Tawuran istilah yang sudah tak asing lagi. Tawuran itu  berkelahi ramai-ramai main keroyokan tanpa jelas akar penyebabnya. Tawuran tak hanya membuat rusak harta benda tetapi juga melukai dan bisa menghilangkan nyawa. Kasihan orang  tua kan …?  “Peace dong …….. peace”

Love

Diriku berada di situasi menegangkan ketika peristiwa tawuran terjadi itu bukan hanya sekali dua kali, tetapi sering kali. Semuanya selalu tak sengaja terjebak di tengah keramaian. Aku sampai hafal wilayah di sekitarku yang sering terjadi kerusuhan seperti itu. Selalu kejadian berlangsung usai jam bubaran sekolah.

Metromini yang kutumpangi sepulang penyuluhan di sebuah SD, tiba-tiba saja dicegat anak-anak muda tanggung berseragam SMA. Anak-anak yang bergerombol ini selalu menimbulkan kesan negatif. Mereka tak mau duduk, tetapi bergantungan di pintu, tak membayar ongkos, dan berbicara sangat ribut, terkadang malak. Ketika metromini melewati sebuah sekolah kejuruan, mereka ribut berteriak mengejek anak-anak yang masih berada di dalam sekolah. Akibatnya, terjadi lemparan batu dari arah sekolah kejuruan. Para penumpang lain pun sibuk merunduk takut terkena lemparan. Tak lama setelahnya, anak-anak muda ini pun turun. Lega rasanya, untung kami tak ada yang terkena lemparan batu.

Kejadian lainnya hampir mirip, anak-anak sekolah ini berhamburan lari ke tengah jalan raya di tengah kejaran para siswa lain. Kondektur cepat bertindak menutup pintu bis. Tak dibukakan meski digedor dan mereka menghalangi di depan bis. Hatiku sudah kebat-kebit sambil berdoa semoga tak ada kejadian fatal, untunglah tak lama kemudian ada polisi yang menghalau keramaian itu.

Tapi kejadian yang paling fatal adalah sebuah peristiwa yang kusaksikan dari halte bis. Bis yang kutunggu lama sekali datangnya. Tak disangka dari dalam gang muncul rombongan anak sekolah. Mereka menunggu saja di pinggir jalan. Tiba-tiba di jalur cepat melintas metromini yang ternyata berisi anak sekolah lain. Remaja- remaja ini lari ke tengah jalan, mengejar anak yang turun berhamburan dari dalam metromini sambil berteriak. Lemparan batu terus menghujan. Tiba-tiba seorang siswa kulihat mengeluarkan celurit dari dalam tasnya dan langsung mengayunkan senjatanya itu dan  mengenai punggung lawan yang masih berpegangan di pintu kendaraan.

Orang-orang berteriak histeris dan anak-anak penyerang pun lari meninggalkan gelanggang. Tinggallah si korban di tengah jalan, tergeletak tak berdaya. Dan, akhirnya rekan-rekannya berhasil menghentikan bajaj dan melarikan ke rumah sakit terdekat. Aku termangu shock….begitu cepat kejadian, begitu gampangnya senjata tajam diayunkan.

Entah bagaimana nasib si korban selanjutnya.

Tawuran memang dilakukan juga oleh warga masyarakat yang hidup bertetangga. Sejak dulu sampai sekarang setelah makin banyak korban berjatuhan, belum ada penyelesaian. Bahkan anak SD yang masih piyik kukhawatirkan bisa ikut-ikutan, karena mereka kulihat pulang sekolah bergerombol saling meledek dan saling lempar batu. Ngeri membayangkan.

Teman-teman mungkin punya usul atau ide cara menanggulangi tawuran? Mengapa tidak ikut Kontes Unggulan Indonesia Bersatu : Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran.

(Tulisan ini seharusnya diniatkan untuk ikut woro-woro pengumuman kontes, bukan untuk ikut kontes, apa daya modem rusak tersambar petir dan baru bisa mengudara hari ini)