Ada pengalaman pertama yang terjadi saat makan siang di puskes. Ada jenis masakan yang baru pertama kali kutahu dan cicipi. Kebetulan hari itu tak ada pedagang makanan di sekitar karena baru saja ada penertiban. Seorang teman yang baru saja dapat kiriman dari kampungnya di daerah Banjarnegara sana mengajak masak saja. Hari Jumat waktu istirahat kami cukup panjang, 2 jam, cukuplah untuk menyiapkan makan siang praktis.

Bu Sri dapat oleh-oleh beras singkong yang di daerahnya disebut leyeh atau nama lainnya disebut juga oyek. Dia sengaja pesan karena katanya kangen makan leyeh. Ternyata leyeh itu sudah agak sulit dicari di kotanya dan harganya cukup mahal Rp 16.000 per kilonya. Lebih mahal dari beras ya.

Leyeh atau oyek itu dibuat dari singkong. Singkong dikupas dan dijemur, kemudian ditumbuk hingga menyerupai serpihan. Ini rupa leyeh atau oyek mentah.

Agar siap santap oyek mentah harus dikukus. Hari itu kami merasakan dua variasi nasi oyek. Yang pertama oyek yang sudah dikukus dicampur dengan sedikit garam dan parutan kelapa. Rasanya enak kok, mirip getuk, ya iyalah … sama-sama dari singkong.

Variasi kedua nasi oyek disajikan dengan urap sayuran, ikan asin dan tempe goreng dilengkapi dengan sambal dari Surabaya yang dibawa oleh teman lainnya. Kami semua baru pertama kali mencicipi nasi oyek. Awalnya terasa agak lain, tetapi akhirnya semua menyukainya, bahkan makan jadi nambah. Masakan tradisional sederhana ala rumahan tapi sangat kami nikmati, insya Allah makin mengakrabkan kami.

20131013-191843.jpg