Kincir Air

Kincir Angin sudah menjadi penanda negeri Belanda, tetapi ada kincir jenis lain yang tak sengaja ditemui dalam perjalanan ke Sawahlunto, Sumatera Barat, yaitu  kincir air. Segera kami berhenti dan tak melewatkan  kesempatan ini untuk foto-foto pastinya. Ini salah satu berkah tidak tidur sepanjang perjalanan, ada saja kejutan tak terduga, he..he…  Kincir ini terletak di sebelah kanan jalan, cukup besar, sehingga terlihat jelas dari mobil yang melaju kencang.  Di belakang kincir ini ada sebuah kincir lagi yang berukuran lebih kecil, tetapi tidak dihampiri.

 

Kincir air yang ditemukan di sebuah sungai kecil  tak jauh dari Talawi tempat pertemuan dengan Cupit  Melinda , si mantan anak SMA ( Cupit apa nama sungainya? Inikah yang disebut Batang Ombilin?).   Kincir ini kelihatannya terbuat dari bahan yang sederhana. Ada drum bekas tempat menampung air, ada selang yang mengalirkan air itu ke sawah, potongan bambu dan  kayu, juga ijuk sebagai pengikatnya.

Memang fungsi kincir air ini untuk menaikkan air. Aliran air menggerakkan kincir sekaligus memasukkan  air ke batang-batang bambu yang lalu dijatuhkan ke dalam drum dan akhirnya mengalirkannya ke sawah. Praktis ya, petani tidak perlu berlelah-lelah menciduk air, sawah pun terjamin pasokan airnya.

Foto Batang Ombilin kutambahkan mengikuti permintaan sahabat, uni Evi. Airnya terlihat dangkal, dan ada pulau-pulau kecil,apa ini pertanda debit air mulai menyusut? Sayangnya tak ada orang di dekat situ untuk ditanyakan lebih lanjut mengenai kincir dan sungainya.