Mesin Jahit Fatmawati

Bulan Agustus bulan yang istimewa untuk rakyat Indonesia. Di mana-mana di pelosok tanah air rakyat merayakan Hari Proklamasi Kemerdekaan. Bahkan persiapannya sejak dari awal bulan.  Meriah. Siaran langsung upacara peringatan detik-detik Proklamasi di Istana  masih  diminati. Di acara ini bisa dilihat  Bendera Pusaka  diserahkan oleh Presiden ke tangan salah satu anggota Paskibraka. Tahun ini Bendera Pusaka  akan diarak ke Istana. Yuk mengingat cerita bendera bersejarah  yang dijahit oleh ibu Fatmawati Soekarno (1923 – 1980) memakai sebuah mesin jahit tangan.

Kisah Bendera Pusaka

Namanya pun Bendera Pusaka  sudah  pasti sebuah benda yang sudah berumur.  Karena itu sejak lama tak dikibarkan lagi. Usianya yang lanjut membuat  bendera ini rawan lapuk. Oleh karena itu  bendera hanya dikeluarkan sekali setahun untuk diperlihatkan secara simbolis.  Bendera pusaka dijahit oleh ibu negara pertama, Ibu Fatmawati Soekarno.

Mesin jahit tangan berwarna merah  dan sepasang meja kursi di pojok ruangan terlihat mencolok. Warna merah terlihat  tak lazim untuk sebuah mesin jahit he..he… Terlihat lebih  kekinian. Padahal mesin jahit itu adalah benda bersejarah.

Mesin jahit  Singer produksi 1941 dan kursi  yang dipakai almarhumah  untuk menjahit bendera pusaka kini menjadi koleksi Rumah Ibu Fatmawati Soekarno di ibukota propinsi Bengkulu.

Melihat  benda yang mampu membawa ke masa lalu itu membuatku terpaku sejenak. Kubayangkan potongan adegan ibu Fatmawati yang sedang hamil  anak pertama menyatukan  dua helai kain merah dan putih menjadi sebuah bendera. Ukuran bendera pusaka itu 2 x 3 meter.  Kain itu diantarkan kepadanya oleh seseorang, katanya dari anggota tentara Jepang. Bendera itu  akhirnya berkibar gagah  setelah pembacaan naskah Proklamasi.

Bendera pusaka  sekarang disimpan di Monumen Nasional.

Mesin Jahit Fatmawati Soekarno

Rumah Ibu Fatmawati Soekarno

Tiba dari bandara, check in ke hotel dan langsung minta diantarkan ke rumah Ibu Fatmawati Soekarno di Anggut. Lokasi rumah   di jalan Fatmawati yang ramai (dahulu Anggut) kelurahan Penurunan, kota Bengkulu.  Ngomong-ngomong di jalan ini juga banyak toko  oleh-oleh Bengkulu. Walau dulu tinggal tiga tahun di kota ini, entah kenapa tak pernah mampir di rumah ibu. Hanya sekedar lewat saja. Sejak dulu rumah ini sepi. Padahal aku berkunjung  ke rumah pengasingan Bung Karno.

Saat itu pengunjung hanya aku, keluargaku  tak ikut masuk, suasananya senyap. Seorang bapak di teras rumah yang memandu dan sedikit bercerita soal rumah yang tak dihuni lagi. Bahkan si bapak kelihatannya masih mengantuk. Dia  yang mempersilahkan duduk di obyek bersejarah dan memotretku.

Gaya rumah ini adalah  tradisional Bengkulu  itu namanya Rumah Bubungan Lima, merujuk pada bentuk atap. Meski ibu sudah menerima gelar Pahlawan Nasional,  rumah  tidak ditetapkan sebagai benda cagar budaya, karena tidak ada peristiwa bersejarah yang terjadi di sini.

 

Rumah Fatmawati Soekarno

Rumah  panggung  berwarna cokelat ini kecil, ukurannya 10 x 20 meter, hanya ada dua kamar tidur di sisi kiri dan kanan bangunan. Kamar-kamar itu berisikan ranjang berkelambu dan lemari pakaian. Di puncak anak  tangga batu yang berjumlah ganjil itu ada teras.  Masuk ke  bagian dalam ke ruang tamu dengan mebel  satu set meja dan kursi tamu  asli.  Barang-barang lain yang ada di rumah ini lukisan dan foto-foto Soekarno dan Fatmawati yang terpajang di dinding rumah. Sayangnya  minim keterangan sehingga pengunjung tidak tahu  cerita di baliknya.

Ada juga dua  manekin yang didandani memakai busana milik almarhumah berupa kain batik  dan kebaya panjang serta kerudung. Kata ibuku model selendang lebar berenda  ini dulu ngetop dengan julukan selendang Fatmawati. Ternyata ibu Presiden ini jadi trend setter juga ya.

Jarak rumah keluarga ibu Fatmawati  hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah pengasingan Bung Karno. Mereka berdua menikah saat ibu Fat masih  berumur  20 tahun, pada 1943. Kabarnya rumah ini  milik kerabat ibu Fat yang dihibahkan kepada pemerintah kota. Orang tua bu Fat asal Curup kabupaten Rejang Lebong. Di Bengkulu mereka tinggal di rumah sewaan dan berpindah-pindah. Jadi ibu negara pertama itu  tak pernah menempati rumah di  Anggut ini.

Oh ya ibu Fatmawati Soekarno telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia tahun 2000. Nama beliau  pun telah  dipakai sebagai  nama Bandar Udara di Bengkulu menggantikan nama lama yang diambil dari nama desa Padang Kemiling. Peresmian itu  dilakukan  oleh anak keduanya,  Ibu Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputi pada saat itu (2011).