Jalan-jalan ke manapun  jika mungkin berusaha  cicip sajian kuliner khas setempat. Jajanan kaki lima populer tak apalah. Walau bukan yang paling enak atau yang terbaik di kelasnya.  Tetapi paling tidak itu sudah bisa mewakili rasa.

Ada lho  orang yang tujuan wisatanya memang khusus cari makanan khas setempat. Contohnya salah satu sepupuku, niat banget pergi keluar kota hanya mau cari mi ongklok terkenal. Sudah dapat ya pulang, nggak ke tempat lain lagi. Kalau aku sih harus cari obyek khas dulu baru mikir cari makan.

1. Cuanki

 

bakso cuanki Bandung

 

Aku diajak cicip cuanki saat kopdar di  Taman Sejarah dan Taman Balai Kota Bandung . Ditraktir Bibi Titi Teliti.  Asssiikk.. Aku suka lho kopdar akrab seperti ini, duduk santai sambil ngemil di taman. Nggak pakai jaim dan bisa jadi diri sendiri. Apalagi kopdar dengan blogger yang sudah lama banget dikenal. Setelah 7 tahun itulah kopdar pertama dengan blogger spesialis K-drama ini. Bareng dengan bu Dey juga dan kak Vivera.

Sebetulnya di kompleks rumah ada yang jual cuanki.  Namanya itu lho yang bikin penasaran. Tapi belum pernah usaha mau beli he.. he..

Apa itu cuanki? Kata si Bibi Titi Teliti, Erry Andriyati, cuanki itu sama saja dengan bakso, hanya mi diganti pakai mi instan. Isi yang lainnya sama seperti mi bakso, ada tahu dan kerupuk pangsit.

Arti cuanki apa dong? Kukira kata itu berasal dari bahasa Tionghoa. Karena ada teman yang suka ngomong “nggak ada cuan” alias sedang tak punya duit. Cuan artinya uang.

Kalau menurut pak Fikri, suaminya ibu Dey asal mula cuanki itu dari Garut. Pedagang cuanki bawa dagangannya dengan pikulan berjalan kaki keliling dari kampung ke kampung. Cuanki artinya cari uang jalan  kaki.

2. Kacang Rebus

pedagang kacang rebus

 

Kacang rebus itu selingan yag enak banget  di saat kumpul bareng, dengan teman atau keluarga,   walau hanya sekedar   ngobrol  atau sambil nonton siaran sepak bola di TV. Sehabis makan cuanki tadi, disambung makan kacang Bogor sambil ngobrol dengan blogger Bandung di Taman Balai Kota.

Biasanya penjual  kacang rebus juga menjual pisang, singkong atau kedelai  rebus. Bapak penjual ini hanya  bawa kacang  Bogor rebus. Sudah pernah makan kacang Bogor belum?

Sediaan kacang Bogor yang berkulit ari merah ini  memang hanya direbus atau garing asin. Tak banyak memang jenis makanan yang komposisinya menggunakan kacang Bogor  (Vigna subterranea).   Kacang Bogor kurang populer karena produksinya rendah.

Kenapa namanya kacang Bogor? Dulu katanya populer karena banyak dijual di Bogor.

3. Kerak Telor

 

Kerak telor adalah makanan asli Jakarta.  Makanan ini dibuat dari beras ketan putih, telur ayam, ebi . Bumbu-bumbu yang dipakai antara lain kelapa sangrai (serundeng), bawang merah goreng, cabai, kencur, jahe, merica, garam dan gula pasir.

Kerak telor dimasak memakai wajan kecil di atas anglo. Kerak telor dimasak satu perstau sesuai pesanan supaya hangat. Karena kalau sudah dingin rasanya kurang enak.

Ternyata yang dimasukkan pertama kali ke dalam wajah adalah ketan.  Ketan dimasak sampai kecoklatan. Setelah itu adukan telur dituang. Setelah matang kerak telor ditaburi serundeng, ebi dan bawang goreng.

Pedagang kerak telor ini sudah jarang yang berkeliling. Kini mereka dapat ditemui di obyek wisata seperti di Kota Tua atau bila ada Pekan Raya Jakarta. 

4. Es Dawet Ayu Banjarnegara

es dawet ayu banjarnegara

Minuman khas dari kabupaten Banjanegara ini pun sudah banyak beredar di berbagai sudut ibukota.  Rasanya yang manis segar sangat disukai banyak orang. Apalagi jika diminum di hari yang panas, semangat langsung berkobar lagi.

Inginnya sih minum es ini di kota asalnya. Berharap mendapat rasa yang lebih   otentik. Sayangnya kami melintas di kota Banjarnegara ini sudah lewat magrib. Kami sekeluarga  mengejar waktu supaya cepat tiba di Dieng.

Es dawet ayu malah diminum di Semarang, di depan Lawang Sewu he.. he… Penggemar es khas Banjarnegara ini cukup banyak. Perhatikan saja tangan-tangan yang sidakep sabar menunggu gilirannya masing-masing.

5. Sego Megono  dan Garang Asem Masduki Pekalongan

Nasi megono Pekalongan

Sego megono atau nasi megono adalah makanan khas dari daerah pantai utara di Jawa Tengah. Kami mencicipinya di Pekalongan.

Ide mencoba makanan ini karena lihat iklan rumah makan Garang Asem Masduki di inhouse tv di hotel. Nama rumah makan ini juga tercantum di buku Panduan Wisata Jawa Tengah.  Jadi langsung menuju kompleks travel di alun-alun. Rumah makan ini sederhana saja tetapi bersih dan pelayanannya ramah dan cepat.

Ternyata megono itu adalah potongan nangka muda yang dicampur parutan kelapa, tentu  dengan bermacam bumbu lainnya. Biasanya nasi megono disajikan dengan tempe mendoan. Tetapi saat itu  di piring kami ditambahan telur pindang dan sambal goreng.

Kami juga coba garang asem. Kami pesan dua jenis masakan ini dan saling berbagi supaya bisa coba beberapa jenis masakan sekaligus. Garang asem memang menyegarkan, terasa campuran rasa asam dan agak pedas yang pas.

 

 

6. Nasi Gudeg

gudeg jogja depok

Nasi gudeg Jogja  kali ini disantapnya tak di tempat asalnya, tetapi di Depok. Tepatnya di Gudeg Martinah  di jalan Radar Auri Depok, Jawa Barat. Rumah makan ini tak terlalu besar, ditata ala pedesaan.

Kami sekeluarga suka makan gudeg. Bisa dibilang gudeg ini sudah jadi salah satu makanan favorit anak-anak. Kegemaran ini tumbuh sejak mencicipi gudeg Jogja yu Jum.  Si bungsu bahkan  ingin ke Jogja lagi khusus mau makan gudeg. Makanya coba mampir di sini. Alhamdulillah terpuaskan rindu si adek. Meski tak sama  persis sih.

4 jenis jajanan kaki lima populer ditambah 2 jenis makanan di rumah makan sederhana ini adalah kumpulan foto-foto di beberapa tempat.  Memang semula tak bermaksud bikin review lengkap karena foto-foto hanya sedikit dan baru coba beberapa jenis makanan saja. Rangkuman ini sengaja dibuat daripada foto dibuang sayang, sekaligus  cara mengingat bila akan pergi ke daerah yang sama lagi.