Kembali lagi dengan serial  Food Photo Story, yang kini telah sampai urutan ke 7. Untuk selanjutnya disebut  FPS saja, supaya judul tak terlalu panjang.  Kali ini mau cerita tentang kuliner unik dari Kotagede Yogyakarta, camilan khas berupa finger food yang bernama Kipo. Bukan kepo he.. he.. Kalau ingin menjelajah seri lainnya cari saja di blog ini dengan kata kunci Food Photo Story ya. Foto-foto dari serial ini cerita tentang wisata kuliner dari  berbagai daerah.

Kotagede menjadi salah satu tujuan utama kami di Yogyakarta. Kota tua ini punya banyak sisi menarik yang ingin kujalani  menyusuri lorong-lorongnya. Sayang nggak sempat juga akhirnya. Tetapi urusan silaturahmi tetap terlaksana dong. Urusan ini yang lebih penting didahulukan yakni bertemu seorang sahabat blogger dan keluarganya.  Walau sekarang ia hiatus panjang tetapi komunikasi tetap terjalin.

Kotagede memang  pernah disinggahi   saat karya wisata (my unforgettable journey, merana antara Palembang – Yogyakarta). Wilayah ini telah dikenal sebagai  pusat kerajinan perak.  Sejak masa lampau kriya  perak  menjadi khas Kotagede, pantas banget kan dijadikan target wisata.

Kotagede terletak di bagian tenggara Yogyakarta. Kotagede pernah menjadi ibukota Kerajaan Mataram Islam. Di daerah ini banyak rumah dan bangunan tua bersejarah yang sangat cantik.  Pun ada sisa benteng cepuri yang memagari wilayah keraton. Obyek yang jadi incaran banget bagi penyuka bangunan tua.

 

 

Selain peninggalan fisik dan toponim (penamaan wilayah) yang diceritakan urang Agam di negeri Mataramada juga peninggalan kuliner yang kini mulai populer lagi. Ya si kipo itulah. Urang Agam yang kenal baik kesukaan sahabat-sahabatnya itu menyediakan Kipo untuk kami sekeluarga. Maaf ya mak sengaja datangnya dadakan gitu. Yang punya rumah sampai kaget he.. he..

Katanya penganan Kipo ini sempat menghilang dari peredaran. Lalu suatu saat ada pionir yang memunculkan camilan ini lagi. Tak disangka  banyak peminatnya dan kini penjual kipo di Kotagede telah semakin bertambah jumlahnya.

Kipo itu apa?

Asal nama kipo itu  seunik tampilan penganan ini.  Iki apa atau iki opo. Dari dua patah kata itu asalnya. Entahlah apa nama aslinya di jaman kerajaan.

Kue ini jenis finger food. Alias kue berukuran kecil yang bisa dimasukkan ke dalam mulut sekaligus. Ukurannya memang hanya sebesar jempol.

Sediaan kipo dibungkus daun pisang dan kertas nasi dengan cap nama produsennya. Penampilan kipo terlihat sederhana, kurang memikat. Tampilan sama sederhananya dengan jenis kue tradisional lainnya.   Tapi jangan mau terkecoh dengan tampilan luar, cicip dulu dong.  Enak, rasanya manis gurih.

Kipo dibuat dari  tepung ketan sebagai kulit luar. Adonan kulit luar berwarna hijau karena memakai pewarna daun suji. Kulit luar ini dipanggang di atas loyang.  Inti  diletakkan di tengan adonan kulit, kemudian  adonan dilipat dan dipipihkan menjadi lonjong. Isian berupa inti atau enten-enten dibuat dari campuran  kelapa muda parut  yang dimasak dengan gula merah.

Ukuran kipo yang sekali lep ini justru bikin ingin ambil lagi. Rasanya yang lezat ditambah aroma alami daun suji dan pandan plus pembungkus daun pisangnya itu memang mudah membuat orang ketagihan. Bahan baku yang baik dan proses pemanggangan yang tepat sangat  berpengaruh pada kelezatannya.

Kipo yang mungil ini katanya  harganya sangat terjangkau.  Lupa sih harga tepatnya, nggak enaklah nanya harga sama tuan rumah he.. he…  Buat Anda penggemar wisata kuliner tradisional Nusantara  sangat kusarankan banget beli Kipo ini di Kotagede. Langsung makan di tempat saja, karena  Kipo tak bisa bertahan lama. Penganan alami ini tanpa bahan pengawet. Umurnya hanya kurang lebih 24 jam.