Posting bertajuk food story adalah hasil kumpulan foto-foto wisata kuliner di berbagai tempat. Sudah jadi kebiasaan ambil foto apapun, yang mau dibuat cerita tersendiri kok ternyata bahannya kurang he..he.. Makanya supaya tak mubazir dikumpulkan saja dalam satu seri. Seri ini yang kedua setelah Food Photo Story #1. Makan-makan kali ini semua berlokasi di kota Bengkulu, oleh-oleh wisata  kuliner  bulan lalu.

lontong tunjang

 

Selepas mendarat di bandar udara Fatmawati Soekarno Bengkulu, pukul sebelas pagi,  teman-teman yang menjemput mengajak brunch lontong tunjang (kikil) di km 8, di sebuah warung tenda pinggir jalan. Walau letaknya kaki lima tetapi rasa makanannya patut banget dikasih jempol. Lontong tunjang memang khas Minang, tak heran sih karena posisi propinsi  Bengkulu itu  bertetangga dengan Sumatera Barat, juga dengan Sumatera Selatan, pilihan wisata kulinernya  (dan juga bahasa sehari-hari) campuran antara selera Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. Justru makanan khas Bengkulu seperti bagar hiu (kurang lebih rasanya mirip kari dengan bahan utama daging ikan hiu) dan  pendap (pepes) biasanya hanya bisa dicicipi di rumah atau saat  kenduri saja, belum jumpa rumah makan yang menyediakan.  Tapi ternyata pendap ada disajikan sebagai haidangan sarapan di Hotel Santika Bengkulu.

Kalau foto di bawah ini jajanan yang kutemukan di Benteng Marlborough. Bengkulu yang terletak di pesisir tentu banyak hasil lautnya. Di halaman benteng ada ibu-ibu yang menawarkan gorengan. Menggiurkan sih lihat dagangannya. Sayangnya gorengan garing rajungan, udang dan telur puyuh ini  dibiarkan terbuka begitu saja di atas tampah. Warna kuningnya itu juga  agak mengkhawatirkan, walau difoto terlihat menonjol. Harga satu tusuknya Rp 4.000,-,

Gorengan

 

Di post sebelumnya Mengenal Keunikan Kota Bengkulu sudah kusinggung mendatangi rumah makan yang jadi sasaran saat bulan muda. Ini salah satu contoh makanannya, capcay kuah ditambah  sate ayam. Rumah makan ini terletak di jalan utama, daerah pertokoan di jalan Suprapto.

capcay dan sate ayam

Ketiga foto itu adalah santapan hari pertama.  Hari kedua bagaimana? Makan siangnya di rumah saudaraku, tempatku tinggal selama beberapa bulan sebelum menemukan rumah kos.  Lalu diajak nostalgia makan mi ayam pangsit Tris yang unik. Dahulu pangsit Tris ini hanya warung kecil di seberang  kantor gubernur, kini warung pertama  itu tak ada lagi dan berkembang jadi beberapa cabang, salah satunya di Pantai Panjang. Yang unik daging ayamnya adalah potongan daging yang cukup besar beserta tulangnya, bukan memakai potongan kecil daging ayam tumis seperti mi ayam di Jakarta. Sayang mi pangsit nggak difoto, nggak pede depan keponakan dan cucu  foto-foto makanan he..he.. lagian ngobrol terus sih..

Entah kenapa pilihan makanan nostalgiaku tak menuntaskan selera. Rasanya tak senikmat dulu, apa karena makannya nggak bareng kekasih hati? He..he.. iya satu setengah hari kami jalan sendiri, suami pergi dengan teman-temannya. Sore hari kedua barulah bergabung dengan suami  dan diajak makan yang terasa sangat nikmat, makanya dilanjut lagi datang esoknya sebelum berangkat ke bandara. Ke mana tuh?

Ada rumah makan bernama Warung Kopi Palembang, di jalan Sudirman,  yang sudah ada sejak aku menetap di sini 20 tahun lalu. Hidangan yang dipesan sudah pasti pempek lalu lanjut dengan tekwan dan laksan. Pempek dan tekwan sudah tahu dong ya, kalau laksan itu mirip dengan lontong sayur, hanya pengganti lontongnya itu mirip adonan pempek rebus. Rasa masakannya masih  membelai lidah banget lho,  rasa ikan pada pempek, tekwan dan laksannya top banget deh…he..he..

tekwan khas Palembang

Tekwan

 

Ke Bengkulu nggak makan seafood, ya rugi deh…. Saudaraku mengajak kami lagi makan siang ke resto seafood di Pantai Panjang, namanya Marola. Seperti resto seafood lain, pakemnya pengunjung pilih sendiri jenis ikan, udang, kepiting atau cumi lalu biarkan koki mengolahnya sesuai  menu favorit pengunjung. Duduk lesehan di pondok-pondok sementara menunggu masakan matang  ada juga selingan yang bikin tersenyum simpul membaca pantun jenaka berbahasa Bengkulu di alas mejanya. Jadi teringat bahasa dan aksen yang pernah akrab diucapkan dan didengar.

Pai ke kebun manjek bembam  /  Pergi ke kebun memanjat pohon bacang
Bembam dibaok naik kudo       /   Bacang dibawa naik kuda
Lepe selero kek ikan sembam  /   Lepas selera pada ikan sembam
Minumnyo air kelapo mudo     /   Minumnya air kelapa muda

ikan bakar

Ikan gebur (kuek) bakar

Makan siang hari terakhir di  warung Padang di Kampung Cino, ini juga warung biasa di bagian samping pasar. Pada awalnya bilang masih kenyang setelah sarapan tapi setelah cicip sedikit demi sedikit ikan gebur bakarnya  ditambah gulai terong hadeeeh nggak mau berenti. Tambuah ciek deh…. Warung sederhana tetapi dengan cita rasa sesuai selera tentu layak dikunjungi berulang-ulang.