Aku baru sadar lho kalau kita sehari-hari sebetulnya sangat akrab dengan karya lukis maestro Basoeki Abdullah (1915-1995). Bukan hanya aku  tapi hampir  semua dari kita yang pernah jadi murid sekolah. Nggak percaya? Walau kita tahu pak Basoeki Abdullah pelukis istana yang melukis  presiden dan raja, tetapi  beliau juga pernah melukis para pahlawan. Beliau pernah melukis wajah RA Kartini, Teuku Umar dan banyak lagi. Wajah Pattimura,   adalah salah satu hasil imajinasinya, yang kemudian menjadi patokan seniman lain untuk  diperbanyak  dalam  medium lain seperti misalnya pada uang kertas Rp 1000.-.

IMG_9431.JPG

Info ini kudapat saat  pembukaan Pameran Rayuan 100 tahun Basuki Abdullah yang  berlangsung tanggal 21 sampai dengan 30 September 2015 di Museum Nasional, jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Dalam  pidatonya Mendiknas Anis Baswedan yang kemudian membuka pameran mengatakan itu bukti kekuatan imajinasi. Tak ada yang tahu sosok Pattimura, tetapi pak BA menggambarkannya dengan sangat baik. Basoeki Abdullah adalah seorang maestro.  Pak menteri bilang  seorang maestro bisa menjadi inspirasi. Contohnya Nyoman Nuarta yang kini dikenal sebagai pematung (karyanya antara laun Garuda Wisnu Kencana di Bali)  menjadi terinspirasi hanya dengan memandang sosok maestro seni lukis Indonesia lainnya, Afandi, dari kejauhan. Oleh  karenanya pak menteri  ingin mengembangkan ide berupa menitipkan murid SMA selama seminggu dengan seorang maestro bidang apa saja, agar tertular inspirasi yang sama..  Katanya janganlah kita berusaha menutupi sebuah kekurangan tetapi maksimalkan kelebihan yang dimiliki sampai  timbul ke permukaan.

Pameran Basoeki Abdullah

Foto bersama setelah pembukaan pameran

 

Basoeki Abdullah telah dikenal sebagai pelukis potret  yang bisa melukis seseorang lebih indah dari aslinya.  Nama dan bakatnya mulai dikenal luas setelah memenangkan kompetisi melukis pada acara penobatan Ratu Juliana, 1948, di Belanda. Sejak itu  dengan kemampuan melukis dan komunikasinya ia mampu masuk ke Istana, berteman baik dengan Bung Karno, lalu juga jadi pelukis  di istana Kerajaan Thailand, Brunei Darussalam dan Philipina. Karya lukisnya menjadi Koleksi Istana Kepresidenan, misalnya lukisan fenomenal Jaka Tarub dan Bidadari.

Acara pembukaan dimeriahkan oleh penampilan seniman tari dari Institut Seni Indonesia Solo yang menampilkan paduan tarian klasik dan humor  dengan tokoh Hanoman, tokoh kesukaan BA. Juga penampilan Wawan TEAMLO yang  melukis terbalik dengan hasil akhir berupa wajah Mendiknas.

 


Acara pembukaan dimeriahkan oleh penampilan seniman tari dari Institut Seni Indonesia Solo yang menampilkan paduan tarian klasik dan humor  dengan tokoh Hanoman, tokoh kesukaan BA. Juga penampilan Wawan TEAMLO yang  melukis terbalik dengan hasil akhir berupa wajah Mendiknas.

Lukisan di Philipina
Lukisan mantan Presiden Philipina Ferdinand Marcos dan keluarga

Basoeki Abdullah, cucu dari Dr Wahidin Sudirohusodo lahir tahun 1915. Tahun ini adalah seabad setelah kelahirannya. Acara peringatan ini telah berlangsung sejak awal tahun 2015 dengan berbagai kegiatan seperti workshop melukis, pameran keliling, kompetisi lomba melukis tingkat SMP se Jabodetabek, dan ditutup dengan pameran 100 tahun Basoeki Abdullah ini.

Lukisan di Thailand
Lukisan Raja dan Ratu Thailand

Di ruang pamer ditampilkan karya yang oleh kurator diklasifikasikan menjadi 7 bagian yaitu lukisan tentang hubungan Basoeki Abdullah dengan dirinya sendiri, dengan Budaya Jawa, dengan Indonesia, dengan 3 Negara Asia Tenggara, dengan Soekarno dan dengan Keperempuanan. Khusus kategori terakhir lukisan ditempatkan dalam ruang bertirai dan terlarang untuk anak-anak, you may guess why..

Pameran ini merupakan kerja sama Museum Nasional Indonesia bersama Museum Basoeki Abdullah, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan . Pameran juga didukung instansi pemerintahan, dan para pelaku dan pencinta seni rupa di Indonesia. Ikut ditampilkan di pameran ini karya dari para perupa seperti  Budi Pradono Architect, Mata Art Space, Komunitas 12 Pas, Komunitas WPAP, Teguh Ostenrik, Farhan Siki, Agus Novianto, Jerry Thung, Yani Sastranegara, Paul Hendro, Sudigdo, dan perupa Pasar Baru. Kurator acara ini adalah  Bambang Arsini W dan Mikke Susanto.

Hadir di acara ini Ibu Sidhawati putri Basuki Abdullah, mantan Mendiknas Wardiman Djojonegoro, mantan Dirjen ibu Edi Sedyawati, Setiawan Djodi, Guruh Sukarnoputra, penikmat seni dari dalam dan luar negeri, dll. Acara pembukaan diakhiri dengan pengguntingan pita dan  peninjauan koleksi yang dipandu oleh kurator Mikke Susanto. Di acara ini juga diluncurkan 2 buah buku baru  yaitu Basuki Abdullah Sang Hanoman Keloyongan karya Agus Dermawan T dan Lukisan Pemandangan Alam Keluarga Abdullah (Abdullah Surio Subroto, Sudjono Abdullah, Basoeki Abdullah.

Selain di pameran ini lukisan karya Basoeki Abdullah bisa dilihat di Museum Basoeki Abdullah. Museum ini adalah rumah pribadinya yang diwasiatkannya untuk negara, berikut koleksi buku, lukisan dan benda memorabilia.

Alamat  : Museum Basoeki Abdullah

jl. Keuangan Raya No 19, Cilandak Barat, Jakarta Selatan