Jembatan Limpapeh Bukittinggi

Jembatan Limpapeh

 

Jalan di atas jembatan gantung biasanya ada rasa  gamang, perasaan jembatan jadi bergoyang-goyang, hi..hi…. Tapi  rasa itu tak terjadi padaku saat menyeberangi Jembatan Limpapeh Bukittinggi. Tak hanya rasa gamang hilang tapi juga  mampu berpose berlama-lama  mengikuti petunjuk blogger – fotografer – pengarah gaya – penunjuk jalan –  yang banyak maunya, LJ  😃

Jembatan Limpapeh Bukittinggi
Tentu saja jembatan tak bergoyang ketika diinjak karena punya bangunan beton penyangga dan kabel baja penahan yang kokoh. Jembatan Limpapeh itu punya penyangga yang unik  bergaya rumah adat Minang dengan atap bagonjong. Sedangkan alas jembatan dari aluminium menggantikan kayu yang telah usang.   Limpapeh ini   (artinya tiang tengah penyangga utama   pada sebuah bangunan dan pusat kekuatan tiang-tiang lainnya.)  ada di tengah jalan Ahmad Yani  yang ramai dan   bisa ditembus kendaraan yang lalu lalang, jadi jembantan ini membentang di atas jalan raya yang ramai. Gaya atap bagonjong  ini juga   dikenakan pada bangunan loket sekaligus pintu masuk di kedua ujung jembatan.

Kedua ujung jembatan Limpapeh itu masing-masing ada di Benteng Fort de Kock, ( yang terletak di Bukit Jirek)  dan  Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan dahulu Taman Puti Bungsu ( lokasinya di Bukit Cubadak Bungkuak). Melewati jembatan gantung Limpapeh pengunjung sampai di kebun binatang Bukittinggi ini  yang pintu keluarnya langsung bisa menuju ke Pasar Atas. Di Pasar Atas tersedia toko-toko yang bisa memuaskan wisata belanja oleh-oleh. Propinsi  Sumatera Barat sudah terkenal dengan hasil karya tangan para wanita yang sarat  keindahan mulai dari kerajinan bordir untuk mukena, busana muslim, sarung, peci hingga songket. Tentu saja jangan dilupakan belanja buah tangan makanan kering khas seperti  keripik balado. Jadi fungsi jembatan itu mempersingkat jarak antara kedua tempat itu. Melewati jembatan ini harus bayar tiket lho.

Benteng Fort de Kock Bukittinggi

Benteng Fort de Kock  dibangun sejaman dengan  Perang Diponegoro, 1825 , yang tersisa hanya berupa bangunan segi empat berlantai dua, bagian bawah berkolong dan ada tangga menuju ke puncaknya.

 

Taman Puti Bungsu
Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan dibangun pada  1900an, semula hanya taman bunga bernama Stormpark, kemudian menjadi  Kebun Binatang, 1929, 6 tahun kemudian ditambahkan Rumah Adat Baanjuang, dan disebut Taman Puti Bungsu. Tahun 1995 mulai memakai namanya yang sekarang

Jembatan Limpapeh jadi lokasi yang tepat untuk memandangi pemandangan pusat kota Bukittinggi dari ketinggian. Dari sini bisa terlihat Jam Gadang, bangunan pertokoan dan gunung  Merapi  di kejauhan. Saat pagi hari sisa sedikit kabut masih melingkupi kota  membuat pemandangan unik, ditambah lagi sejuknya semilir angin perbukitan. Geliat aktivitas kota ini kurasa agak lambat, jam 7 pagi  masih sedikit sekali kegiatan warga, hidup terasa seolah-olah berjalan santai di sana.

 

Rumah Bagonjong - Taman Budaya Kinantan BukittinggiAnjungan kanan  Museum Rumah Adat Baanjuang, museum dengan koleksi  etnografi, numismatik dan biologi,