyajikan hidangan dapur Sunda ini memang nikmat, dan sudah beberapa kali makan di sini.Gedung Sate Bandung

Ke arah alun-alun sempat melewati Gedung Sate penanda kota Bandung. Gedung kuno ini  di bagian depannya dihiasi dengan alphabet  kekinian yang membentuk nama gedung. Aksara berukuran raksasa seperti  ini sedang populer  di mana-mana, lihat saja trend ini sampai juga  di  sudut dataran tinggi Dieng, Kawah Sikidang.

Perut kenyang lanjut menuju Trans Studio Bandung. Karena hampir setengah jam tak juga dapat parkir, akhirnya balik ke hotel sajalah. Hotel dan Trans Studio Bandung ini berada di jalan yang sama, cuma tetap aja nyasar, lalu telpon ke hotel minta panduan. Ternyata ya jalan Gatot Subroto itu panjang banget,  kalau tak salah dipotong oleh 3 traffic light.

Untuk makan malam mau cari  di sekitar hotel saja, jalan kaki ke arah simpang lima. Ternyata dapat kejutan lihat prasasti   cagar budaya Gedung Pensil yang kini dipakai sebagai  gedung Danareksa.  Gedung Pensil mendapat namanya dari bentuk atapnya yang menyerupai salah satu dari alat tulis kantor, pensil.

Simpang lima atau parapatan lima itu sendiri adalah bagian dari Groote Postweg, bagian dari jalan Raya Pos Anyer Panaroekan yang dibangun oleh Daendels.  Simpang lima di Bandung antara lain menghubungkan Jalan Gatot Subroto dengan Jalan Asia-Afrika, dan tak jauh dari Alun-alun dan jalan Braga. Nah.., apa nggak langsung buat rencana mau jalan pagi sampai ke sana, impian yang sering kusebut-sebut pengen jalan kaki menyusuri jalan Braga. Kejutan banget, nggak nyangka, karena yang pesan akomodasi itu kakak ipar 3 lewat salah satu aplikasi.

Diagonal dengan Gedung Pensil ada sebuah bangunan kuno bergaya arsitektur Eropa dengan kubah kecil di atapnya yang kini menjadi resto Lekker 188 Coffee & Food Hub. Di sinilah kami makan malam. Makanannya bervariasi, lezat pula, antara lain pesanan kami  masing-masing chicken salad, kwetiaw goreng dan fettucini. Memang tempat ini gaya pujasera, tetapi  interiornya masih ada aura tempo dulu, jadinya instagramable banget. Lekker 188 Coffee & Food Hub  rupanya jadi tempat gaul anak muda, ramai walau nggak penuh sih.., tapi jadi nggak pede bikin foto.

 

Esok harinya setengah hari di gedung resepsi. Selesai acara langsung jalan, rombongan ngajak jalan mau cari mi kocok sumsum di sekitar jalan Riau. Ini saran dari mulut ke mulut, tapi ternyata kami salah tempat bukan  gerobak mi kocok sasaran dan rasa  mi kocok yang ini  biasa saja, datar saja gitu.    Makan malam dapat bisikan lagi coba bakso bujangan yang rasanya ya so so gitu aja deh.

Rencana menyusuri jalan Braga pada Minggu pagi  pun akhirnya dibatalkan, karena khawatir dengar berita bakal ada kemacetan karena arus balik. Apalagi kakak ipar 4 harus mengejar penerbangan pada sore harinya…, ya   sudahlah rombongan pun bergegas pulang setelah sarapan. Eh..ndilalah……jalan lancar jaya…..saat adzan dzuhur kami sudah sampai di rumah. Kudu diulang lagi nih….suatu saat.