Pulang Carolina Ratri "Pulang Rinrin Indriani"

Judul : Pulang

Karya : Carolina Ratri dan Rinrin Indrianie

Penerbit : Stiletto Book

Halaman : 258 hlm

Cetakan : pertama, Maret 2016

ISBN : 978-602-7572-88-1

Novel Pulang (Karena Mereka Yang Pergi Pasti Kembali)  ini memang ditulis oleh dua orang penulis fiksi handal. Buku ini bukan tentang   dua kisah  berbeda, tetapi satu cerita yang ditulis bersama  dengan sistem estafet. Begitu istilah yang dikatakan mbak Carolina Ratri, yang biasa dipanggil Carra, di blognya. Kedua penuli  saling melanjutkan cerita.

Sedangkan menurut Orin, panggilan sayang untuk Rinrin Indriani, bab pertama dibuat oleh dirinya pada Februari 2015. Kemudian bab berikutnya dilanjutkan oleh mbak Carra. Demikian seterusnya berselang-seling. Uniknya karena buku ini dibuat tanpa outline, novel ini pun berkembang  sedemikian rupa sehingga kadangkala kedua penulis ini terkaget-kaget akan perkembangan cerita, karakter dan tokohnya.

Unik banget ya cara penulisannya. Karenanya saat baca bab per bab itu jadi coba main tebak-tebakan siapa yang menulisnya. Bab pertama kuduga memang Orin yang membuatnya, karena kental suasana budaya Sunda, tetapi  di bab kedua masih tetap terasa ke-Sunda-annya. Jadi bingung sendiri, betul tidak tebakanku. Ternyata mbak Carra yang menetap di Jogja bisa menyatu dengan Orin.

Kisah ini berpusat di sebuah keluarga kakek, anak dan cucu. Buku ini menceritakan petualangan kakek dan cucu. Andromeda alias Andro yang patah hati, dan ingin meredakan rasa gundah gulananya dengan melarikan diri  ke Bromo. Merasa Andro ebagai cucu satu-satunya si kakek Kuswara alias Aki tak hendak melepasnya  sendiri. Walau setengah mati menolak ditemani toh akhirnya mereka berangkat berdua. Saling bantah membantah antara si cucu yang sebal dengan aki yang coba memahami  ini seru juga. Aki yang suka bercanda ini tak marah ketika dijawab ketus oleh cucunya sendiri.

Novel ini memakai kata ganti aku untuk semua tokoh. Jadi seolah-olah tiap orang itu menceritakan kisahnya masing-masing. Ada Dahlia (ibu Andro) yang meski telah diperlakukan semena-mena oleh suaminya Arnandi, masih tetap mengharapkan kembalinya sang suami. Ada pula Milly  gadis yang tak bisa melanjutkan hubungannya dengan Ando karena besarnya jurang perbedaan antara mereka,  Oma Cingcing tetangga yang suka kepo, Bi Nah ART yang sudah seperti keluarga sendiri. Dan ada Mel, gadis yang dikenal pasangan aki – cucu di kereta.

Terasa lucu kala si Aki Engkus coba menjodohkan Andro dengan Mel, sesama penumpang kereta api jurusan Jakarta – Surabaya via Semarang.  Apalagi kemudian Mel yang juga sedang resah ingin ikut mereka berdua  ke Bromo.

Cerita ini beralur cepat. Ada kisah tentang pulang.  Ada tokoh yang ingin pulang tapi rasa bersalah sangat menghantuinya (tak  jelas mengapa Arnandi yang semula terlihat sebagai orang baik lalu berubah menjadi pemabuk dan  player). Ada pula yang tak ingin pulang, ada yang ingin pulang karena merasa telah menemukan seorang yang menarik hati.

Tambahan  caption pada judul novel  “Karena mereka yang pergi pasti kembali”  adalah kesimpulan dari kegelisahan dari setiap tokohnya. Semua tokoh pada akhirnya kembali ke asal.

Andro pasti pada akhirnya harus kembali pulang ke rumah, berkumpul dengan Aki Engkus dan ibunya. Mel harus balik ke Semarang menyelesaikan masalah sendiri. Arnandi yang mulai sadar akan kesalahan masa lalunya dan ingin melihat istrinya lagi.  Dan tentang Dahlia yang ingin membuka pintu hati kembali untuk suaminya.

Makna pulang di sini bukan hanya berarti kembali ke asal, tetapi juga kembali menuju kesadaran. Pulang adalah  sebuah perjalanan batiniah  yang dimulai dari penolakan atas sebuah keadaan atau takdir, berlanjut dengan pergolakan dan pertentangan di dalam diri untuk menolak atau menerima dan berakhir dengan kesadaran bahwa semua proses perubahan harus dijalani dengan tabah.

Bi Nah, asisten rumah tangga, yang sebetulnya adalah sahabat karib almarhumah istri Aki, berarti neneknya Andro dong, ternyata pegang peran penting menentukan jalan cerita. Almarhumah nenek  Andro berpesan kepada bi Nah agar menjaga keluarganya terutama Dahlia dengan baik. Bi Nah sendiri pun punya kisah sendiri,  pengalaman masa lalu pahit dengan mantan suami.

Sakit hati tak hanya meninggalkan dendam, tapi juga bisa  menimbulkan penyesalan.  Akhir kisah  walau membersitkan kata “seandainya begini ..” di pikiran pembaca tetapi ini adalah ending yang bagus. Ending khas Orin kataku.  Memang tulisan Orin sudah kukenal sejak ia masih menulis fiksi di blog dan mengikuti  2 buku lainnya.  Sedangkan tulisan mbak Carra baru kali ini kubaca.

Kolaborasi kedua penulis ini apik sekali,  suasana pas “nyunda” nggak tercampur “njawani”. Btw, buku ini adalah buku keduanya  Orin yang ada di blog ini setelah Yesterday in Bandung.