Penulis: Suprihati

Penyunting : Aisha S Maharani

Desain Isi dan Cover : SixmidArt

Penerbit: Sixmidad

Tahun  Terbit: Agustus 2015

Jumlah  Halaman: 92 Halaman

Kisah Gendhuk Limbuk ini adalah kumpulan posting di blog yang punya tagline “coretan ringan dari dan tentang kebon keseharian”. Oleh penulis bernama pena RyNaRi digambarkan Gendhuk Limbuk sebagai seorang yang suka ceplas ceplos. Perkataannya terkadang menggemaskan. Mbak Prih Rynari ini salah satu irresistibe blogger favoritku yang punya ciri gaya bahasa khas.

Gendhuk Limbuk sebuah nama yang disematkan pada seorang perempuan muda, anak asuh  dari Simbok Cangik. Gendhuk Limbuk adalah salah satu tokoh yang ada dalam kisah pewayangan Jawa.  Tugasnya adalah sebagai emban atau dayang di keputren (bagian dari keraton yang khusus untuk para putri). Porsinya sama seperti para punakawan Semar, Bagong, Petruk dan Gareng yang mendampingi para ksatria Pandawa, yang terkadang urun nasihat dan saran kepada junjungannya.

Buku ini memuat 20 kisah. Tak semuanya ada tokoh Gendhuk Limbuk. Tetapi benang merah antar kisah ini adalah  semuanya bernuansa budaya Jawa dengan berbagai istilah yang asing buatku. Sebagai peri kebun atau tukang kebun  artikelnya pun dekat ke alam. Kisah-kisah yang menambah khasanah pengetahuan adalah favoritku.

Pancuran Emas Sumawur ing Jagad, jadi salah satu tulisan yang kusukai. Apa sebabnya? Karena aku suka dengan bunga-bunga angsana kuning yang berguguran tertiup angin laksana musim gugur keemasan.

Dibuka dengan Gendhuk Limbuk yang pecuca-pecucu (membayangkan wajahnya pasti menggemaskan dengan ekspresi cemberut he.. he..) karena iri ingin ke Kanada menikmati musim gugur.  Di Indonesia pun ada musim gugur, kata mbok Cangik. Tulisan ini tentang pohon angsana, glodogan tiang dan mahoni  yang  pada sekitar bulan November akan menggurkan daun dan bunganya.  Laksana musim gugur di belahan bumi utara.

Dari tulisan ini pula aku mengerti bahwa ada kearifan lokal Jawa bernama pranata mangsa. Singkatnya adalah pembagian waktu dalam setahun, yang bisa dimanfaatkan sebagai panduan bertanam. November adalah mangsa ke lima dengan candra pancuran emas sumawur ing jagad yang artinya air mancur keemasan tertabur di alam persada.

Artikel wisata pun dikemas unik oleh mbak Prih. Cerita jalan-jalan ke Dieng berpadu fiksi yang dibuka oleh Gendhuk Limbuk yang sedang santai di Museum Kailasa. Ada juga cerita lucu paduan dongeng ala barat di tulisan berjudul Demam Cinderella ala Kebun. Yuk, kenali bagian kecil budaya bangsa kita di blog Rynari.