Nan kuriak kundi nan merah sago
Nan baik budi nan elok baso


Peribahasa Minang di atas  berarti  “yang bermotif itu kundi (biji saga), yang berwarna merah itu saga, yang baik itu budi, yang indah itu bahasa (sopan santun atau tata krama). Kurang lebih peribahasa itu menekankan menjaga tata krama dalam pergaulan.

Oh ya peribahasa itu kutemukan di bagian atas rumah bagonjong di kelok 44 di Maninjau.

Tata krama dan sopan santun itu salah satu modal utama supaya bisa berhasil dalam kehidupan sosial. Seseorang tak bisa hanya pintar. Orang pintar tapi tak sopan juga tak akan berhasil di pergaulan. Orang pintar yang penyendiri, tak bisa mengungkapkan isi pikirannya dengan santun tentu tak akan punya banyak teman. Akhirnya jadi anti sosial.

Dulu pernah ada pelajaran budi pekerti di sekolah. Di SD dan SMP pernah jadi salah satu mata pelajaran. Agak  tak disukai memang karena terasa abstrak. Mungkin cara guru mengajarkan yang bikin bosan.

Memang pendidikan budi pekerti itu  bisa diperoleh dari orang tua, sekolah dan lingkungan.  Pihak-pihak inilah yang berperan membangun dan memperbaiki jika anak melakukan kesalahan. Tanpa diberitahu dan diberi contoh anak tak akan mengerti cara menyampaikan pendapat, menegur atau mengkritik dengan cara yang pas tetapi sopan agar orang tak tersinggung.
Mendengar berita kasus-kasus murid yang berani mencelakai gurunya sendiri  membuat miris. Belum lagi kasus bullying. Bukan hany di satu tempat, tapi hampi meluas di berbagai penjuru. Apakah ini adalah contoh kegagalan lingkungan mendidik anak?

Apa yang salah dari anak-anak sekolah masa kini? Ataukah ada kesalahan dalam sistim pendidikan? Apakah anak-anak ini pernah mendapat   pendidikan budi pekerti? Apakah mereka paham  apa yang  diajarkan pada mereka?

Pelajaran agama adalah pelajaran wajib yang sudah diberikan sejak anak duduk di kelas 1 SD. Selain itu ada pelajaran PMP.  Banyak pendidikan sopan santun yang bisa diselipkan melalui pelajaran ini.  Misalnya cara berbicara dengan orang yang lebih tua,  bersikap kepada guru,  dan bagaimana memperlakukan orang yang lebih muda, sopan santun di meja makan, dan lain-lain. Semuanya bertujuan menelurkan siswa dengan akhlak yang baik.

Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah Saat Ini

Saat ini, tak ada lagi pelajaran budi pekerti. di sekolah.  Tak ada lagi pelajaram  yang  sevara gamblang  mengajarkan tentang tata krama. Pelajaran ini tidak lantas membuat anak jadi baik di lingkungan luar sekolah.  Tapi paling tidak, adanya pelajaran budi pekerti  menandakan  adanya perhatian  dunia pendidikan  turut membentuk anak didik memiliki budi pekerti yang baik.

 

Masalah budi pekerti kembali lagi pada kepribadian seseorang.  Keluarga dan lingkungan  terdekat merupakan  pembentuk dan penjaga budi pekerti seorang anak tetapi sekolah dan guru juga bertanggung jawab menjaga nilai-nilai budi pekerti. Dunia pendidikan memang seharusnya tak boleh menghilangkan nilai budi pekerti dalam setiap ajarannya, baik itu eksplisit maupun implisit.