Karya wisata di masa sekolah  saat ini sudah biasa ya, bahkan anak TK pun sudah ikut acara seperti ini. Namun di masaku karya wisata  jarang banget. Pengalaman berkesan di acara jalan-jalan sekolah itu di  Desember 1982.

SMAku di  Sumatera Selatan dan acara karya wisata ke Jogjakarta. Sudah terbayangkan jauhnya perjalanan antar pulau dan  harus menyebrangi selat Sunda, karena kami akan pakai jalan darat dan laut. Kok jauh banget wisatanya? Katanya sih karena kebetulan ada salah satu pak guru yang asal Jogjakarta dan bisa mengurus segala sesuatunya di sana.

Alhamdulillah orang tua mengijinkanku ikut. Sayangnya teman-teman akrabku  tidak diperbolehkan oleh bapak ibunya. Rasanya jadi ingin batal pergi.  Aku masih terhitung anak baru,   dan  belum punya banyak teman.  Tapi kapan lagi bisa jalan-jalan ke pulau Jawa kan. Walau detail perjalanan banyak yang terlupa,  yang   masih diingat  adalah  perasaan jadi orang  terlantar di perjalanan, he..he..

Perjalanan Palembang – Jogjakarta ternyata sangatlah panjang dan lama menurut ukuran seorang remaja yang tak pernah bepergian jauh. Dari stasiun Kertapati  Palembang kami naik kereta api Limex menuju ke pelabuhan penyeberangan  Panjang, Lampung.  Berangkat agak siang  meninggalkan Palembang dan tiba di Panjang sudah sore.  Kapal penyeberangan berangkat malam hari dan sampai di Merak pagi harinya. Di kapal kami semuanya tidur  geletakan begitu saja di lantai, hanya beralas koran wk..wk..

Hari sudah berganti  tapi setibanya di Merak bisa dibilang  kami jadi  terlantar. Entah bagaimana koordinasi panita, bus yang akan membawa kami ke Stasiun Gambir tak ada.  Duduklah kami di parkiran di bawah bayangan antara bus dan truk, berpanas-panas, sarapan nasi bungkus yang entah dibeli di mana. Setelah penantian yang rasanya lama banget  akhirnya kami bisa naik bis.

Sampai di Gambir cobaan belum selesai. Miskoordinasi lagi, kami tak dapat tiket kereta api ke Jogjakarta. Para guru mondar-mandir mengurusnya ke kantor stasiun. Kami terduduk lemas terkapar di lantai stasiun Gambir.  Kok rasanya merana  banget. Badan sudah terasa sumuk banget belum mandi lebih dari 24 jam. Ingin menghubungi tanteku di Grogol, tapi nggak bawa nomor telponnya. Sudah berusaha cari di buku telpon di boks telepon umum, tapi nggak ketemu juga. Maksudku sih supaya dijemput, mau minta numpang mandi. Teman-teman sih ada yang mandi di kamar mandi di stasiun.  Tapi, aku nggak cocok dengan keadaan kamar mandinya, biarin deh nggak mandi, ngeri ada yang ngintip he..he..

Saatnya tiba akhirnya kami bisa naik ke atas gerbong kereta api yang akan membawa kami ke kota tujuan. Leganya bisa duduk di bangku kereta itu, terbayang sebentar lagi sudah akan berkeliling kota Jogjakarta. Dasar aku norak ya.  kukira satu gerbong itu hanya rombongan kami. Cukup kaget juga  ketika akhirnya gerbong dimasuki penumpang lain. Mereka mula-mula berdiri, tapi lama kelaman duduk di lantai  dan malah akhirnya tiduran di  kolong kursi kami. Kurasa aku mengalami gegar budaya, he..he..,kusangka mereka itu penumpang gelap yang nggak punya karcis.

Kami sampai di Prayogo Guest House, jl Prawirotaman 11, Jogjakarta sudah malam. Langsung saja yang dicari kamar mandi, rindu merasakan dinginnya air di badan yang sudah kepanasan dan berbau segala rupa he..he.. Habis mandi langsung dong serbu tempat tidur, tak sabar merebahkan badan setelah perjalanan melelahkan selama 2 hari.  Pengalaman pertama kali ke Jogjakarta yang tak terlupakan. Pengalaman pertama bepergian tanpa orang tua, yang harus mengalami ketidak-nyamanan. Pengalaman pertama merasa terlantar dan tersia-sia, wk..wk..

 

“Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Unforgettable Journey Momtraveler’s Tale”