Berada di kota Surabaya hanya  transit semalam  tentu tak banyak tempat yang bisa dikunjungi. Untuk  sementara rasa ingin tahu tentang kota ini bisa diperoleh dari kartu pos bergambar suasana Surabaya  tempo dulu yang dibeli di House of Sampoerna  di ibukota propinsi Jawa Timur ini. Sedikit banyak bisa mengetahui keunikan suasana  kota tua Surabaya.

Cuma ada beberapa varian kartu pos yang dijual di sana, dikeluarkan oleh Sawoong. Di bagian belakang ada kalimat bahasa   Belanda yang  telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ejaan lama  berisi pesan ” ….. Agar tida toelis hal2 jang oendang permoesoehan politiek terhadap Keradjaan”.

Jembatan Merah Surabaya

Pasukan raun  menginap di Hotel Ibis di jalan Rajawali di wilayah kota tua Surabaya, sangat dekat dengan Jembatan Merah dan House of Sampoerna.  Tak juga ada waktu sekedar berhenti dan lihat-lihat di jembatan itu karena harus segera ke bandara.

Kartu Pos Jembatan Merah Surabaya Foto circa 1880-1900

Jembatan merah sungguh gagah berpagar gedung indah

Sepanjang hari yang melintasi silih berganti

Mengenang susah hati patah ingat jaman berpisah

Kekaksih pergi sehingga kini belum kembali

Biar jembatan merah andainya patah

akupun bersumpah akan kunanti dia di sini

bertemu lagi

 

Lirik lagu berjudul Jembatan Merah ciptaan almarhum bapak Gesang ini yang lebih dulu kukenal. Lagu keroncong mendayu ini pernah diajarkan di sekolah. Jembatan yang membentang di atas Kali Mas ini sejak dulu pegang peran penting karena merupakan jalur utama ke kantor pemerintahan.

Jembatan Merah ini memang sudah hampir identik dengan kota Surabaya. Di dekat Jembatan Merah ini Brigadir Jenderal AWS Mallaby  dari pasukan Sekutu tewas tertembak. Peristiwa yang beberapa hari kemudian memicu pecahnya pertempuran 10 November 1945, tanggal yang kemudian menjadi Hari Pahlawan.

Penampilan jembatan ini kini mirip dengan jembatan lain di sekitarnya, pembedanya hanyalah warna merah. Jembatan menghubungkan jalan Rajawali dan jalan Kembang Jepun.

Oranye Hotel Surabaya

Hotel Oranye Surabaya 

Sebuah hotel pun bisa disebut bangunan bersejarah. Tentu saja, karena  di hotel  inilah pada 19 September 1945 terjadi  insiden perobekan bagian biru dari bendera Belanda sehingga menjadi  merah putih. Saat itu hotel telah berubah nama menjadi Hotel Yamato, dan menjadi markas tentara Jepang.  Kini menjadi Hotel Majapahit.

Hotel ini dibangun pada 1910 bergaya art nouveau, 20an tahun kemudian direnovasi  menjadi gaya art deco. Di menara sebelah kirilah terletak tiang bendera yang mengibarkan bendera Belanda itu. Arek Surabaya marah melihatnya dan merubahnya menjadi bendera Indonesia.

Willemskade Surabaya

Willemskade 

Kartu pos  ketiga ini menggambarkan situasi sebuah area perkantoran di dekat Jembatan Merah, bernama Willemskade. Ada trem yang melewati jalan ini ya… , bersebelahan dengan pengendara sepeda. Lalu lintas yang rapi dan teratur. Semoga kelak jalur trem yang rencananya akan dihidupkan lagi masih melewati jalur kota lama ini.Pasti mengesankan.

Di Willemskade ada sebuah gedung  kantor asuransi Algemeene, yang masih kokoh berdiri walau tak dipakai lagi. Ada mozaik porselen cantik di sini karya Jan Toorop yang masih menyimpan misteri, menggambarkan Raja Firaun bersama ibu Eropa dan Jawa, yang masing-masing menggendong anak, dan berhias bunga dan simbol masonik.

Nah, masih banyak sisi menarik kota Surabaya yang belum banyak kuketahui, menunggu hasil  liputan dari blogger Surabaya tentang kotanya ini.

Sumber :

  1.   nationalgeographic.co.id
  2.   Wikipedia