Lamang Duren dan Aia Kawa

Lamang atau lemang atau yang sejenis dengan ini di daerah Sulawesi Utara bernama Nasi Jaha adalah penganan khas terbuat dari ketan dalam bambu yang dibakar di atas bara api. Cara membuatnya ketan atau pulut dicampur dengan santan dan garam dimasukkan dalam bambu yang sudah dialasi daun pisang. Bambu ini kemudian dibakar di atas bara api.

20140111-052639.jpg

20140111-052733.jpg

Lokasi warung lamang ini di pinggir jalan sedikit di luar kota Bukittinggi di wilayah Cingkariang, tak jauh dari Rumah Puisi Taufik Ismail dan Pandai Sikek. Warung ini hanya berupa pondok atau saung sederhana. Lamang langsung dibakar di tempat itu juga, pastilah lezat karena masih hangat. Teman makan lamang katan ini yang kutahu ada tiga versi, lamang dengan duren, dengan tapai ketan atau dengan rendang.

Di kunjunganku tahun lalu ke pondok lamang ini tak sempat mampir , kali ini harus dong nggak boleh terlewat lagi. Teman makan lamang ini kupilih duren, dan diakhiri dengan minum aia kawa (air rebusan daun kopi). Aia Kawa atau disebut juga kopi kawa daun berasal dari kebiasaan lama karena di jaman penjajahan biji kopi itu terlarang dipakai oleh penduduk lokal. Untuk menyiasatinya mereka konsumsi daunnya saja. Wadah minum aia kawa ini adalah tempurung kelapa.

Teman seperjalanan, bunda Lily “bundadontworry” blogger kondang itu tak suka duren. Beliau memilih lamang jo tapai, sambil menutup hidung dari aroma duren. Maaf ya bun…, jadi yang menikmati lamang jo duren hanya bertiga, aku, Titik, dan Inon Putri Usagi. Lamang isi pisang ini baru bagiku, biasanya makan lamang polos tanpa isian apapun.

Duren yang pahit manis dan kelezatan lamang hangat gurih disudahi aia kawa mengepul sungguh wisata kuliner nikmat di sore hari yang mulai dingin. Harganya cukup murah, berkisar limapuluhan ribu rupiah untuk 5 batok aia kawa, sepiring lamang berisi 5 potong plus sebuah durian. Jadi jangan lupakan wisata kuliner yang satu ini bila mengunjungi Sumatera Barat.

20140111-060729.jpg