Terinspirasi dari tulisan uni Evi, Kerupuk Kuah Sate Kamang dan komentarku di sana, jadi teringat keunikan kuliner khas Minang lainnya.

Datang ke Ranah Minang pastinya tak dilewatkan wisata kulinernya juga dong. Di rumah makan Minang biasanya minim sayuran, entah kenapa mereka tidak menyediakan jenis sayuran lain selain gulai nangka dan daun singkong rebus, padahal di kamus kuliner Minang ada katupek pical dan gado-gado siram.

Makanya setelah berpuas-puas main di Talaga Tarusan Kamang, tujuan selanjutnya makan pical di Pasar Pekan Kamis yang tak jauh dari sana. Katupek Pical itu mirip dengan pecal, yang membedakan isinya ada mi kuning dan bisa juga ditambahkan jantung pisang dan rebung.

IMG_5285-0.JPG

Pasar Pekan Kamis ini adalah pasar tradisional. Uniknya pasar ini masih seperti kebiasaan dahulu, hanya ramai pada hari Kamis saat para pedagang dari berbagai tempat datang berniaga di situ, makanya pasar kelihatan agak kosong saat kami datang.

Los katupek pical ini ada di bagian dalam pasar. Di los ini ada meja dan bangku kayu panjang, di meja sudut ada wadah-wadah berisi sayuran, mi kuning, kacang giling halus dan kerupuk merah. Si uni pical tersenyum dan agak heran ketika kami sibuk memotretnya yang sedang meracik pesanan kami ke dalam piring. Katanya orang Jakarta lucu ya, mau makan foto-foto dulu.

IMG_5286-1.JPG

IMG_5287-1.JPG

Bahan-bahan yang ada di piring kami berupa irisan halus kol, rebusan taoge, jantung pisang, daun singkong, ketimun, dan mi kuning kemudian disiramkan bumbu kacang dan taburan bawang goreng dan kerupuk merah. Bumbu siraman itu dibuat dari campuran kacang tanah goreng, cabai merah, cabai rawit, kencur, bawang putih dan gula merah yang digiling halus dan tak lupa garam, gula dan sedikit cuka. Sesuai selera ada yang hanya mau pical dengan katupek (ketupat), atau nasi dan ada lagi yang minta ditambahkan gulai nangka. Rasanya bagaimana? Yah aku hanya makan katupek pical saja, rasanya lezat pedas tetapi unik karena tak terbiasa makan pecal ada rasa mi.