Mulai bosan dengan rutinitas yang padat, ingin rasanya segera ganti suasana supaya segar lagi. Memang, sudah tiba libur sekolah. Tahun lalu kami sekeluarga berwisata ke Ranah Minang, yang sering kami sebut TDRM, Tour de Ranah Minang.  Sebetulnya tahun ini tak merencanakan jalan-jalan jauh karena si sulung tamat SMA dan pastinya perlu persiapan pendaftaran di sana sini, perlu biaya khusus. Apa daya panggilan jalan-jalan itu tak terelakkan he..he….

Tanpa perencanaan mau ke mana? Apalagi waktunya serba tanggung, sudah dekat bulan Ramadhan pula, ribetlah mencocokkan jadwal berempat secara tiba-tiba.. Akhirnya disepakati perginya akhir minggu saja, cukup dua hari.  Lalu mau ke mana? Pilihannya harus tempat yang dekat di sekitar Jawa Barat dan pakai kendaraan sendiri saja supaya lebih irit. Pertimbangannya mau cari resort di sekitar Bogor, atau ke Cirebon lagi atau Garut ?  Tapi ya karena tanpa rencana itu nekad sajalah ke Garut, bukankah kami dulu  pernah sampai Nagrek, tak jauh lagi ke Garut atau Tasikmalaya, Jadi dengan yakinnya kami berangkat juga hanya berbekal petunjuk jalan dari teman dan tanya orang di pinggir jalan. Aku   kepengen lihat Situ Cangkuang dan candinya, yang sudah lama jadi salah satu wishlist aku, apalagi sejak baca tulisannya mbak Irma Bintang Timur dan foto-foto cantik karya kang Yayat.  Harus bisa dong,  Yeye  yang punya anak batita saja berhasil jalan-jalan tanpa rencana, padahal bawa anak kecil jalan-jalan kan cukup merepotkan. Ketika diminta pendapatnya, anak-anak pun langsung setuju.

Perjalanan pagi itu lancar, dalam waktu satu setengah jam sudah sampai di ujung tol Purbaleunyi, lalu berbalik arah dan belok ke kiri.. Hambatan justru setelah masuk jalan umum ini, yaitu daerah Rancaekek, karena pasar tumpah yang melebar ke jalan raya. Di sini jalan sangat lambat, satu jam melewati jalan kurang lebih 2 – 3 km.Setelah itu lancar lagi sampai tiba di turunan terjal yang terbelah dua, ke Garut di sebelah kanan, dan jalan ke arah kiri ke Tasikmalaya. Dari simpang ini kurang lebih 20an km ke Garut. Kami melewati daerah Leles, lokasi Situ Cangkuang. Sengaja belum mampir saat itu juga karena mau cari hotel dulu di daerah Cipanas sesuai googling dan rekomendasi teman.

Di jalan raya Cipanas ini banyak hotel dan resort, tinggal pilih saja yang disuka. Kami masuk beberapa resort, rata-rata penampilannya berupa kolam dengan pondok. Ada resort dengan pondok yang mengambil tipe rumah tradisional berbagai suku di Indonesia (Danau Dariza). Antara lain ada bentuk rumah Batak, Bali, Toraja dan rumah Gadang. Sempat teringat impian tidur di rumah gadang, tapi karena menuju ke rumah itu harus pakai perahu, batal deh.

Akhirnya kami memilih Kampung Sumber Alam, yang rupanya hanya tinggal sedikit punya kamar kosong. Kami dapat pondok berkamar satu  di atas balong (kolam ikan), tentulah harus pesan extra bed.

kampung sumber alam - Garut

Makan siang dengan bekal yang dibawa dari rumah sambil  duduk di teras pondok memandangi balong dan gunung Guntur di kejauhan sungguh menyenangkan. Lega, langsung hilang rasanya semua kelelahan dan kebosanan. Memandang lanskap pedesaan yang hijau, meskipun bukan lanskap alamiah tetap membuat rileks.

gunung Guntur - Garut

Kegiatan kami hari itu hanya bersantai saja dan mengelilingi area penginapan, sambil foto-foto tentu saja. Ikan-ikan di balong ini boleh dipancing, sarana alat pancing di sediakan juga oleh pengelola.

Dari sini kusms mbak Irma, menanyakan  wisata kuliner dan obyek yang bisa dikunjungi. Beliau menyebutkan  dua restoran terkenal dan Kampung Naga, di antara Garut dan Tasikmalaya. Ok, tempat ini kami masukkan dalam rencana karena memang akan sekalian mengunjungi teman lama di Singaparna, sebuah kota kabupaten sebelum mencapai Tasikmalaya.