Laut yang  mengelilingi pulau-pulau di negara kita ini isinya tak hanya ikan dan terumbu karang lho. Banyak harta karun yang masih tertinggal di sana.

Pada 1986 dunia gempar dengan peristiwa penemuan 100 lebih batang emas, serta 20,000 keramik Dinasti Ming dan Ching dari kapal VOC De Geldermalsen yang karam di perairan Riau pada Januari 1751. Penemunya adalah Michael Hatcher, warga Australia. Dari kekayaan senilai 15 juta dolar AS tersebut Indonesia tidak mendapat sesenpun. Berkaca pada kasus ini, Pemerintah Indonesia kemudian membentuk Panitia Nasional Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam (Pannas BMKT)

Kutipan di atas berasal dari brosur pameran Jejak-jejak Karam di Museum Nasional yang berlangsung 12 November – 5 Desember 2012.

 

guci keramik tua

 

UNESCO sudah menetapkan negara tempat ditemukannya kapal karam adalah pemilik kapal karam.Tetapi biaya dan teknologi dari negara berkembang  belum memadai maka masih diperlukan kerja sama dengan negara lain atau swasta. Masih ada empat ratusan lokasi kapal karam, tetapi baru puluhan yang berhasil disurvei. Ada sekitar 300.000 benda yang berhasil diselamatkan dan kini tersimpan di gudang khusus Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT),Cileungsi, Bogor.

Di Bangka Belitung juga pernah ditemukan kapal kuno, tetapi  akhirnya benda-benda antik itu menjadi koleksi Museum Santosa Singapura, Indonesia hanya mendapat bagian sedikit. Tetapi, ada juga harta karun yang  seluruhnya jadi milik Indonesia yaitu akibat tsunami di Mentawai yang mengangkat bangkai kapal ke tempat yang lebih dangkal.

 

diorama bawah laut

diorama bawah laut "mencari harta karun"

 

Foto dan tiruan adegan pengangkatan harta karam di atas menghiasi ruang pameran.

 

Muatan kapal kuno yang karam di wilayah Indonesia  ini sebagian besar  berupa keramik dari Cina dan Vietnam,ada pula emas. Barang-barang ini kemudian dilelang oleh Balai Lelang, umumnya harganya cukup tinggi, tetapi pernah juga pelelangan tak menghasilkan apapun karena tak ada peminat.