Ullen Sentalu.  Dua patah kata asing yang tak kutahu maknanya ini terdengar indah di telingaku. Membuat penasaran. Begitupun ketika melihat foto teman yang berlibur ke sana … langsung terbersit keinginan harus datang.

Datang pertama kali ke Museum Ullen Sentalu  pada suatu  Senin siang, di 2010, tak sadar bahwa di semua museum hari Senin itu adalah hari libur. Dan betul,  museum tutup. Sangat kecewa dengan kebodohanku, tetapi sempat juga memandang ke sekeliling  lokasi di  lereng gunung Merapi, Yogyakarta, tepatnya di jalan Boyong Kaliurang. Aku langsung terpana. Tak terlihat bangunan, hanya ada loket dan pintu gerbang di antara rerimbunan pohon yang lebat. Di mana museumnya?  Maka, aku bertekad akan kembali lagi, untunglah keluarga bersedia he..he…

Ketika datang kedua kalinya 2 hari kemudian cuaca tak mendukung, hujan lebat baru saja berakhir, menyisakan udara pegunungan yang semakin  dingin dan berkabut. Tiket masuk sudah di tangan, Rp 25,000 untuk dewasa dan Rp 15,000 untuk anak-anak. Petugas loket meminta  kami  menunggu sebentar karena akan dijemput oleh pemandu.

Sambil menunggu pemandu datang,  kuamati tiket itu, cantik sekali. Tiket berbahan kertas tebal bergambar lukisan indah yang menggambarkan  dua orang penari berkostum tari tradisional Jawa, salah satunya bertopeng,  lengkap dengan sampurnya (selendang di pinggang untuk menari). Lukisan yang mengambarkan kelenturan tubuh si penari ini adalah salah satu koleksi museum.

museum Ullen Sentalu

Di bagian belakang tiket tertera  kalimat  pengantar berbahasa Inggris yang membuatku semakin terkagum. Pengantar yang membuat semakin ingin tahu. Tiket cantik ini kuniatkan untuk disimpan, jatuh cinta pandangan pertama pada tiketnya (memang tiket masih kusimpan setelah dua tahun berlalu, dilaminating supaya awet).  Tiket saja digarap  seserius ini, pasti isi museum sangat menarik

museum Ullen Sentalu

Mbak pemandu datang mengajak kami masuk ke dalam. Diwanti-wanti tidak boleh mengambil foto, dan memang di mana-mana ada plang NO PICTURES, hanya boleh di taman dekat pintu keluar. Menurut sang pemandu, Ullen Sentalu  adalah akronim.  Terus terang sudah lupa kata-kata tepatnya, tetapi ini  dari  Wikipedia  : ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku  yang artinya adalah “Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”.Blencong adalah  lampu minyak yang dipakai pada pertunjukan wayang kulit.

Kami dibawa ke dalam Taman Kaswargan. Konsep museum yang hendak menyatu dengan alam sekelilingnya, sehingga sebagian ruang dibuatkan  di bawah tanah, kental dengan budaya Jawa.

Memang konsep museum ini adalah menyimpan kekayaan tak benda (intangible heritage), yang rawan hilang di tengah  gempuran modernisasi. Maka, di sini tak hanya menyimpan benda bersejarah seperti artefak  tetapi hasil dari kebudayaan itu sendiri. Label pada koleksi juga tak ada, mengandalkan sepenuhnya pada kemampuan pemandu. Lebih lanjut  mengenai konsep museum ini bisa di cek di profil Ullen Sentalu di situsnya.

Koleksi museum ini ditata apik dengan konsep pencahayaan dan penataan seperti di galeri internasional,  sangat berbeda dengan museum pada umumnya. Kesannya eksotis dan magis. Museum tercantik yang pernah kulihat di negara kita. Koleksinya yang berasal dari balik tembok istana 4 kerajaan Jawa yang selama ini tersembunyi dari pandangan umum yang membuatnya semakin menarik. Kehidupan putri keraton dan rahasia di dalamnya, terkuak di sini, termasuk surat cinta salah seorang putri. Tak ada foto,(suasana hujan rintik  dan berkabut, sehingga di luar pun tak bisa berfoto) hanya mengandalkan ingatan yang menjadikan kunjungan ke sini tak terlupakan.  Semoga ada kesempatan kedua datang ke sini lagi.

“Pandangan Pertama Special Untuk Langkah Catatanku”