Petugas di bagian pendaftaran perpanjangan SIM kabupaten Bogor : “mojang Bandung  ini mah..”, melihat ditel identitas tempat kelahiran di KTP.  Alhamdulillah pak kalau masih diakui sebagai mojang Bandung he..he…, walau cuma numpang lahir doang, walau hanya bisa sepatah dua patah kata bahasa  Sunda, punteeen. Sejak usia setahun orang tua sudah membawaku berkeliling negara ini karena pekerjaan.  Berbeda banget dengan para sepupu  yang besar di Bandung, mereka sangat fasih berbahasa Sunda, mungkin kalau disuruh bahasa Batak pun pasti berlogat Sunda. Nah, kan bagaimana bisa aku akan melupakan Bandung?

 

Meski usia setahun sudah meninggalkan Bandung ada peristiwa tak terlupakan yang juga akan terkenang seumur hidup. Sebuah kejadian  yang hanya bisa kuketahui dari  cerita.

Suatu hari kedua orang tuaku sedang makan siang di dalam rumah, bibi pengasuh menggendongku  di teras. Suasana siang yang seakan senyap dikagetkan oleh bunyi suara yang sangat gaduh oleh  teriakan banyak orang. Belasan orang berlari sambil mengacungkan potongan kayu dan lain sebagainya. Kiranya mereka telah berlari melewati gang-gang kecil keluar masuk kawasan perkampungan mengejar seekor anjing yang tampak tersengal-sengal. Anjing itu  baru saja menggigit seekor monyet dan dicurigai sebagai anjing gila karena terus mengeluarkan air liur dan ekornya melengkung ke bawah. Hewan yang ketakutan ini sudah dikejar sekian lama keliling kampung, lari lintang pukang ke sembarang arah dan saking terpojoknya akhirnya masuk ke halaman rumah kami yang pagarnya terbuka. Biarpun sudah terkepung tapi ia masih bisa mendekati kami, bibi pengasuh terkena gigitan di telapak tangannya dan aku kena di paha. Anjing tersebut berhasil ditangkap dan dimasukkan ke dalam karung. Tangisanku yang kencang membuat orang tuaku menghambur keluar.

Setelah luka dibersihkan dengan sabun, bibi dan aku pun segera dilarikan sekencang mungkin  ke Institut Pasteur, kini Biofarma.  Lembaga ini sudah dikenal sebagai tempat penanganan korban yang terkena gigitan hewan rabies atau lebih dikenal dengan sebutan anjing gila. Dari pemeriksaan terbukti anjing itu positif rabies. Memang anjing, kucing dan kera bisa menularkan virus rabies melalui air liur dan gigitannya yang  bila tak cepat ditangani bisa menimbulkan kematian 4 – 6 hari sejak gejala pertama timbul.

Akhirnya luka-luka kami dijahit dan harus disuntikkan vaksin rabies  yang dilakukan setiap hari selama beberapa hari. Untunglah Institut Pasteur ada di Bandung, vaksin rabies telah berhasil menyelamatkan hidupku. Terima kasih banyak Prof Louis Pasteur, penemu pasteurisasi dan vaksin rabies, berkat temuanmu aku masih bisa bertahan sampai setua ini.  Suntikan rabies Pasteur ,  pertama kali diuji coba pada 1885, tidak hanya mencegah, tetapi juga mengobati penyakit tersebut. So, kurasa tak perlu ada perdebatan soal untung ruginya vaksinasi.

Museum Geologi Bandung

Kembali ke kota Bandung  lagi untuk pertama kalinya  pada saat usia sekolah dasar .  Tujuan utama datang ke Bandung itu untuk silaturahmi dengan oom, yaitu adik papa, dan para sepupuku. Karena keluarga kami selalu berpindah tempat tinggal, makanya belum saling mengenal dengan keluarga dekat dan para sepupu. Menginap di rumah oom, tumplek blek semuanya ha..ha…, seruuu.., kala itu kami masih  empat bersaudara berkumpul dengan enam saudara sepupu. Ramai banget pastinya suasana rumah yang tak terlalu besar itu.

Tentu setelah sampai di Bandung kami semua diajak mengelilingi Bandung, sekali lagi ramai-ramai berombongan ke mana-mana. Tempat yang dikunjungi waktu itu yaitu antara lain  almamater papaku – kampus ITB, nonton, ke kebun binatang dan yang tak terlupakan, Museum Geologi. Beliau dengan antusiasnya mengajak ke sana  dan menerangkan isi museum dengan fasihnya, lha beliau kan memang lulus dari jurusan Geologi.

 

Museum Geologi Bandung beralamat di Jalan Diponegoro Nomor 57, Bandung, di tengah kota, sehingga mudah dicapai  dengan angkot.  Museum Geologi  terletak dekat dengan Gedung Sate, salah satu ikon kota Bandung. Museum ini sangat layak dikunjungi. Di suatu survey sebuah majalah  terpilih sebagai Museum terbaik di Indonesia pilihan pembaca. Kunjungan pertama kali ke museum inilah yang membekas sekali di ingatan dan membuatku keranjingan datang ke museum sampai sekarang.

Aku ingat  melihat koleksi fosil bermacam  binatang prasejarah yang sangat besar yang belakangan kuketahui adalah fosil gajah purba dan dinosaurus. Koleksi lainnya seperti  batuan, mineral, meteorit dan artefak yang erat hubungannya dengan kehidupan, asal mula pembentukan bumi, fenomena geologi Indonesia dan lain-lain. Tak bisa lagi kuingat ditelnya, karena sejak itu belum menginjakkan kaki di Museum Geologi ini.

Bisa dibilang aku tak cukup kenal Bandung, hanya beberapa kali datang ke sini, karena memang  kami dulu tinggal di luar Jawa. Datang sebentar saat week end, membuatku tak pernah hafal jalan di Bandung, masih sering bikin nyasar. Bandung ini mashi punya banyak bangunan tua cantik dengan gaya arsitektur ala Eropa yang masih berfungsi dan terpelihara dengan baik, yang masih menjadi tujuanku untuk disambangi lebih detail. Contohnya seperti kedua gedung itu. Aku masih ingin berjalan kaki menyusuri jalan Braga menyerap aura  keindahan, kreativitas  dan ketentraman masa lalu..

Kuliner Favorit Bandung

Mi Kocok Bandung

Kekayaan kuliner Bandung yang sekian banyak jenisnya itu juga  sudah menasional, mulai dari kuliner tempo dulu sampai hidangan kreasi baru. Bandung itu layak disebut kota kreatif menurutku, kota trend setter.  Apa saja yang tercipta dari sini bisa menarik perhatian dan minat banyak orang .  Tetapi kuliner favoritku masih tetap mi kocok, setiap kali datang ke sini tak lupa berburu mi kocok, tapi masih belum ketemu yang benar pas di lidah.

“Tulisan ini diikutkan dalam niaharyanto1stgiveaway : The Unforgettable Bandung”