IMG_5319.JPGCandi Pari – Sidoarjo

 

Ke Jawa Timur bagiku harus banget melihat peninggalan Majapahit. Rasanya ada yang ngganjel kalau ke suatu tempat tanpa sempat mendatangi wisata sejarahnya, apalagi yang sekelas situs Majapahit. Kok ya kebetulan kami tak dapat tiket pulang dari Malang, berarti harus ambil rute Surabaya – Jakarta. Makanya berangkat dari Malang mengarah Surabaya mau belok dulu ke Mojokerto, ke situs Trowulan.

Pak supir juga sama butanya soal rute ke Trowulan, lokasi Museum Majapahit, dan kami sudah terlewat simpang jalan ke Mojokerto, makanya mengandalkan GPS. Kami menyisir jalan tol di sekitar Sidoarjo, mengikuti jalan kecil dan masuk pedesaan. Sebuah kejutan ketika mata cagar tak sengaja tertumbuk pada plang Candi Pari. Alhamdulillah di tiap perjalanan selalu dapat kejutan.

Candi Pari ini terletak di kecamatan Porong, 2 km dari pusat semburan lumpur Lapindo, di tengah-tengah sebuah desa bernama Candi Pari. Sekitar candi dibuatkan taman rapi dan terawat cantik. Info dari para bapak yang tengah berkumpul di rumah sebelah candi, candi ini juga termasuk peninggalan Majapahit. Candi ini bentuknya berbeda dengan candi khas Majapahit yang tinggi langsing malah lebih mirip candi di Myanmar dan Thailand yang berbentuk kubus. Alasan beda bentuk ini belum ada tapi memang Majapahit pernah menjalin hubungan dengan negeri Champa (Thailand).

Para bapak itu juga kasih informasi keberadaan Candi Sumur yang berjarak 100-200 meter di seberang jalan,  tetapi  candi  tertutupi rumah penduduk hingga tak tampak dari tempat kami berdiri. Aku terpaksa melewatkan Candi Sumur karena lebih memilih mengejar waktu ke Trowulan sebelum sore tiba. Candi Sumur yang menampakkan wujud khas percandian Majapahit sudah banyak kerusakan dan tak ditemukan lagi batu-batu penyusunnya, terpaksa bagian dalamnya disangga tiang agar tak rubuh. Dinamakan candi Sumur karena di bagian dalam candi ada bekas sumur .

Perjalanan kami lanjutkan ke Trowulan yang masih agak jauh jika dilihat dari peta. Sempat sekilas melihat Gapura Wringin Lawang di Jatipasar, kecamatan Trowulan. Wringin Lawang berupa candi bentar (terbelah) diperkirakan merupakan pintu masuk ke area penting di kerajaan Majapahit. Situs kerajaan Majapahit yang ada sekarang ini tersebar di banyak tempat di area yang cukup luas. Diduga situs ini adalah sebuah kota. Kami terus berjalan dan melihat Kolam Segaran, salah satu waduk kuno Majapahit. Museum Trowulan bersebrangan dengan Kolam Segaran ini.

Memasuki Museum Trowulan, kami dibuat takjub dengan artefak yang ada, cukup banyak benda yang ditemukan di banyak situs. Semuanya ditata rapi dan tak diperkenankan dipotret untuk mencegah kerusakan dan pemalsuan. Di area Museum ini juga ada situs pemukiman yang masih dalam tahap penggalian.

Karena kepengen buku seperti yang diceritakan di tulisan Melintas Majapahit di blog Rynari, kutanyakan kepada pemandu, alhamdulillah masih ada. Di buku ini walau singkat tetapi lengkap memuat temuan yang ada sampai saat ini. Memang jika ingin mengunjungi semua situs bersejarah di wilayah ini, tak mungkin selesai sehari karena letaknya yang berjauhan.

IMG_5145.JPG