Teringat dulu, aku adalah seorang anak pendiam dan pemalu, sampai kini pun masih kurasa ada sisa-sisanya he..he..

Kalau tak salah kejadian yang berkesan ini terjadi di kelas 2 atau 3 sekolah dasar. Sore itu dengan bus kompleks  aku dan seorang teman ke perpustakaan,  mau pinjam buku tentu sajaSesudah dapat buku yang diinginkan, aku bersama  teman  sekelasku itu pergi ke halte bus, bersama-sama juga dengan beberapa anak perempuan yang lebih besar. Aku ditinggal jalan di belakang sendirian, sementara temanku yang lebih banyak omong itu diajak mereka. Salah satu gadis itu malah bilang … itu adikmu ..temanin tuh… sambil tertawa-tawa melihat ke arahku. Aku diam saja tetapi tetap ikut mengekor di belakang mereka. Tapi …kurasa dalam hati ada perasaan sakit karena merasa diejek dan  tak dianggap. Ternyata tak kusadari kejadian itu masih menimbulkan rasa pahit.

Masa-masa selanjutnya aku masih tetap pendiam dan tak banyak omong. Sifat pemalu mengajak orang berbicara duluan masih tetap ada. Aku tak berani tampil sendirian di muka orang banyak, kecuali bila tampil  itu bertiga atau beregu. Bahkan setengah mati aku menolak ketika ditunjuk guru untuk menjadi pemeran di sandiwara sekolah, apalagi perannya jadi ibu dan pemeran anakku adalah anak cowok, kakak kelas…Aku  takut membayangkan adegan harus di atas panggung sendirian. Bu guru terus  saja menyuruh latihan, tapi akhirnya aku terselamatkan karena acara perayaan di sekolah dibatalkan. Horee…

Rasa malu dan takut tampil sendiri itu masih bertahan sampai masa bekerja. Perasaan campur aduk berdebar-debar karena diharuskan tampil penyuluhan sendirian. Sebagai petugas kesehatan aku harus melaksanakan program usaha kesehatan gigi sekolah. Program ini antara lain  meliputi pemeriksaan kesehatan dan penyuluhan pada anak murid kelas 4 dan 5 SD.

Masa sih..sama anak kecil saja malu ?

Belum tahu sih ya.. bagaimana tingkah anak SD bila yang masuk kelas bukan gurunya, he..he… pembelaan  diri. Anak-anak itu akan ribut berteriak, sebagian menangis takut disuntik ketika guru memperkenalkan diriku. Sesudah diperkenalkan, lho kok  guru meninggalkanku sendirian dengan 30-an  anak. Bagaimana ini ?

Mulailah kekacauan, anak-anak mulai ribut berpindah duduk, merubung di dekatku. Aku yang grogi bertambah kacau saja karena ternyata untuk bicara  di depan kelas itu perlu suara yang lantang. Aku yang biasa buka mulut seadanya, jadi seperti berbisik.  Mungkin juga ini  karena pengaruh suasana ruangan kelas yang besar, beratap tinggi, dan jendela-jendela terbuka ditambah lagi keributan anak-anak. Baru lima menit berbicara suaraku hilang, tenggorokan langsung sakit (salut sama bapak ibu guru yang tetap bersuara  setelah seharian mengajar). Alhasil penyuluhan hari  pertama itu sangat singkat dan materi yang dibicarakan pun seadanya.

Pengalaman penyuluhan pertama itu mengajarkan banyak hal, antara lain bagaimana mengatasi kerumunan anak-anak, penyuluhan efektif ataupun cara menangani anak yang ketakutan. Setelah sekian kali penyuluhan akhirnya akupun  dengan kerumunan anak. Bila guru meninggalkan kelas kuminta bantuan ketua kelas untuk menenangkan temannya yang ribut sehingga aku bisa lebih fokus pada penyuluhan. Sejak itu   perlahan sifat pemaluku mulai menghilang. Kini penyuluhan di depan anak-anak atau orang dewasa seperti ibu kader dan masyarakat umum insya Allah sudah lebih tenang dan bisa lebih lancar, meskipun suara tetap tak bisa lantang, …kan sudah ada pengeras suara,  he..he….