Akhirnya ada juga kesempatan datang ke Kampung Sampireun, Garut, dengan rombongan. Sudah lama ada keinginan itu. Sejak pertama kali  melihat video klip almarhum Chrisye yang bernyanyi sambil berperahu dengan latar belakang danau tenang dan deretan rumah tradisional dengan atap ijuk. Video klip yang diputar berulang-ulang itu bikin rasa penasaran makin menjadi. Terlihat pemandangan di sekeliling danau itu  sungguh hijau asri, tenang dan damai.  Terasa magis. Alhamdulillah begitu juga kenyataan yang ditemui di sana. 

Resort Kampung Sampireun ini membangun pondok-pondok  penginapan tradisional dari kayu  mengelilingi sebuah danau kecil. Atau bolehlah disebut telaga atau situ.  Di setiap pondok disediakan perahu-perahu  tertambat yang bisa didayung sendiri. Sepasang dayung disiapkan di kamar, berikut beberapa buah pelampungnya.

Ada pula  rakit yang dikayuh mengelilingi danau, dilengkapi  dengan musik akustik.  Aku dan beberapa teman ikut naik rakit dan bernyanyi bersama mereka.  Lagu bisa dipilih sendiri sesuai kemampuan ha.. ha.. Sebuah pengalaman yang sangat mengesankan.  Jika tak hendak berkeliling danau, rakit pemusik ini bisa dipanggil ke depan pondok kita kok.

Tapi ada yang lebih menarik lagi. Ternyata resort ini  sebuah tempat yang peduli lingkungan lho. Pihak pengelola resort  melakukan pemilahan sampah, pengolahan air limbah.  Bukti ini kulihat di sebuah pojok yang agak terasing dari wilayah penginapan. Walau agak jauh tetapi tetap rapi dan ada papan pengenalnya.

Di pojok di sisi lain yang lebih dekat dengan pintu masuk ada papan pemberitahuan lain. Yaitu  papan informasi tentang kegiatan  menjaga kebersihan mata air yang mengaliri situ dan menjaga kelestarian satwa. Baru kali ini nih menginap di tempat yang peduli lingkungan seperti ini.

Aku lihat plang informasi  ini di pinggir situ.

IMG_1873

Wilayah resort Kampung Sampireun  ini rupanya adalah daerah jelajah burung Kowak Malam Abu. Baru sekali ini mendengar nama burung ini, jadi terasa asing di telinga.  Burung Kowak Malam Abu menurut plang di atas punya nama binomial Nycticorax nycticorax L. Dinamai kowak karena suaranya  serak dan keras berbunyi kwak kwak di malam hari.  Suaranya mirip dengan suara  gagak.  Nama lainnya kowak maling, karena burung ini suka memangsa ikan di tambak milik warga.

Dalam bahasa Inggris  burung kowak disebut Black-crowned night-heron.  Burung kowak malam dewasa memiliki bulu kepala  berwarna hitam kebiruan jadi seperti mahkota. Bagian leher dan dadanya  berwarna putih. Punggung dan mantel hitam berkilau kehijauan atau kebiruan. Sedangkan  warna sayap dan ekor  abu-abu. Ada 2 lembar bulu mirip kuncir di kepalanya. Matanya merah dan kaki kuning. Ukuran badannya sebesar ayam.

Burung kowak malam ini adalah jenis burung nokturnal. Nokturnal artinya aktif di malam hari untuk mencari makanan. Siang hari adalah saatnya istirahat dalam kelompok-kelompok  di sela-sela dedaunan pohon.  Biasanya burung kowak membuat sarang di pohon yang dekat dengan air. Petang hari kowak   keluar  dan  mulai terbang sejak magrib untuk mencari makan. Mangsa dicarinya di sekitar sungai dan aliran air, tambak, rawa dan persawahan. Pantaslah mereka bersarang di  sekitar telaga yang diteduhi pohon-pohon rimbun seperti di resort ini.

Burung kowak malam abu adalah carnivora maka  makanannya adalah hewan lain seperti tikus, kadal, katak atau  anak burung lain.

 

sumber : Wikipedia

Beberapa orang petugas kebun di sana  kutanyai  apakah kita  bisa melihat burung kowak malam abu.  Mereka bilang tak bisa lihat burung ini di hari yang terang. Keberadaannya  hanya terdengar dari suaranya saja, biasanya setelah ashar. Alhamdulillah, sore itu aku beruntung  bisa dengar juga suaranya. Mungkin burung-burung itu baru keluar dari sarang. Memang suaranya agak mengagetkan, terdengar  nyaring dan serak.

Di plang itu juga ada tambahan informasi yaitu peringatan untuk berhati-hati jalan di bawah pohon,karena bisa terkena bom kotoran ha.. ha…. Burung kowak ini rupanya rajin produksi,   Kotorannya ini susah sekali dhilangkan, makanya banyak juga bekas kotorannya yang berwarna putih  di mana-mana. Di teras pondok banyak terlihat jejak bom alamiah tersebut.

Burung kowak malam abu  bersifat dominan, karena mereka predator. Kalau sudah ada kowak biasanya tak ada jenis burung lain yang aman bersarang di situ. Kowak suka mencuri telur burung, yang membuat kowak disebut juga kowak maling.

20131006-074837.jpg

Para pemerhati burung pastilah akan dengan senang hati menunggu kemunculan burung kowak malam abu ini di malam hari ya. Mengamati burung atau birdwatching   atau birding perlu kesabaran dan daya tahan tubuh.  Tujuan pengamatan ini adalah untuk mengenal jenis-jenis burung, ciri-ciri tubuh, lingkungan tempat tinggal, tingkah laku dan gerak geriknya. Untuk melihat burung yang sangat cepat  dan aktif gerakannya itu tentu perlu perlengkapan khusus seperti teleskop atau teropong binokular.  Dan tentu saja harus punya pengetahuan dunia burung. Kebanyakan para pengamat burung melakukan  kegiatan ini sebagai hobi dan rekreasi.

 

Kampung Sampireun
Jl. Raya Samarang Kamojang,
Kp. Sukakarya Desa Ciparay,
Kec. Samarang – Garut