Beberapa tahun lalu (2003) sempat ada pertentangan keberadaan sebuah gedung dengan arsitektur Tionghoa di jalan Gajah Mada 118, Jakarta Barat. Bangunan itu adalah Gedung Candra Naya. Pemilik terakhir lahan dan bangunan ini bermaksud memindahkan rumah tua bersejarah ke TMII lalu membangun gedung yang sama sekali baru, sedangkan pencinta sejarah ingin gedung tetap di lokasi asli. Akhirnya tercapai kesepakatan gedung tua tetap dipertahankan, walau sebagian sudah diratakan, dan bangunan baru dibuat mengelilinginya. Jadi akan ada rumah di kolong pencakar langit.

Cerita tentang gedung ini membuat penasaran. Setiap kali lewat di jalan Gajah Mada kepalaku menoleh mencoba melihat kemajuan pembangunan. Lokasi proyek masih tertutup pagar seng, sementara pembangunan gedung modern terus berlanjut. Akhirnya setelah beberapa saat selesai dibangun, barulah dapat kesempatan mendatanginya awal tahun ini. Saat itu tak ada acara apapun di sana, sehingga rumah tua ini terasa kosong melompong. Hanya terlihat orang-orang yang sedang menikmati makan siang di kafe di sisi kiri bangunan.

Dari jalan raya Gedung Candranaya agak sulit dilihat, bahkan dari atas jembatan penyebrangan di depannya tak tampak sama sekali sosoknya. Barulah ketika masuk ke ruang terbuka antara Hotel Novotel dan minimarket dapat melihat wujud bangunan. Sepintas bentuk rumahnya sangat sederhana, hanya sebuah bangunan kecil dengan atap merah melengkung bergaya Tionghoa yang kedua ujungnya terbelah dua, disebut Ekor Walet. Struktur melengkung ini, menandakan status sosial penghuninya.

Gedung Candranaya

Tampak depan ada sebuah pintu besar dengan dua buah jendela di sebelah kanan dan kiri. Di kiri pintu ada pigura kaca berisikan sejarah bangunan, sedangkan pada pigura di sisi kanan menceritakan riwayat singkat seorang ternama penghuni rumah ini Khouw Kim An. Orang ini adalah salah seorang dari 5 orang mayor Tionghoa di Batavia. Khouw Kim An adalah mayor terakhir (majoor de Chineezen) di Batavia (1910-1918) dan diangkat kembali 1927-1942). Tugas mayor ini adalah untuk mengepalai masyarakat Tionghoa Batavia. Karena ini rumah bekas seorang yang tercatat dalam sejarah dan keunikan bangunan membuatnya sebagai Benda Cagar Budaya. Rumah tokoh mayor Tionghoa lainnya, Tio Tek Ho (1896-1908), ada di Pasar Baru, yaitu Toko Kompak.

 

Di jalan Gajah Mada pernah ada 2 bangunan lain serupa Gedung Candra Naya yaitu gedung SMA Negeri 2 Jakarta kini, dan bekas gedung Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok yang sudah musnah. Tak diketahui pasti tahun pembangunan Gedung Candra Naya, diperkirakan awal abad 19. Yang membangun ketiga gedung itu adalah seorang tuan tanah kaya yang memberikan 3 gedung itu untuk anak-anaknya.

Dahulu di bagian depan rumah ini ada taman luas yang kini sudah hilang. Memasuki bagian dalam rumah berlantai marmer ini terasa aura kemewahan, apalagi dilengkapi pintu, jendela, partisi yang terbuat dari kayu hitam dengan ornamen keemasan. Di dinding rumah tergangung lukisan dan kaligrafi khas Tiongkok. Di bagian belakang ada teras dan kolam teratai. Kolam ini kini hanya berupa kolam kecil dengan pancuran berbentuk katak.

 

Di kiri kanan gedung utama ini ada bangunan sayap untuk ruang pelayan, dapur, tempat para selir dan anak-anak. Seharusnya masih ada bangunan dua lantai di bagian belakang yang kini sudah tak ada lagi. Fungsinya sebagai ruang kamar-kamar tidur terletak berjejer di kedua lantai.

Setelah kemerdekaan rumah ini disewa oleh Perhimpunan Sosial Sin Ming Hui (Perkumpulan Sinar Baru) yang bertujuan membantu korban Kerusuhan Tangerang. Perkumpulan ini kemudian berganti nama menjadi Tjandra Naja. Hingga akhir 1992, gedung Candra Naya dipakai juga sebagai poliklinik, kantor yayasan, tempat berlatih olahraga, dan sekolah. Pada tahun 1992 inilah properti dijual kepada perusahaan besar. Pembangunan ke bentuk seperti sekarang ini mulai 2012.