Pernah berniat menulis posting dalam bahasa daerah sesuai anjuran  mbak Prih “Rynari”, tapi tak terlaksana juga. Pucuk dicinta ulam tiba, GAnya Niar ini membangkitkan niat itu lagi. Sejujurnya, aku tak terlalu lancar berbahasa daerahku, mungkin karena selalu berada di rantau sejak lahir. Aku belajar bahasa Tapanuli dari mendengar saja, lalu tanya artinya satu persatu kepada orang tua, perlahan-lahan akhirnya  aku bisa mengerti bahasa yang dipakai sehari-hari. Hanya untuk langsung berbicara masih terasa kurang pas, ada  alunan intonasi khusus, satu kata bisa saja  punya dua arti. Misalnya ‘bagas” yang berarti rumah, dengan intonasi lain artinya berubah menjadi dalam.

Sebelum menulis dalam bahasa Tapanuli atau Batak ada baiknya kuceritakan sedikit struktur kalimat dalam bahasa Batak, yang berbeda dengan struktur bahasa Indonesia. Struktur kalimat bahasa persatuan kita adalah SPO (subyek -predikat -obyek), sedangkan bahasa Tapanuli strukturnya adalah PSO (predikat – subyek -obyek).

Contohnya : Aku berjalan kaki ke sekolah, diterjemahkan ke dalam bahasa Batak menjadi mardalan pat au tu sikola (berjalan kaki  aku ke sekolah). Predikat atau kata kerja yang menjadi pokok kalimat. Kata seorang ahli linguistik  ini menandakan bahwa orang Batak itu mengutamakan kerja, dengan kata lain orang Batak itu pekerja keras.

Bahasa Batak itu sendiri ada beberapa macam. Ada bahasa Batak Toba, Mandailing, Angkola, Pakpak, Simalungun dan Karo yang satu sama lain ada persamaan dan perbedaannya. Bahasa yang kupakai adalah bahasa Batak Angkola yang juga punya beberapa kemiripan  dengan kata-kata dalam bahasa daerah  lain, misalnya bahasa  Sunda dan Minang.

Untuk gampangnya mengenal bahasa Batak, yuk lihat dari lagu daerah saja. Lagu Batak populer itu kebanyakan berbahasa Batak Toba ( dari kabupaten Tapanuli Utara).. Karena memang banyak musisi dan pencipta lagu terkenal berasal dari sub  etnis itu. Ada lagu berbahasa Mandailing yang didcptakan oleh Nahum Situmorang, komponis terkenal dari sub etnis Batak Toba.  Sub etnis Mandailing dan Angkola berasal dari kabupaten Tapanuli Selatan, perbedaan bahasa hanya sedikit sekali, hanya dari intonasi suara atau dialek.

Adong endeku na jeges da bo (ada sebuah laguku  yang indah)

Hu boan ingon mandailing godang do  (kubawa dari Tanah Mandailing)

Jeges laguna, botohon momo (Indah lagunya dan banyak dikenal)

Sitogol goarna, sitogol dabo ( namanya Sitogol)

Biama lak na laguna dabo (bagaimana sih lagunya)

Sarupa do i tu onang-onang do (serupa dengan onang-onang)

Bope marsak  margambira ho ( meskipun hatimu murung marilah bergembira )

Marsitogol sitogol, sitogol dabo ( marilah menyanyikan sitogol)

 

 Karena aku pernah tinggal di beberapa daerah di tanah air yang bahasa pengantarnya berbeda-beda sudah barang tentu harus belajar dan bisa berkomunikasi dengan bahasa setempat. Salah paham dalam berbahasa tentu saja pernah terjadi seperti pernah kuceritakan di “So lama tara bakudapa”.

Sedikit contoh percakapan   “Sebentar dulu ya. Tunggu di sini saja, saya tak punya uang lagi. Saya mau pergi ke pasar menjual kelapa .

Sattokkin jolo. Paitte ma di son, nadong be hepengku, giot  tu poken  manggadis harambir na saotikon do au . (Tapanuli)

Kelak dulu, tunggu di siko ajo, ambo idak nyo piti, ambo nak jual kelapo iko dulu yo (Bengkulu)

Kagek dulu, tunggu di sini bae yo, aku idak katek duit lagi. Aku nak jual kelapo dulu (Palembang)

Nanti dulu.  Sa so tara ada uang lai, sa mo pi ka pasar dulu.  (Sorong – Papua)

“Postingan ini diikutsertakan di Aku Cinta Bahasa Daerah Giveaway