Agrowisata artinya  wisata yang sasarannya pertanian (perkebunan, kehutanan, dan sebagainya) – KBBI.  Oh ya di berbagai tulisan ada yang menyebut agrowisata, ada pula wisata agro. Kedua istilah ini  sempat membuatku bingung.  Dari KBBI daring ternyata yang baku adalah agrowisata. Agrowisata  jadi salah satu  obyek kesukaan yang harus kami sambangi, dan telah dimasukkan  dalam itinerary  Rute Wisata Solo  dan Yogyakarta .

Hanya tahu beberapa   jenis agrowisata di wilayah ini, jadi  yang bisa masuk list hanya agrowisata salak pondoh di Jogja dan kebun teh Kemuning di kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Selebihnya kalau ketemu on the spot ya langsung singgah. Chatting dengan mbak Prih juga menyebutkan Agrowisata Sondokoro  : “Ini gak jauh dari Solo ada pabrik gula terus naik lori bahan bakar kayu dengan banyak bangunan lama”  Next ya mbak, temani ke sini he.. he..

Agrowisata Jambu Merah Ngargoyoso

kebun jambu merah

Nggak sengaja melihat petunjuk jalan kecil “Agrowisata Jambu Crystal” di sebelah kiri jalan saat menanjak ke  arah Candi Cetho di hari kedua di Solo. Makanya turun dari sana langsung dicari deh, sempat tanya sama penduduk, yang memberi arah  belok kanan beberapa meter lagi.

Akhirnya sampai di dukuh Candi, desa Jatirejo, kecamatan Ngargoyoso, kabupaten Karanganyar. Di halaman rumah penduduk pun ditanami pohon jambu.  Lihat plang nama di sinilah baru sadar  salah sasaran .  Yang didatangi adalah agrowisata jambu merah. Ha.. ha.. tak apalah, beda tipis,  kebun jambu kristal mungkin di tempat lain.

Di kebun sudah ada rombongan ibu-ibu yang ramai ngobrol sambil memetik jambu. Masing-masing membawa kantong plastik yang sudah terisi banyak jambu. Langsung deh ikut terjun ke sana dan mencari buah yang matang. Pemandangan yang tampak dominan justru  buah jambu yang masih muda masih terbungkus plastik supaya tak diserang hama. Seorang ibu yang sudah dapat sekantong  memberikan satu buah jambu merah matang untukku. Eh dipetikkan lagi sama si bapak penjaga. Padahal kan kita mau merasakan sensasi metik sendiri langsung dari pohon pak. Memang di sini boleh petik jambu sendiri kok.

Sambil menimbang jambu si bapak kuajak ngobrol. Ia menceritakan asal mula pemilik kebun ini memulai usahanya setelah melihat kesuksesan petani apel di Batu Malang.  Tanah di Ngargoyoso ini terbukti cocok ditanami pohon jambu merah.  Keberhasilannya  kemudian diikuti oleh penduduk lainnya. Jambu merah ini katanya gampang ditanam dan cepat berbuah. Pohon berusia 10 bulan sudah bisa dipanen, buahnya pun besar dengan daging buah berwarna merah menyolok, biji tak terlalu banyak pula.   Ada yang bilang ini jenis jambu getas. Oh ya mau beli bibit pohon jambu  pun bisa.

 

wisata petik jambu

In action petik buah jambu merah, padahal sih itu buah yang sudah dipetikkan si bapak penjaga kebun.

Perkebunan ini ramai didatangi karena banyak fasilitas penunjang sarana rekreasi.  Olahan jambu pun dibuat beberapa variasi makanan, (melihat di spanduk saja sih), antara lain sari buah, sirup, pangsit, selai sampai kripik daun jambu. Kami hanya mengunjungi kebun, tak ke tempat  fasilitas lainnya.

Namanya pun masih di awal masa jalan-jalan, nggak bisa beli banyak buah. Siapa yang akan habiskan, jadi hanya beli seharga Rp 15.000,- saja. Harga per kilonya 7 ribu rupiah, tapi oleh  si bapak ke kantong kresekku ditambahkan lagi 3 buah jambu ukuran besar setelah kukatakan mau cerita di blog he.. he… Terima kasih pak.

Agrowisata Jambu Merah Ngargoyoso

Dukuh Candi RT 02/04 Desa Jatirejo Kec Ngargoyoso, Kab. Karanganyar

jambumerahngargoyoso@gmail.com

Telp : 085728513296   &  081241760588

Agrowisata Kebun Teh Kemuning

 

Kebun Teh Kemuning

 

Kebun Teh Kemuning  lokasinya di jalan utama menuju Candi Cetho, dan merupakan salah satu destinasi favorit di Kabupaten Karanganyar. Jaraknya  lebih kurang 25 kilometer dari kota Solo.  Jalan menuju ke sini khas wisata pegunungan, berkelok dan berliku naik turun. Letaknya yang di lereng gunung Lawu sehingga cukup dingin.

Kini di beberapa titik di Kebun Teh Kemuning dibuatkan dekorasi menarik yang menunjang banget buat wisata selfi. Salah satunya yang persis di pinggir jalan ada Lembah Katresnan. Lalu tak jauh di seberangnya di sebuah kali kecil dibuatkan jembatan dan aneka dekorasi dari bambu.

Di sepanjang jalan ini kulihat ada beberapa plang petunjuk wisata  river tubing. Cocok buat yang suka olahraga air. Daya tarik lainnya di sini ada restoran Rumah Teh Ndoro Donker yang cozy.

Agrowisata  Salak Pondoh Sleman 

Salak pondoh banyak digemari karena rasanya  gurih, manis,   berdaging tebal dan koyakan (gampang dilepas dari bijinya).  Pulang dari Jogja  salak pondoh ini  sering dijadikan  oleh-oleh untuk keluarga dan sahabat.

Kunjungan sebelumnya ke Jogja hanya sekedar melewati perkebunan salak saja, kali ini harus mampir dong. Dari Kaliurang pak supir mobil sewaan membawa kami ke dusun Gadung, desa Kebun Kerto, kecamatan Turi, Sleman. Makanya lebih dikenal dengan nama agrowisata Turi. Sepanjang jalan kebun salak di mana-mana.

Untuk masuk ke kawasan Agrowisata Turi  harus beli tiket masuk. Mau pilih dengan pemandu atau tidak.  Makan salak sepuasnya di dalam kebun  sambil  diantar pemandu seharga Rp 30.000,- per orang. Saat kami datang itu   hanya sedikit pohon salak yang masih berbuah, memang sudah lewat bulannya  berbuah. Masa terbaik Mei – Juni dan November – Desember.

Melewati sebuah kolam pemancingan bapak pemandu  cerita di pojok sebelah sana kolam pernah ditemukan arca yang sudah dibawa ke Jakarta. Di desa ini memang sering ditemukan artefak bersejarah.   Sebagian besar temuan itu disimpan di Situs Penampungan Turi,  sebuah kantor kecil dengan ruang terbuka persis berhadapan dengan kebun salak ini.

Agrowisata ini cukup luas, katanya berhektar-hektar. Kami menuju salah satu plot lahan salak yang sedang berbuah. Jarak antar pohon salak cukup lega. Pengunjung bisa jalan tegak  tak perlu terbungkuk menghindari duri pohon salak. Ada beberapa jenis buah salak di sini.  Buah salak  dengan warna kulit lebih  terang terasa lebih enak daripada  kulit lebih kehitaman. Masir kata   pak pemandu, he.. he..  malah jadi ingat telur asin Brebes  masir.  Bapak menunjukkan salak yang matang, lalu dengan sedikit waswas kena duri berhasil juga memetik salak. Wow banget rasanya,  jari nggak luka kok.  Salak dikupas dan langsung hap. Rasa buah segar yang baru dipetik ini beda banget deh, luar biasa enaknya.  Beberapa jenis buah dicoba  supaya tahu perbedaan rasanya.

 

Kebun Salak Pondoh " Kebun Salak Jogja"

Kusangka bibit salak pondoh itu hasil pemuliaan  benih di laboratorium seperti pisang Callina alias California. Ternyata tidak.  Jadi cara dapat bibitnya katanya pohon yang berbuah paling enak yang  dikembangbiakkan. Lalu turunan terbaik diperbanyak, begitu seterusnya sampai dapat salak pondoh yang dikenal sekarang.

Pak pemandu juga menerangkan cara  bagaimana mengawinkan salak agar cepat berbuah. Ia  menunjukkan mana bunga jantan dan betina. Setelah dikawinkan bunga betina dipayungi dengan helai daunnya supaya tidak terkena air hujan.

Katanya saat booming dulu harga sekilo salak bisa setara 1 gram emas, sekarang mah lesu. Agrowisata salak ini sudah tak seramai dulu, lahan parkir yang disiapkan untuk bis pariwisata jarang terisi.   Banyak hal kurasa yang bisa menurunkan jumlah kunjungan antara lain orang Indonesia itu pembosan, maunya selalu cari obyek yang terbaru saja. Yuk ah teman-teman ramaikan lagi agrowisata salak Turi ini, bantu para petani salak.

Fasilitas yang ada di agrowisata ini  antara lain kolam pemancingan, tempat bermain, tempat pertemuan dan sebagainya.

pohon salak pondoh

Tip beli salak pondoh

Di sini tidak bisa beli salak untuk bawa pulang. Pengunjung bisa beli salak di luar area. Kebetulan saat itu ada seorang ibu yang berjualan keliling jadi belinya nggak perlu jalan jauh.

Bila ingin bawa pulang salak untuk buah tangan pastikan salak  yang dibawa tak akan busuk  selama perjalanan. Pilih salak yang masih ada tandannya. Salak dibawa memakai keranjang bongsang bambu yang terbuka. Bila dimasukkan ke wadah tertutup maka salak akan cepat busuk.

Agrowisata  Lain di Kaliurang

Di daerah Kaliurang yang sejuk masih  ada agrowisata lainnya. Ada wisata ke kebun tanaman obat dan jamu godog yang pernah kami datangi beberapa tahun lalu dan masih ada sampai sekarang. Di tempat ini selain bisa jalan di kebunnya pun bisa minum jamu di warungnya sekalian tempat membeli jamu kemasan.

Lalu kami pun mampir ke  kebun buah naga, sayang sedang tak berbuah, jadi cuma sampai halaman parkir saja.

daun selada organik

Selada organik Amboja

Saatnya jam  makan siang kami cari restoran organik Amboja. Si bungsu masih ingat betul kelezatan nasinya yang pulen dan wangi.  Dia masih ingat makan di saung dengan kebun sayuran di sekitarnya. Disusuri pelan-pelan jalan Kaliurang itu, ternyata tak ada. Rasanya kulihat di lokasinya hanya ada bekas plang nama saja.

Coba dilacak ke tempat lain yang bernama Lahan Produksi Hidroponik Amboja di Kaliurang km 16,3. Mungkin pindah ke situ. Ternyata di tempat ini hanya ada para-para tempat memelihara sayur-sayuran hidroponik seperti selada dan sawi.  Menurut petugas kebun rumah makan Amboja sudah tutup sejak 3 tahun lalu. Si bungsu sangat kecewa. Yah sudahlah menghibur hati numpang lihat tanaman saja.  Menggiurkan banget lihat selada segar, rasanya pengen colek pakai sambal dan nasi hangat dan tempe goreng.

Lumayan ya dapat beberapa jenis agrowisata. Ada usul agrowisata  lainnya yang mirip seperti Agrowisata  Jambu Merah, Kebun Teh Kemuning dan Salak Pondoh Sleman buat kami datangi di jalan-jalan berikutnya?