Begitu dengar akan ada acara kantor pada hari Minggu pagi di Taman Mini Indonesia Indah, langsung deh buat rencana mau keliling setelahnya. Tujuanku tersembunyi sebetulnya mau ke Anjungan Propinsi Nangroe Aceh Darussalam. Di anjungan propinsi ini karena ingin melihat keberadaan obyek bersejarah di sana yaitu Rumah Pahlawan Nasional Cut Meutia dan pesawat Dakota RI 001 Seulawah. Seingatku aku belum pernah ke sana sebelumnya, iya nggak ingat, dulu sih memang pernah datang ke anjungan tiap propinisi, tapi mungkin tak lihat detail, atau mungkin kedua benda itu belum ada di situ. Selain kedua benda bersejarah itu di anjungan ini sendiri ada juga rumah adat Aceh, yang disebut Rumoh Aceh. Sayangnya saat itu rumah-rumah tersebut terkunci, sehingga tak bisa masuk ke dalamnya. Aku tak sendiri, pengunjung sebetulnya banyak yang datang, jadinya mereka juga hanya bisa duduk menggelar tikar di kolong rumah.

Terakhir ke Taman Mini Indonesia Indah itu sudah lama banget, saat anak-anak masih SD, sudah tak tahu perkembangan tempat ini. Rangkaian acara Hari Kesehatan Naional berakhir, barulah dengan beberapa orang teman sengaja naik mobil keliling Taman Mini. Mobil ini berupa bis kecil yang akan mengelilingi area TMII, cukup dengan membayar Rp 5000, per orang. Di hari Minggu pagi itu TMII sudah dikunjungi banyak orang yang memanfaatkannya untuk olahraga, jalan santai, senam aerobik, dan bersepeda juga beribadah di Gereja. Di beberapa tempat ada warung-warung tenda yang menyediakan aneka hidangan dari berbagai daerah dan komoditi seperti pakaian, dan hasil kerajinan lainnya. Juga ada beberapa anjungan yang rasanya dulu belum ada, seperti Museum Hakka Indonesia.

Rumah Cut Meutia – Taman Mini Indonesia Indah

 

Rumah Cut Meutia Taman Mini Indonesia Indah Rumah Cut Meutia – Taman Mini Indonesia Indah

Cut Meutia atau Cut Nyak Meutia adalah pahlawan nasional asal Aceh, kelahiran 1870. Bersama suaminya ia melakukan perlawanan terhadap Belanda. Sang suami gugur dalam suatu pertempuran, dan mewasiatkan agar ia menikah kembali dengan rekan sesama pejuang agar ada yang menjaganya dan anak semata wayangnya. Suami kedua ini pun gugur  juga. Tetapi dua kejadian kehilangan  ini tak menyurutkan perlawanan Cut Meutia untuk terus berjuang walau harus masuk hutan belantara sampai ke Gayo, di pedalaman Aceh. Sungguh beliau itu seorang wanita yang sangat tegar dan  pemberani bukan? Pantaslah ia diberi gelar Pahlawan Nasional oleh negara.  Beliau akhirnya pun tewas dalam pertempuran di sekitar Gayo, 1910.

Rumah Cut Meutia di Taman Mini Indonesia Indah ini adalah rumah asli yang dipindahkan dari tempat asalnya di Aceh Utara, tentu saja dengan persetujuan ahli waris. Rumah Cut Meutia ini sudah  berusia 175 tahun tetapi masih terlihat sangat kokoh, tak nyata kerentaannya. Rumah  ini  tipe rumah berkolong yang  cukup tinggi, mungkin lebih dari 2 meter, terbukti orang dewasa yang tinggi besar bisa berdiri tegak di bawahnya. Bentuk rumah ini persegi panjang, dengan banyak tiang penyokong, jumlahnya ada 16 tiang.

Cut Meutia di Taman Mini Indonesia IndahPintu Rumah Cut Meutia – Taman Mini Indonesia Indah, dengan bukaan daun pintu ke arah atas, terlihat ada ornamen berupa Pinto Aceh

Rumah Cut Meutia yang bersejarah  ini unik. Ada dua hal keunikannya yang agak berbeda dari rumah-rumah adat lainnya di Indonesia. Yang pertama  yaitu bisa terlihat  pada jendela yang tak punya daun jendela. Jendela di rumah ini  bentuknya berupa lubang-lubang ventilasi  yang diselingi ukiran di seluruh dinding. Keunikan kedua yaitu bentuk pintunya, mengikuti pakem Rumoh Aceh. Letak pintu rumah adat Aceh umumnya di lantai  di ujung tangga,  dengan bukaan daun pintu ke arah atas. Pilihan pintu seperti ini untuk keamanan.  Ukiran di rumah ini berupa bunga-bungaan yang tak punya arti khusus, kaligrafi dan ada juga ukiran Pinto Aceh (bahkan pagar area anjungan NAD ini dihiasi ragam hias Pinto Aceh).

Pinto Aceh  itu ukiran yang cukup familiar. Aku punya bros imitasi (sudah jadi cendera mata khas Aceh) berdesain Pinto Aceh oleh-oleh kerabat. Desain itu sendiri adalah  desain yang diciptakan oleh Mahmud Ibrahim alias  Utoh Mud, pengrajin yang mendapat sertifikat dari pemerintah Hindia Belanda. Inspirasi ciptaannya berasal dari Pinto Khob, pintu belakang istana kerajaan Aceh, tempat keluar masuknya permaisuri Sultan Iskandar Muda jika ingin ke tempat pemandian.

Krueng Pade - Lumbung Padi

Di sebelah rumah ini terlihat juga ada bangunan kecil  untuk lumbung padi (Krueng Pade) dan penumbuk padi  kayu (jengki).
Dakota RI-001 Seulawah

Benda bersejarah lainnya  di anjungan Aceh ini adalah pesawat terbang. Pesawat terbang legendaries  bernama Seulawah. Pesawat terbang  ini sangat  terkenal karena dibelii dengan gotong royong hasil urunan rakyat Aceh.

 

Dakota RI 001 Seulawah

Pada tahun 1948 Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno seorang orator luar biasa berhasil membangkitkan patriotisme rakyat Aceh. Negara  yang masih berusia sangat muda ini tak punya biaya untuk membeli pesawat angkut yang sangat banyak manfaatnya itu. Terbakar semangatnya oleh orasi sang Presiden di Banda Aceh, rakyat Aceh tak segan menyumbangkan emas perhiasannya secara tunai. Dari hasil sumbangan itu terkumpul hingga menjadi  setara 20 kilogram emas.

Uang hasil sumbangan emas itulah yang kemudian dibelikan sebuah pesawat angkut. Pesawat ini menjadi pesawat angkut pertama yang dimiliki. Pesawat itu jenis Dakota dan dinamakan Seulawah yang artinya gunung emas. Dengan modal Dakota RI-001 Seulawah maka didirikan  perusahan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways.