Di Jakarta  banyak peninggalan sejarah yang belum pernah tampil di blog ini. Apa yang mau kutampilkan untuk Dailypost yang minggu ini mengeluarkan tema Heritage. Inginnya sih  tampil  dengan foto baru. Nah, kebetulan banget ke  gedung  kantor PLN di Jakarta Pusat.

Gedung  unik namun cantik di wilayah Gambir  ini   terlihat mungil dikelilingi pencakar langit. Gedung itu adalah kantor pusat PLN Jakarta Raya dan Tangerang yang telah menjadi sebuah cagar budaya.  Gedung yang berdiri pada 1897 awalnya adalah milik perusahaan gas Hindia Belanda (NIGM), yang kemudian menjadi perusahaan listrik yang sumber listriknya dari  dari PLTU.

Gedung ini dikukuhkan sebagai cagar budaya oleh Gubernur DKI  pada tahun 2011 dan   diresmikan oleh Menteri Negara BUMN kala itu Dahlan Iskan. Alasan pemilihannya adalah karena ini adalah kantor pertama yang dimiliki PLN. Sebuah sejarah bagi perusahaan energi nasional yang menandakan  kejayaan tenaga listrik di pulau Jawa. Perusahaan listrik  kala itu sebetulnya   tak hanya satu. Salah satu lainnya yang  terbentuk kemudian adalah NV ANIEM di  Yogyakarta. Peninggalannya yang masih ada yaitu sebuah  gardu yang disebut Babon Aniem di Kota Gede.

 

 

Gedung PLN Menteng

 

Suatu kebetulan bisa datang ke sini. Walau seringkali melewati cagar budaya  ini, tetapi belum pernah mampir, bikin penasaran bukan? Setiap kali melintas  hanya bisa  mengaguminya saja . Bahkan pernah memotretnya dari dalam kereta api comuter line yang sedang menunggu perlintasan. Dari atas jalur layang  kereta ini kecantikannya tampak jelas.

Aku datang ke sini sehabis mengikuti   upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Monas.  Mobil teman yang kutumpangi diparkir di gedung kantor PLN. Kesempatan baik untuk sekalian berkunjung. Sayangnya temanku ada keperluan lain. Jadilah sendirian masuk ke situ. Kukira karena letaknya di area perkantoran gedung ini tertutup untuk umum. Ternyata tidak. Pengunjung boleh masuk, asalkan lapor kepada petugas Satpam.

Lokasi kantor PLN  di seberang stasiun Gambir,  yaitu di jalan MI Ridwan Rais, Jakarta Pusat. Sederetan dengannya ada cagar budaya Gereja Immanuel dan Galeri Nasional Indonesia.

Panel Kaca Patri

Kaca patri di bordes tangga

Menurut salah seorang satpam, gedung kini tak dipakai lagi sebagai kantor, hanya sebagai ruang pertemuan seminggu sekali. Untuk perkantoran sudah tersedia gedung bertingkat di belakangnya.  Pak satpam lancar bercerita termasuk mengenai suara yang sering timbul sendiri di malam hari  dari alat musik di lantai tiga. Begitu deh selalu ada cerita misteri bila bicara mengenai gedung tua. Antara percaya sama nggak sih, tapi hal itu tak mengurungkan niat masuk ke situ.

Dari segi arsitektur gedung cagar budaya ini tampak unik dan artistik.  Gayanya berbeda dari dua bangunan di sebelahnya yang lebih megah.  Gedung ini terlihat simpel,  ringan, tetapi tetap penuh dengan ornamen artistik. Karena tak ada yang mendampingi aku tak tahu keasliannya.  Entah pun sudah  diperbaiki atau diubah?

 

cagar budaya kantor PLN Jakarta

Kaca patri di teras lantai satu

Bangunan ini berlantai tiga. Lantai pertama ada empat ruangan. Salah satunya perpustakaan. Lantai kedua pun punya beberapa ruangan yang diisi meja kursi seperti ruang rapat kecil.  Lantai ketiga tak ada ruang yang disekat, katanya   hanya ada seperangkat gamelan. Bagian atas yang menyerupai piramida berfungsi sebagai ventilasi udara.

Seperti umumnya gedung tua yang berciri khas tropis,  gedung ini beratap tinggi, punya banyak pintu dan jendela yang jangkung, dan dikelilingi teras. Kusen pintu dan jendela dari kayu jati berkualitas. Pegangan pintu dan jendela berukir.

Ornamen hias kaca patri tampak di teras lantai satu dan di sekitar tangga  atau bordes yang berfungsi memasukkan sinar matahari ke dalam.

Teras Gedung PLN Menteng

Teras di lantai satu

Atap serambi ditopang oleh tiang-tiang berbahan baku besi. Teras di lantai satu dan dua berbeda ornamennya. Coba terka di mana bedanya. Selain perbedaan pada penopang teras, penutup lantai di tingkat 2 memakai tegel bermotif.

Cagar Budaya Kantor PLN Jakarta

Teras di lantai dua

Tangga menuju lantai dua dan tiga pun dihiasi ornamen cantik. Sayang fotonya blur (amatiran sih ya, suka lupa ngecek hasil foto sebelum pindah motret obyek yang lain).  Ornamen terlihat di ujung pegangan tangga berupa ukiran piala. Lalu jeruji di pembatas tanggapun berhias bentuk kotak yang dijalin dari bilah-bilah yang disatukan dengan letter T connector.

Penjelajahanku berhenti di lantai dua saja, tak berlanjut ke lantai tiga. Suasana gedung ini sepi, tak ada orang lain di situ. Pun diceritakan lantai 3 hanya ruangan kosong, jadi tak terlalu antusias he.. he..

Setelah mengunjungi kantor ini, langsung semangat deh mau lihat gedung-gedung cantik lainnya di wilayah Gambir ini. Selain di jalan MI Ridwan Rais, bangunan bersejarah  antara lain ada bangunan Gedung Pancasila di Pejambon, gedung Departemen Keuangan di jalan Lapangan Banteng, dll. Semoga bisa menjejakkan kaki ke sana.