Rumah Pohon Puncak Mas

Mudik Lebaran lalu hanya sebentar saja menghabiskan waktu di kota kelahiran pak suami. Kami berangkat dari Tangerang, rumah ibuku, di hari lebaran kedua (hari Senin)   dan sudah berada kembali lagi  di  rumah pada hari Rabu.  Singkat sekali memang, karena setelah lebaran ada yang mau UAS.  Tapi yang penting sudah berziarah ke makam mertua dan silaturahmi dengan para ipar sekeluarga.

Saatnya mudik tentu ingin sekalian wisata kuliner dong ya. Tapiii.. banyak yang masih tutup. Warung pempek   yang begitu banyaknya, mi khodon, aneka  pindang ikan,  nasi uduk langganan semuanya tutup. Ya sudah gigit jari saja he.. he..

Nggak bisa wisata kuliner yuk cari durian yang kemarin  banyak terlihat di pinggiran Bandar Lampung. Biasanya di kota Bandar Lampung kami makan durian di daerahPalapa. Di tempat yang punya kontur perbukitan dan hijau rimbun ini banyak saung tukang durian. Durian di sini dagingnya tebal dan rasanya legit. Tetapi kok kali ini sepi.   Pada ke mana ya yang dagang durian?

 

 

Puncak Mas Bandar Lampung

 

Kami terus  cari sampai tiba di tugu durian hasilnya nihil. Lihat kiri kanan malah melihat  di kejauhan di sebuah puncak bukit ada huruf bertuliskan Summit Bistro.  Cari jalan ke Summit Bistro eh yang  ketemu lebih dulu adalah petunjuk arah ke Puncak Mas yang cukup ramai dengan  banyak mobil turun dari sana.  Oke kita pun coba jajal  ke Puncak Mas saja.

Puncak Mas itu ternyata adalah kompleks rumah pohon. Terlihat paling tidak ada 10 buah rumah pohon beraneka bentuk. Semuanya bertumpu pada pohon durian tinggi yang tak berbuah. Banyak pengunjung saat itu, maklum Lebaran ya dan tempat ini pun belum terlalu lama mulai operasional, jadi masih hit banget. Apalagi penataannya cukup kekinian. Sayangnya awan hitam melingkupi kota, jadi hasil fotonya tak bagus.

Tiket masuk ke Puncak Mas Rp 20.000,- per orang.

Bentuk  dan kapasitas  pengunjung untuk setiap rumah pohon berbeda. Satu-satunya  rumah pohon yang kunaiki bernama Rumah Pohon Kasih yang mampu menampung 10 orang.  Makanya harus antri dan  bergantian.

Saat naik ke atas rumah pohon sih santai saja,  ada 21 anak tangga. Tetapi begitu sampai di atas  kakiku langsung gemetar wk.. wk…  Langsung peluk pohon. Gamang banget deh. Setelah reda debar jantung barulah berani   melihat ke arah laut dan kota Bandar Lampung. Indah sekali lihat hamparan laut biru dan kapal-kapal di kejauhan. Ternyata kejadian lagi  kaki bergetar saat turun tangga, kok terasa curam banget. Jadi kapok mencoba naik rumah pohon lainnya.

 

Rumah Pohon Puncak Mas

 

Di sebelah Rumah Pohon Kasih ada Rumah Pohon Terbalik dengan kapasitas 15 orang. Ada lagi  Rumah Pohon Cinta yang berbentuk hati (di foto paling atas, berwarna pink), Rumah Pohon Rindu dan lain-lain. Di arena permainan anak pun ada dua rumah pohon, tentu dengan ketinggian yang rendah. Yang unik musholla pun terletak di atas 2 rumah pohon, musholla untuk kaum pria dan wanita dipisah.

Sementara itu  announcer yang mengumumkan ada rumah pohon berwarna merah  yang dinamakan Rumah Pohon Ekstrim.  Letaknya di dekat altar, kapasitasnya hanya 4 orang. Jaraknya dari atas tanah memang tinggi banget, hampir mencapai ujungnya pohon. Ih.. ngeri membayangkan, mungkin saking tingginya bisa merasakan pohon bergoyang meliuk meliku ditiup angin kencang.

Turun dari Puncak Masmasih penasaran dengan Summit Bistro. Cari jalan akhirnya ketemu dengan restoran  dan cafe ini. Dari tingkat atas cafe ini juga bisa lihat pemandangan ke arah kota. Sayangnya belum waktunya buka. Ha.. ha. jalan-jalan gagal melulu nih judulnya.