Pameran di Museum Tekstil Jakarta

Tanggal 1 Desember itu ditetapkan sebagai Hari HIV/AIDS sedunia. Di wilayah kerja kami ada acara dari karang taruna yang buat peringatan. Mereka buat acara ngeband dan ada penyuluhan kesehatannya. Ibu bos yang  membawakan acara penyuluhan di situ, dan aku juga hadir menemani. Setelah acara selesai mumpung masih pagi  rasanya ingin sekalian  mampir  lihat pameran di Museum Tekstil. Jadilah kendaraan kubelokkan ke sana. Kebetulan sekali hari Minggu itu ada pameran kain batik koleksi keluarga keraton Mangkunegaran.

Masuk ke ruang utama museum tercium aroma wangi, wangi daun pandan, dan melati.  Di beberapa sudut  ruang pameran diletakkan bokor berisi irisan daun pandan,   melati dan mawar. Wangi yang kurasa sangat membius, membuat betah berada di dalam museum.

Kain batik yang dipamerkan di Museum Tekstil itu sangat khas batik  Solo, berwarna sogan (coklat) dengan motif  tradisional.  Semua kain yang dipamerkan itu milik perorangan anggota keluarga keraton Mangkunegaran. Di antaranya  ada kain batik dan kebaya milik almarhumah Ibu Tien Soeharto. Beliau ini adalah  salah satu anggota kerabat Mangkunegaran.

Ketika aku sedang asyik mengamati motif Parang Naga Basuki, datang seorang ibu setengah baya  cantik dan anggun. Ternyata ibu ini adalah sepupu dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegara IX, raja Mangkunegara saat ini.

Ibu cantik menjelaskan motif parang  yang memang sangat unik, jarang terlihat di luar. Motif parang itu berupa lereng  dengan arah diagonal tetapi berisi hiasan naga yang memakai mahkota di antara barisan lereng. Motif parang ini salah satu motif tua. Parang berasal dari kata pereng atau lereng berbentuk garis diagonal.  Pada motif ini susunan motifnya mirip huruf S yang saling terkait. Ini artinya melambangkan kesinambungan, menggambarkan semangat yang pantang surut. Motif parang tercipta di istana. Dahulu motif parang hanya boleh dipakai raja dan keluarganya.

Memang saat itu banyak dipamerkan kain motif parang dengan berbagai variasi. Salah satu di antaranya  yaitu motif Parang Kusumo yang biasa dipakai sehari-hari di dalam lingkungan keraton.

Motif Parang Kusumo berarti paduan lereng dan kembang. Dahulu motif ini dipakai di kraton. Kini motif parang kusumo digunakan pada saat tukar cincin.

Motif Parang Kusumo (belakang)

Motif Parang Kusumo, yang dipakai di dalam keraton Mangkunegara (belakang)

Belajar membatik di Museum Tekstil

Keluar dari ruang pamer utama kulangkahkan kaki ke bagian belakang kompleks museum. Di sana ada ruang belajar membatik.  Untuk belajar membatik pengunjung membayar Rp 40,000,- dan akan mendapat sehelai kain seukuran sapu tangan. Kemudian  bisa pilih  motif yang disukai, aku pilih motif gunungan yang simpel. Motif kemudian dijiplak di atas meja berlampu. Langkah selanjutnya adalah memasang kain dalam ram dan mulai melapisi gambar dengan lilin.

Oh ya masing-masing orang diberi tungku dengan wajan kecil berisi lilin cair. Ada pilihan canting, dengan berbagai ukuran lubang keluar lilin. Lilin diciduk dengan canting, tiup pelan agar lilin yang keluar tak berlebihan. Gampang-gampang susah melakukannya, he..he..tetesan lilinnya belepotan, sebagian bisa sih dilepaskan. Yang dilapisi itu kedua permukaan kain, muka belakang.

 

Berikutnya kain diserahkan ke petugas museum. Si bapak ini melapisi bagian pinggir kain dengan lilin putih menggunakan kuas.  Kemudian kain dicelupkan ke dalam larutan naftol untuk mengikat warna, lalu ke larutan pewarna. Terakhir dimasukkan ke dalam air mendidih untuk melarutkan lilin.

Batik karyaku

Dan inilah karyaku yang berwarna coklat sedang  dikeringkan di jemuran. Di sebelahnya karya seorang lady expatriat dari Eropa. Pengalaman pertama membatik ini sangat berkesan, ingin rasanya kembali dan belajar lagi agar hasilnya lebih rapi.

Tertatik datang dan belajar membatik? Kunjungi  saja Museum Tekstil ya. Alamatnya di jalan KS Tubun Jakarta Pusat. Banyak angkutan umum yang melewati persis di depannya. Dari perempatan Palmerah, bisa naik mikrolet yang menuju pasar Tanah Abang. Kalau naik commuter line, turun di stasiun Tanah Abang, lalu berjalan sedikit ke arah jembatan.