Makan siang hari ini di kantin sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan lagi-lagi kupesan lontong cap go meh. Jadi serasa kembali ke masa kuliah dulu yang hampir tiap hari makan siang dengan lontong opor, di kantin kampus.   Cuma, di kantin kampus hanya lontong opor ayam plus sambal saja.

Penampakan lontong cap go meh di kantin rumah sakit seperti ini,.Cukup enak dan porsinyacukup besar, ‘nendang’lah pokoknya. .

Lontong Cap go Meh

Lontong cap go meh lengkap biasanya adalah lontong yang disajikan bersama opor ayam, sayur lodeh, sambal goreng ati, acar, telur pindang, abon sapi, bubuk koya, sambal, dan kerupuk. Lontong biasanya hadir di meja makan keluarga Tionghoa Indonesia pada saat perayaan Cap go meh, yaitu lima belas hari setelah Imlek. Saat ini hidangan ini bisa disajikan kapan saja, tak hanya pada perayaan tahun baru Imlek.

Akulturasi budaya  Cina – Indonesia juga merambah ke meja makan , secara timbal balik. Makanan masyarakat Tionghoa yang sudah lazim kita santap seperti bakso, siomay, dll,  selain itu masyarakat Tionghoa pun jadi terbiasa makan masakan Indonesia, dalam hal ini Jawa. Lontong cap go meh hanya disajikan dalam keluarga peranakan di kota-kota di Jawa, dan tidak di Kalimantan atau Sumatera.

Menurut Wikipedia, “hidangan ini melambangkan asimilasi atau semangat pembauran antara kaum pendatang Tionghoa dengan penduduk pribumi di Jawa. Dipercaya pula bahwa lontong cap go meh mengandung perlambang keberuntungan. Bentuk lontong yang panjang juga dianggap melambangkan panjang umur. Telur dalam kebudayaan apapun selalu melambangkan keberuntungan, sementara kuah santan yang dibubuhi kunyit berwarna kuning keemasan, melambangkan emas dan keberuntungan”.