Saat terbangun pagi hari bila sedang menginap di rumah opung yang terdengar pertama kali adalah suara-suara orang saling bercerita dan tercium aroma khas kopi. Dulu aku merasa terganggu, rasanya ingin bangun siang tapi tak bisa arena berisik. Aku keluar dari kamar bujing, tempatku tidur bila menginap di rumah opung. Aku ikut bergabung dengan orang-orang dewasa. Ada kedua opung, orang tuaku dan nantulang tua (nenek mamaku), bahkan kadang-kadang lebih ramai lagi bila ada saudara lain juga yang menginap.

Ruang terbuka  tak beratap di tengah rumah itu cukup luas dan  tetap jadi tempat berkumpul sepanjang hari, bila cuaca memungkinkan.  Di sisi barat ruang ini ada ruang makan, di timur dan selatan ada lorong  kamar  tidur dan dapur yang dibatasi dengan dinding berlubang hawa, dan sisi utara tembok tetangga. Lantai ruang ini hanya semen kasar dilengkapi  seperangkat meja kursi rotan. Ruang terbuka ini juga jadi tempat jemur, dan ruang masak memasak jika ada hajatan,  makanya di pojok dekat dapur ada bak cuci piring dan anglo, sedangkan  di pojok sana sebelah sana ada meja pingpong.

Di rumah ini ada kebiasaan berkumpul minum teh dan kopi sebelum sarapan. Opung godang (kakek) duduk menunggu koran-korannya datang baru dia pindah ke dalam untuk konsentrasi baca. Nantulang tua mengeluarkan perangkat makan sirihnya. Diambilnya dua helai daun sirih yang sudah dicuci, diolesi kapur sirih,  ditambah gambir yang sudah dipotong dengan gunting khusus, kemudian daun sirih digulung. Seringkali aku ikut makan sirih.., rasanya pedas pahit, tapi senang ketika lihat bibir jadi merah.., dan gigi juga he..he…

Rumah opung itu dibangun tahun 60an. Rumahnya berkamar banyak (8 kamar tidur) dan besar. Kamar utama  bisa memuat 2 tempat tidur king size, 2 lemari jati tiga pintu, ruang yang tersisa bahkan masih cukup untuk cucu-cucu main lari-larian. Ruang tamunya bisa memuat 3 set kursi tamu, ruang tengah ada 2 set meja makan dan sofa dari verneckel untuk nonton tv.  Rumah opung itu luas sekali, dalam rumah saja bisa main sepeda dari ujung ke ujung.

Aku masih ingat pada lantai warna merah tua yang selalu mengkilat, pintu besinya yang berat, dua lapis jendela dan pintu kamarnya. Lapis bagian dalam itu ada kawat nyamuknya.  Jendela lapis pertama itu berupa dua bilah jalusi. Jalusi bagian atas dibuka untuk membiarkan aliran udara masuk pada siang hari, jalusi bagian bawah jarang dibuka.  Semua jendela dan pintu terbuat dari kayu yang kokoh, sampai puluhan tahun setelah dibangun pun renovasi hanya mengganti atap yang bocor. Di pintu depan dan belakang, juga pintu yang mengarah ke ruang terbuka ada pengaman berupa pintu besi yang bisa dilipat ke samping. Bahkan  closetnya masih jamna dulu banget, reservoir airnya di  atas dan ditarik pakai rantai yang menggantung.

Rumah opung itu selalu jadi tempat berkumpul. Di halaman tengah atau di depan dapur itu jadi tempat mengobrol atau masak bareng, masak dalam jumlah banyak. Yang singgah setiap hari selalu ada saja dan sering tinggal sampai makan siang. Malam hari di ruang terbuka itu jadi tempat makan durian atau makan kerang rebus.  Dari luar kota yang merupakan sentra seafood  ada besan opung yang sering mengirimi sekarung besar kerang. Rebus kerang, buat sambal nanas dan menyantap kerang rebus ya di situ juga. Bapak-bapak sepuh juga sering datang berkumpul main catur di teras depan.

Setelah sarapan aku  main di halaman depan yang juga  luas, main di kolan ikan menangkap kecebong, panjat pohon mangga, jambu air dan jambu klutuk. Ada juga pohon belimbing wuluh dan pohon renda. Buah-buah masam dari kedua pohon ini sangat kusuka.   Terong susu yang berwarna kuning itu juga sering kupetik buat mainan. Opung dan mama sering juga ikut pindah duduk di teras depan melihat kami bermain, sambil nunggu tukang miso atau tukang roti lewat yang roti kelapanya dan selai srikayanya yang nikmat sekali. Itu akan jadi sarapan kedua buat anak-anak.

Semua kenangan ini kini selamanya akan tetap tinggal kenangan. Tak ada lagi kedua opungku yang tinggal di sana.  Rumah besar bercat putih dan kata sebagian orang berbentuk kapal  itu kini tak lagi milik keluarga kami, karena tak ada lagi keturunan opung yang tinggal di sana. Oleh pembelinya rumah itu tak dirubah sedikitpun dan sudah dijadikan  tempat usaha. Aku berharap suatu saat  bisa melihatnya dan bisa masuk ke dalamnya lagi. Mungkin aku akan berurai air mata ketika melihat  layar film masa lalu melintas di depanku, sama seperti ketika aku menuliskan ini.