Sekarang ini banyak buah atau tanaman yang memakai embel-embel Bangkok, entah itu jambu Bangkok, atau duren Bangkok dan beberapa jenis lainnya. Bisa dimaklumi karena  banyak buah impor yang berasal dari sana. Tetapi di masa kecilku dulu, yang terkenal adalah embel-embel Manila  seperti rumput Manila, dan pisang Manila. Orang kita suka yang berbau asing memang sudah dari dulu ya…, kapan dong bangga dengan nama sendiri….?

Pohon Pisang Manila

 

Tiba-tiba saja kuteringat lagi pada pisang Manila ini, setelah melihat pisang hias di halaman istana Bung Hatta di Bukittinggi. Pisang Manila itu agak mirip dengan pisang hias di atas, hanya lebih besar dan daunnya lebih lebar. Daun seolah-olah keluar tak jauh dari tanah.

Dahulu aku kagum sekali melihat pohon pisang yang ditanam di halaman depan rumah-rumah orang kaya. Rumah-rumah itu berhalaman sangat luas, dan pohon pisang Manila ditanam di tengah halaman. Hanya satu pohon di halaman seluas itu sehingga fokus pandangan  memang hanya  ke pohon pisang saja. Kulihat pohon pisang itu anggun dan megah.

Kucoba googling tapi tak menemukan gambar yang mirip, hanya kutemukan gambar pisang yang agak  mirip yaitu  pisang kipas yang bernama Latin Ravenala madagascariensis.

Kembali ke istilah pisang Manila, ternyata  setelah googling barulah  kutahu sebutan itu mungkin timbul karena di Filipina sana banyak tumbuh  pisang yang bernama Musa textilis . Serat dari pohon pisang ini bisa dipintal menjadi kain dan dibuat menjadi pakaian nasional Filipina yang disebut barong (pakaian pria) dan terno (pakaian wanita) seperti yang sering dipakai  Ferdinand Marcos dan Imelda Marcos, pasangan presiden Filipina yang sangat terkenal dengan gaya hidup mewahnya.