Sesudah mengunjungi   Candi Cangkuang dan Kampung Pulo sesuai rencana kami akan ke Singaparna mendapati  seorang teman lama. Kami harus kembali ke arah Garut lagi, karena Singaparna itu terletak antara Garut dan Tasikmalaya, sedangkan Candi Cangkuang sebelum Garut. Sebelum memasuki kota Singaparna kami akan mampir di Kampung Naga, sebuah kampung yang unik budaya dan tradisinya, kampung dengan masyarakatnya yang masih memegang erat tradisi dan adat istiadat. Rencana ke Kampung Naga ini setelah dapat saran dari mbak Bintang Timur,.

Jalan ke daerah ini berada di dataran tinggi, meliuk meliku mengitari pegunungan, melewati lembah yang hijau dan asri. Di sepanjang jalan banyak  lapak kecil yang menjual buah-buahan dan nira. Mungkinkah daerah ini penghasil gula aren ? Jalan tak terlalu ramai kendaraan, sehingga walau medan jalan cukup membutuhkan konsentrasi mengemudi tapi bisa tetap santai. Jarak dari Garut ke Kampung Naga kira-kira 26 km.

Kami sampai di sebuah lahan parkir cukup luas, di sebelah kiri jalan raya. Tak terlihat perkampungan yang dituju, hanya ada rumah-rumah biasa. Di lahan parkir ini beberapa wisman sedang berteduh di warung, kulitnya yang putih terlihat sangat merah. Aduuh, pasti perjalanan ke Kampung Naga ini cukup menguras tenaga, bule yang tinggi besar dan kuat saja sampai kelelahan begitu…, jadi keder .

Di sini kami didatangi seorang pemuda yang menawarkan diri mengantar ke lokasi. Ok, karena ternyata dia adalah penduduk Kampung Naga, tentu banyak cerita yang bisa dibagi. Untuk masuk ke Kampung tak ada biaya apapun. Kami lalu dibawanya  ke arah kampung. Ternyata Kampung Naga terletak jauh di lembah. Dari ketinggian itu rumah-rumah  terlihat kecil rapat tetapi kesan tradisional langsung terlihat nyata. Kami tertegun di puncak tangga, menimbang-nimbang melanjutkan perjalan atau tidak. Anak-anak setuju untuk lanjut, ok mari kita turuni tangga berjumlah 439 itu,walau akhirnya anak-anak mengaku kaki masih gemetar.

Kampung Naga

Kampung Naga terletak di lembah subur, tepat di  pinggir sungai Ciwulan yang ada pintu air untuk irigasi sawah. Saat itu  sawah-sawah baru mulai masa tanam yang baru,  padi  yang baru ditanam itu masih pendek, sehingga tak ada hamparan sawah hijau seperti yang terlihat di banyak foto-foto  tentang Kampung Naga.  Di seberang sungai ada hutan larangan yang tabu dimasuki dan diolah, karena ada makam keramat , kata kang Huria si pemandu itu sebagai  bukti  penduduk Kampung Naga peduli lingkungan.

Rumah-rumah di Kampung Naga terletak di dalam pagar bambu. Tak ada larangan untuk membangun rumah baru asalkan masih ada lahan dan tetap di dalam pagar. Makanya jarak antar rumah itu cukup rapat. Di sini ada 113 bangunan,  108 KK dan jumlah jiwa 316.  Luas kampung ini 1,5 hektar dan hutan larangan 0,5 hektar. Yang tak boleh dibangun hanya di tempat terbuka di sekitar masjid, karena tempat itu adalah tempat berkumpulnya warga, baik warga kampung sendiri atau warga sekitar. Pagi hari (saat kami masih di Kampung Pulo dan Candi Cangkuang) ada acara  di mana waga luar kampung membawa nasi tumpeng untuk didoakan bersama dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Kami pun masih bertemu warga yang keluar kampung memikul keranjang dan rantang.

 

 

 

IMG_8023

Rumah di Kampung Naga adalah rumah panggung, terbuat dari kayu dan bambu.  Atapnya terbuat dari ijuk dan daun tepus (tanaman sebangsa lengkuas, tetapi daunnya lebih besar). Atap seperti itu katanya bisa bertahan 20 tahun.  Tiang rumah panggung ini hanya diletakkan begitu saja di atas batu.  Sebetulnya inilah bentuk dan bahan rumah yang paling cocok  untuk Indonesia yang terletak di daerah rawan bencana, di daerah ring of fire. Bila ada gempa besar rumah hanya akan bergoyang mengikuti goyangan gempa,  dan bila rubuh pun materialnya yang ringan tidak akan  menimbulkan banyak korban. Kearifan lokal yang masih dipegang erat ini patut diacungi jempol.

 

IMG_8018

Hal yang unik  lainnya di rumah penduduk adalah bentuk pintunya. Tiap rumah itu punya dua pintu dari bahan berbeda. Pintu yang terbuat dari papan adalah pintu masuk ke ruang utama, pintu dengan bahan papan dan bambu untuk masuk ke dapur. Lantainya pun berbeda, lantai dapur dari bambu,  lantai ruang utama dari papan. Tetapi kalau kita lihat di dalam rumah di antara ruang ini sebetulnya tak ada pembatas, hanya jelas terlihat pembedaan fungsi. Prinsip yang biasanya dipakai desainer interior untuk rumah modern.  Selain itu di Kampung Naga sumur hanya ada di dekat masjid, kamar mandi dan sumur lainnya ada di luar pagar.

IMG_8019

Tempat yang disakralkan di sini antara lain bekas lumbung, bekas sumur yang dahulu hancur ketika Kampung Naga  dibakar oleh DI/TII Kartosuwiryo. Ada Bhumi  Ageng, bangunan keramat yang tak bisa difoto kalau pakai sandal. Itu jokenya si pemandu,kukira foto di sana harus lepas sandal ternyata foto ya harus pakai kamera he..he..

Aku cukup kaget ketika melihat ada panel surya di Kampung Naga. Berbagai tulisan  yang pernah kubaca katanya desa ini tak mau kena pengaruh modern. Kata kang Huria, panel surya itu untuk  mencharge aki supaya bisa nonton TV, cukup yang hitam putih saja, daya listriknya tak kuat untuk menyalakan tv warna. Perhatikan saja di foto paling atas, banyak antena tv bukan ? Anak-anak lelaki pun suka menonton siaran bola, beberapa anak pakai seragam birunya Chelsea. Jadi, sudahkah mereka terima juga arus modernisasi?

 

IMG_8021

 

Penduduk Kampung Naga adalah petani, tetapi juga berjualan souvenir, makanan dan ,minuman di depan rumahnya. Mereka juga menjual gula aren yang dibuat sendiri. Penduduk juga cukup ramah ketika disapa, bahkan si pemandu menawarkan masuk ke rumahnya dan makan nasi tumpeng, tetapi tak kami iakan karena kami sudah berjanji akan makan siang di Singaparna.

Perjalanan kembali ke tempat parkir mobil adalah usaha yang berat harus mendaki tangga terjal lagi. Kami harus beberapa kali berhenti istirahat di warung ( jadi mirip rest area di jalan tol he..he..) untuk mengatur nafas. Bahkan warga Kampung Naga pun melakukan hal yang sama, orang Kampung Naga juga bisa capai. Timbul pertanyaan dari kami, bagaimana anak-anak ke sekolah, bagaimana bila ada orang sakit ? Sekolah berada di luar kampung, anak-anak ya tetap saja pergi pulang sekolah setiap harinya. Untuk orang sakit memang cukup sulit membawanya ke atas, tetapi katanya ada juga bidan yang bersedia  datang bila dipanggil. Kami tinggalkan Kampung Naga dengan kesan mendalam, semoga tetap lestari.