Menjaga stamina menulis itu susah-susah gampang. Kadangkala ketika rasa malas melanda, semangat menulis bisa kendor,  tetapi ketika semangat sedang di puncak apa yang telah ditulis rasanya ingin segera diterbitkan.

Pernah tidak teman merasa sangat berdebar seperti kesetanan ingin segera menerbitkan tulisan? Aku pernah mengalaminya he..he….

Itu terjadi di bulan Juni lalu saat  pak de Cholik buat kontes unik menanggapi tulisan beliau. Ide sudah kudapat, karena tulisan itu rasanya “gue banget”, sayang kalau tidak diikuti, apalagi karena untuk  beberapa tulisan sebelumnya tak punya ide sama sekali. Jadi kalau sudah punya ide, ya harus ikutlah.

Tapi, ternyata hari itu sibuknya luar biasa. Ide sudah ada dari pagi, dan menggelegak ingin segera menulis dan menerbitkannya. Apa daya baru bisa  duduk tenang buka komputer malam hari. Setengah mati mangkelnya ternyata modem sedang tiarap, tak ada sinyal.  Terpaksalah menulis di telepon genggam demi mengejar tenggat waktu.  Dengan jemari keriting bisa juga selesai menulis di sana, sekaligus mengunduh foto. Rasanya cukup lega, karena menulis di peranti komunikasi itu tentu tak seleluasa menggunakan komputer, apalagi koneksinya tak selalu stabil.

Tetapi kelegaan itu tak berlangsung lama, karena saat akan mendaftarkan tulisan (masih dari telepon) berkali-kali tak bisa meninggalkan komentar di blog sang penyelenggara acara. Sementara waktu terus berjalan Alhamdulillah,   setelah sekian kali akhirnya bisa terdaftar, dan ketika pengumuman pemenang, tulisan berjudul Hadiah Sederhana memenangkan  gelar Yang Paling Romantis. Sesuatu sekali ya….

Segala keruwetan itu mungkin saja tak terjadi kalau punya koneksi internet yang bagus. Ketika menunggui ibuku dirawat di rumah sakit, sempat mengunduh foto dan segera menerbitkannya ke blog  dengan bantuan  Indosat Super Wifi,  wah super cepat sekali. Tulisanku langsung muncul.