Terinspirasi dari cerita Wong Cilik, Katrok Karena Pintu, mau cerita juga pengalaman pertama dengan teknologi baru.Rikjs Museum- Amsterdam

Cerita berlokasi di sebuah hotel di luar kota  tempat penyelenggaraan pesta perkawinan seorang keluarga. Karena untuk  hajatan perkawinan penampilan  harus jeng-jeng dong dan sudah diberikan seragam pula, maka semua anggota rombongan yang akan berseragam ini sepakat memanggil tukang rias dan berdandan di kamar hotel saja, supaya tak terlambat datang ke resepsi, Maklum rombongan ini banyak perempuannya, tahu sendiri kan dandanan perempuan rada ribet.

Kamipun diberikan kamar untuk menginap di hotel yang sama. Jaman sekarang kunci kamar hotel sudah lazim berupa kartu magnetik. Entahlah, aku selalu juga kagok buka pintu dengan kartu, makanya selalu suruh anak-anak yang membukakan, he..he..katrok nomor satu. Ketika turun menuju kamar rias di lantai 5  begitu saja aku masuk dengan santainya  ke dalam lift. Eh lha …. kok di dalam lift tombol lantai yang dituju tidak juga menyala, padahal sudah ditekan-tekan terus. Sempat panik, sampai  akhirnya baru terbuka di lantai dasar.  Untunglah kemudian masuk bellboy dan minta diantar ke lantai 5. Dia menanyakan kartu kunci kamar, tentu  tak kubawa, karena anak-anak kan masih di dalam kamar. Eh, rupanya bellboy memasukkan dulu kartu di tangannya ke lubang di dekat deretan nomor  barulah bisa menekan tombol nomor lantai yang dituju. Ha..ha…., dasar katrok, biasanya biarpun kamar sudah pakai kartu kunci, liftnya tetap model konvensional yang langsung pencet.

Katrok lain terjadi beberapa tahun lalu di kamar mandi bandara internasional di Singapore. Masuk kamar mandi untuk membersihkan diri sambil menunggu perjalanan transit dilanjutkan. Keran tak bisa kuputar, ditekan dari atas pun tak bisa. Teman seperjalanan mengajarkan meletakkan tangan di bawah keran. Dia  sudah lebih dahulu katrok, ha……ha…….. kami mentertawakan ke’katrok’an kami, (maklum dulu di tanah air belum ada yang seperti itu). Airnya pun mengucur sebentar lalu mati dengan sendirinya. Jenis keran yang bagus untuk menghemat air.

Ketika mencuci tangan di kamar mandi di Rijks Museum  Amsterdam, airnyapun tak bisa keluar setelah memutar keran.  Belajar dari peristiwa di Singapore, maka dengan percaya diri kembali kuletakkan telapak tangan di bawah keran. Airnya tak mengucur juga …aduuh…….jenis keran apalagi ini yah. Kucoba menggeser langkah ke samping sedikit , mungkin kerannya akan mengeluarkan air, dan tak sengaja  terbentur dengan tombol kecil di lantai. Tak ada tanda apapun di situ. Kuinjak saja tombol itu karena takut tersandung.  Lhaaa…. air mengalir deras dari keran.  Apa tombol ini untuk menghidupkan keran ya……..?    Seperti orang norak bolak-balik  kuinjak tombol itu untuk membuktikan dugaan. Iya, memang itulah   tombol untuk mengalirkan air wastafel.          Ha..ha…tertipu dua kali ……….

 

Catatan ;  belajar pemakaian huruf besar di awal tulisan dari pak Mars di Besar di Awal.