Mencari Uang Saku Tambahan

Pengalaman manis mencari uang saku tambahan pernah kualami semasa sekolah. Tak jauh, cukup di rumah sendiri.

Waktu itu almarhum papaku yang hobi berkebun dan beternak punya ide memanfaatkan halaman sekeliling rumah dinas yang cukup luas.  Halaman rumah pernah ditanami seledri dan cabe rawit  yang cukup banyak sehingga ketika dibawa ke pasar bisa ditukar dengan sayuran lain. Tanaman lainpun ada, seperti kacang panjang,kacang tanah, terong, pare dengan hasil cukup konsumsi sendiri atau kirim ke tetangga.Ternak yang dipelihara burung puyuh, telurnya lagi-lagi dijual ke pasar, dan ayam pedaging, dalam kurun waktu yang berbeda.

Untuk ayam pedaging di sinilah lahan bagi kami anak-anak untuk dapat tambahan uang saku. Caranya, ketika ada pembeli memesan ayam dalam jumlah cukup banyak, biasanya dipanggil orang sekitar untuk membantu membului ayam. Kami, aku dan dua adik,  pun menyodorkan diri ingin diupah juga, kalau tak salah ingat 30 tahun yang lalu,upahnya seratus rupiah per ekor.

Setiap habis bekerja kami lapor berapa ekor yang berhasil dibului, uangnya tak kami minta, cukup dicatat saja. Nanti ketika almarhum papa dinas ke Jakarta, kami memesan buku, (harga pesanan buku biasanya lebih banyak dari upah) wk..wk… Buku yang dipesan seri Lima Sekawan karya Enid Blyton, atau seri Old Shatterhand dan Kara ben Nemsi dari Karl May. Waktu itu harga satu jilid buku Old Shatterhand hanya Rp 700,-.

Ketika jaman kuliah, lagi-lagi cari tambahan uang saku cukup dari rumah. Orang rumahan sekali ya. Kali ini dapat uang saku karena permintaan teman yang kesulitan membaca buku teks, jaman itu belum ada Google Translate sih. Alhamdulillah, kursus semasa SMP yang sealumni dengan pak de itu membuka pintu rejeki bagiku. Meski sampai sekarang tak lancar bicara bahasa asing itu, tetapi cukup bagiku untuk memahami diktat dan buku teks kedokteran yang bahasanya tidak sastra.  Harga terjemahan per lembar kuserahkan saja pada teman, ada yang mau hasil terjemahan diketik, seribu rupiah per lembar. Ada pula yang mau lebih irit, minta ditulis tangan pakai folio bergaris, tarifnya tetap seribu per lembar. He..he…dasar mahasiswa lugu ya, pilihan itu kuiyakan. Hasil dari terjemahan ini bisa untuk beli kamus tebal yang cukup mahal di masa itu.

Kenangan manis mencari uang saku sendiri ini masih membekas, apalagi uang saku itu untuk mendapatkan sesuatu yang berguna, buku-buku cerita impian. Buku  dan kamus itu masih ada sampai sekarang dan masih bisa digunakan oleh generasi penerusku.

 

Kenangan Manis untuk Giveaway Manis-Manis