Beredar foto di lini masa facebook, sejsk dua hari lalu ada kebun bunga cantik di Yogyakarta.  Foto hamparan  bunga oranye di kebun itu memang menakjubkan dan sangat memikat mata menimbulkan decak kagum. Belum lagi dapat informasi jelas tentang lokasinya beredar pula sebuah foto mutakhir kebun bunga tersebut  rusak, sebagian tanaman rebah diinjaki pengunjung. Hasrat egois selfie dengan latar belakang bunga oranye cantik itu mengalahkan kesadaran untuk bersikap hati-hati. Terlalu banyak pengunjung  yang datang yang  tidak mau mengalah untuk bersikap santun, berjalan beringsut perlahan agar tak merusak sehelai pun daunnya, tak mau memberi kesempatan agar peminat lain bisa berbagi  pengalaman sama.

Bunga oranye itu bernama Amaryllis. Ini penampakan bunganya. Foto Amaryllis ini bukan dibuat di kebun yang   lokasi  tepatnya di Desa Salam, Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta (info : Kompas). Foto ini diambil di jalan yang biasa kulalui setiap hari untuk mengantar anak sekolah, di sebuah kompleks perumahan. Bunga yang ada di median jalan ini tak banyak jumlahnya, hanya kurang lebih 10 tanaman, tetapi warnanya yang cerah mencolok itu sungguh gampang mengalihkan pandangan dari jalan. Sebelumnya tak pernah kulihat bunga ini di situ, biasanya yang ada di median jalan itu hanyalah tanaman penutup tanah berbunga putih kuning yang saat berbunga serentak, tampilannya tak kalah cantiknya dibanding Amaryllis oranye. Kini di median itu sudah bertambah penghuni baru. Mungkin salah satu penghuni rumah di sekitar jalan kompleks perumahan itu yang menanamnya.  Amaryllis oranye sudah terlihat sejak seminggu lalu, dan hari ini sebagian di antaranya mulai layu.

Amaryllis

Harian Kompas hari ini pun menurunkan foto cantik kebun bunga Amaryllis atau Amarilis  itu. Menurut Kompas.com tanah seluas 2000 meter persegi ini ditanami 20 ton umbi Amaryllis oleh ibu Wartini. Sengaja ditanami dengan jarak yang rapat  supaya menyerupai hamparan permadani. Mungkin ini pangkal masalahnya, tak ada celah untuk pengunjung berjalan di antara tanaman-tanaman ini.  Pengelola kurasa bisa mencontoh penataan di  Kebun Bunga Begonia Lembang, yang memberi ruang gerak bagi para pengunjung, dengan dibuatkan pengelompokan bunga, sehingga bisa terpenuhi hasrat narsis berfoto di jalan setapak berlatang belakang kejelitaan permadani natural bunga warna warni, dan bukan di tengah hamparan bunga. Mungkin ibu Wartini tak menyangka kebunnya yang sederhana bisa menarik minat banyak orang. Tetapi pengunjung pun harusnya sadar tanaman itu mahluk hidup yang perlu dijaga agar ada keseimbangan alam. Tak susah kok bersikap sedikit santun saat berwisata, hanya perlu berpikir agar tak ada orang lain yang dirugikan. Melihat banyaknya bunga yang rusak kurasa cukup besar juga kerugian di pihak pemilik kebun bunga ini. Kejahilan pengunjung pada tanaman yang pernah kulihat juga di antaranya menulisi kaktus.