Inginnya jadi seseorang yang tak banyak mengeluh, bisa menerima keadaan sulit, dan mampu cari jalan keluar tanpa terlalu banyak merepotkan orang lain. Hal yang terlalu ideal ya, senyaman-nyamannya, sekuat apapun tetap saja ada sesuatu yang bisa buat seseorang merasa tak nyaman.

Kapankah diriku merasa tak nyaman, merasa ada yang kurang? Ini 3 kejadian yang bikin aku tak nyaman saat bepergian :

IMG_6072.JPG
Yang pertama yang bisa buat tak nyaman itu saat melihat petunjuk bbm dalam tangki mobil sudah di garis terbawah, sudah hampir menjerit minta diisi.

Ada kejadian yang buat deg-degan banget. Ceritanya terjadi dalam perjalanan pulang setelah menghadiri kondangan di Semarang beberapa tahun lalu. Saat itu giliranku yang menyetir. Aku tersadar telah salah arah karena jalan semakin mengecil dan semakin sepi. Kiri kanan jalan sudah mulai banyak terlihat barisan pohon jati tinggi besar dan rapat. Pemandangan hutan jati ini tak ada saat berangkat dari Jakarta. Jalan melewati hutan jati itu terasa panjang sekali, terasa tak akan ada habisnya.

Hatiku mulai was-was karena kulihat jarum penunjuk persediaan bbm sudah hampir mencapai garis terbawah. Rasa tidak nyaman bukan hanya timbul dari isi tangki bensin yang kian berkurang, tapi juga ada rasa takut karena tidak kenal wilayah, takut pada desas desus daerah rawan. Alhamdulillah tak ada kejadian apa-apa sampai wilayah hutan jati Perhutani itu berakhir, aduuh senangnya, serasa akhirnya ketemu peradaban he..he.. Kejadian itu walau tak fatal tetapi bikin kapok, bila berjalan jauh tangki bensin harus selalu diisi lagi kala sudah setengah kosong.

Yang kedua yang bikin tak nyaman masih seputar kejadian di jalan. Aku tak suka jika pengemudi di belakangku memberi tanda segera maju dengan memainkan lampu besar sampai berkali-kali. Sinar lampu ini sungguh menyilaukan. Biasanya ini terjadi bila ada kemacetan di jalan. Pengemudi di belakang ingin cepat maju, ingin supaya tak ada kendaraan lain yang memotong jalur. Saat ada kesempatan dan mobil tadi sudah berada di depanku balas saja lagi dengan memainkan lampu supaya bisa merasakan ketidaknyamanan terkena lampu silau.

Yang ketiga yaitu aku tak nyaman naik perahu kecil seukuran sampan atau rakit. Aku takut air karena nggak lihai berenang, (kalau di kolam cuma sanggup merenangi selebar kolam renang itu saja). Naik perahu kecil bermotor dari Pantai Mutun di Lampung ke pulau kecil di seberangnya di laut berombak membuat takut. Perahu dijalankan dengan kecepatan tinggi dan pengemudinya masih remaja, membuat rasa tak nyaman semakin meningkat . Perahu motor berjalan membelah ombak, terasa seperti seolah-olah terbang ditambah lagi dengan percikan air laut yang menepuk pipi, alhasil selama di jalan deg-degan nggak karuan. Mendingan jalan-jalan cari wisata di darat sajalah.

Tulisan ini diikutsertakan pada Nadcissism 1st Giveaway